Tampilkan postingan dengan label Cerita Asik Dewasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Asik Dewasa. Tampilkan semua postingan

CERITA ASIK DEWASA | TETANGGA BUAS DAN LIAR

TETANGGA BUAS DAN LIAR


Tetangga Buas Dan Liar - seks mesum yang menceritakan tentang Tetangga Buas dan Liar. Seperti apa Cerita dewasa seks mesum yang menceritakan tentang Tetangga Buas dan Liar ini. Bagaimanakah selengkapnya Cerita dewasa seks mesum yang menceritakan tentang Tetangga Buas dan Liar ini, simak dibawah ini :

Kurasa tidak perlu aku ceritakan tentang nama dan asalku, serta tempat dan alamatku sekarang. Usiaku sekarang sudah mendekati empat puluh tahun, kalau dipikir-pikir seharusnya aku sudah punya anak, karena aku sudah menikah hampir lima belas tahun lamanya. Walaupun aku tidak begitu ganteng, aku cukup beruntung karena mendapat isteri yang menurutku sangat cantik. Bahkan dapat dikatakan dia yang tercantik di lingkunganku, yang biasanya menimbulkan kecemburuan para tetanggaku.
Isteriku bernama Resty. Ada satu kebiasaanku yang mungkin jarang orang lain miliki, yaitu keinginan sex yang tinggi. Mungkin para pembaca tidak percaya, kadang-kadang pada siang hari selagi ada tamu pun sering saya mengajak isteri saya sebentar ke kamar untuk melakukan hal itu. Yang anehnya, ternyata isteriku pun sangat menikmatinya. Walaupun demikian saya tidak pernah berniat jajan untuk mengimbangi kegilaanku pada sex. Mungkin karena belum punya anak, isteriku pun selalu siap setiap saat.
Kegilaan ini dimulai saat hadirnya tetangga baruku, entah siapa yang mulai, kami sangat akrab. Atau mungkin karena isteriku yang supel, sehingga cepat akrab dengan mereka. Suaminya juga sangat baik, usianya kira-kira sebaya denganku. Hanya isterinya, woow busyet.., selain masih muda juga cantik dan yang membuatku gila adalah bodynya yang wah, juga kulitnya sangat putih mulus.

Mereka pun sama seperti kami, belum mempunyai anak. Mereka pindah ke sini karena tugas baru suaminya yang ditempatkan perusahaannya yang baru membuka cabang di kota tempatku. Aku dan isteriku biasa memanggil mereka Mas Agus dan Mbak Rini. Selebihnya saya tidak tahu latar belakang mereka. Boleh dibilang kami seperti saudara saja karena hampir setiap hari kami ngobrol, yang terkadang di teras rumahnya atau sebaliknya.
Pada suatu malam, saya seperti biasanya berkunjung ke rumahnya, setelah ngobrol panjang lebar, Agus menawariku nonton VCD blue yang katanya baru dipinjamnya dari temannya. Aku pun tidak menolak karena selain belum jauh malam kegiatan lainnya pun tidak ada. Seperti biasanya, film blue tentu ceritanya itu-itu saja. Yang membuatku kaget, tiba-tiba isteri Agus ikut nonton bersama kami.

"Waduh, gimana ini Gus..? Nggak enak nih..!"
"Nggak apa-apalah Mas, toh itu tontonan kok, nggak bisa dipegang. Kalau Mas nggak keberatan, Mbak Res diajak sekalian." katanya menyebut isteriku. Aku tersinggung juga waktu itu. Tapi setelah kupikir-pikir, apa salahnya? Akhirnya aku pamit sebentar untuk memanggil isteriku yang tinggal sendirian di rumah.
"Gila kamu..! Apa enaknya nonton gituan kok sama tetangga..?" kata isteriku ketika kuajak. Akhirnya aku malu juga sama isteriku, kuputuskan untuk tidak kembali lagi ke rumah Agus. Mendingan langsung tidur saja supaya besok cepat bangun. Paginya aku tidak bertemu Agus, karena sudah lebih dahulu berangkat. Di teras rumahnya aku hanya melihat isterinya sedang minum teh. Ketika aku lewat, dia menanyaiku tentang yang tadi malam. Aku bilang Resty tidak mau kuajak sehingga aku langsung saja tidur.
Mataku jelalatan menatapinya. Busyet.., dasternya hampir transparan menampakkan lekuk tubuhnya yang sejak dulu menggodaku. Tapi ah.., mereka kan tetanggaku. Tapi dasar memang pikiranku sudah tidak beres, kutunda keberangkatanku ke kantor, aku kembali ke rumah menemui isteriku. Seperti biasanya kalau sudah begini aku langsung menarik isteriku ke tempat tidur. Mungkin karena sudah biasa Resty tidak banyak protes. Yang luar biasa adalah pagi ini aku benar-benar gila. Aku bergulat dengan isteriku seperti kesetanan. Kemaluan Resty kujilati sampai tuntas, bahkan kusedot sampai isteriku menjerit. Edan, kok aku sampai segila ini ya, padahal hari masih pagi.Tapi hal itu tidak terpikirkan olehku lagi.

Isteriku sampai terengah-engah menikmati apa yang kulakukan terhadapnya. Resty langsung memegang kemaluanku dan mengulumnya, entah kenikmatan apa yang kurasakan saat itu. Sungguh, tidak dapat kuceritakan.
"Mas.., sekarang Mas..!" pinta isteriku memelas. Akhirnya aku mendekatkan kemaluanku ke lubang kemaluan Resty. Dan tempat tidur kami pun ikut bergoyang.Setelah kami berdua sama-sama tergolek, tiba-tiba isteriku bertanya, "Kok Mas tiba-tiba nafsu banget sih..?"
Aku diam saja karena malu mengatakan bahwa sebenarnya Rini lah yang menaikkan tensiku pagi ini. Sorenya Agus datang ke rumahku, "Sepertinya Mas punya kelainan sepertiku ya..?" tanyanya setelah kami berbasa-basi.

"Maksudmu apa Gus..?" tanyaku heran.
"Isteriku tadi cerita, katanya tadi pagi dia melihat Mas dan Mbak Resty bergulat setelah ngobrol dengannya."
Loh, aku heran, dari mana Rini nampak kami melakukannya? Oh iya, baru kusadari ternyata jendela kamar kami saling berhadapan. Agus langsung menambahkan, "Nggak usah malu Mas, saya juga maniak Mas." katanya tanpa malu-malu.
"Begini saja Mas," tanpa harus memahami perasaanku, Agus langsung melanjutkan, "Aku punya ide, gimana kalau nanti malam kita bikin acara..?"
"Acara apa Gus?" tanyaku penasaran.
"Nanti malam kita bikin pesta di rumahmu, gimana..?"
"Pesta apaan..? Gila kamu."
"Pokoknya tenang aja Mas, kamu cuman nyediain makan dan musiknya aja Mas, nanti minumannya saya yang nyediain. Kita berempat aja, sekedar refresing ajalah Mas, kan Mas belum pernah mencobanya..?"

Ingin Daftar Permainan Games Judi Online Silahkan Saja Klik Dibawah Ini :


Malamnya, menjelang pukul 20.00, Agus bersama isterinya sudah ada di rumahku. Sambil makan dan minum, kami ngobrol tentang masa muda kami. Ternyata ada persamaan di antara kami, yaitu menyukai dan cenderung maniak pada sex. Diiringi musik yang disetel oleh isteriku, ada perasaan yang agak aneh kurasakan. Aku tidak dapat menjelaskan perasaan apa ini, mungkin pengaruh minuman yang dibawakan Agus dari rumahnya.
Tiba-tiba saja nafsuku bangkit, aku mendekati isteriku dan menariknya ke pangkuanku. Musik yang tidak begitu kencang terasa seperti menyelimuti pendengaranku. Kulihat Agus juga menarik isterinya dan menciumi bibirnya. Aku semakin terangsang, Resty juga semakin bergairah. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini. Tidak berapa lama Resty sudah telanjang bulat, entah kapan aku menelanjanginya. Sesaat aku merasa bersalah, kenapa aku melakukan hal ini di depan orang lain, tetapi kemudian hal itu tidak terpikirkan olehku lagi. Seolah-olah nafsuku sudah menggelegak mengalahkan pikiran normalku.
Kuperhatikan Agus perlahan-lahan mendudukkan Rini di meja yang ada di depan kami, mengangkat rok yang dikenakan isterinya, kemudian membukanya dengan cara mengangkatnya ke atas. Aku semakin tidak karuan memikirkan kenapa hal ini dapat terjadi di dalam rumahku. Tetapi itu hanya sepintas, berikutnya aku sudah menikmati permainan itu. Rini juga tinggal hanya mengenakan BH dan celana dalamnya saja, dan masih duduk di atas meja dengan lutut tertekuk dan terbuka menantang. Perlahan-lahan Agus membuka BH Rini, tampak dua bukit putih mulus menantang menyembul setelah penutupnya terbuka.
"Kegilaan apa lagi ini..?" batinku.

Seolah-olah Agus mengerti, karena selalu saya perhatikan menawarkan bergantian denganku. Kulihat isteriku yang masih terbaring di sofa dengan mulut terbuka menantang dengan nafas tersengal menahan nafsu yang menggelora, seolah-olah tidak keberatan bila posisiku digantikan oleh Agus. Kemudian kudekati Rini yang kini tinggal hanya mengenakan celana dalam. Dengan badan yang sedikit gemetar karena memang ini pengalaman pertamaku melakukannya dengan orang lain, kuraba pahanya yang putih mulus dengan lembut.
Sementara Agus kulihat semakin beringas menciumi sekujur tubuh Resty yang biasanya aku lah yang melakukannya. Perlahan-lahan jari-jemariku mendekati daerah kemaluan Rini. Kuelus bagian itu, walau masih tertutup celana dalam, tetapi aroma khas kemaluan wanita sudah terasa, dan bagian tersebut sudah mulai basah. Perlahan-lahan kulepas celana dalamnya dengan hati-hati sambil merebahkan badannya di atas meja. Nampak bulu-bulu yang belum begitu panjang menghiasi bagian yang berada di antara kedua paha Rini ini.

"Peluklah aku Mas, tolonglah Mas..!" erang Rini seolah sudah siap untuk melakukannya. Tetapi aku tidak melakukannya. Aku ingin memberikan kenikmatan yang betul-betul kenikmatan kepadanya malam ini. Kutatapi seluruh bagian tubuh Rini yang memang betul-betul sempurna. Biasanya aku hanya dapat melihatnya dari kejauhan, itu pun dengan terhalang pakaian. Berbeda kini bukan hanya melihat, tapi dapat menikmati. Sungguh, ini suatu yang tidak pernah terduga olehku. Seperti ingin melahapnya saja.
Kemudian kujilati seluruhnya tanpa sisa, sementara tangan kiriku meraba kemaluannya yang ditumbuhi bulu hitam halus yang tidak begitu tebal. Bagian ini terasa sangat lembut sekali, mulut kemaluannya sudah mulai basah. Perlahan kumasukkan jari telunjukku ke dalam.
"Sshh.., akh..!" Rini menggelinjang nikmat. Kuteruskan melakukannya, kini lebih dalam dan menggunakan dua jari, Rini mendesis. Kini mulutku menuju dua bukit menonjol di dada Rini, kuhisap bagian putingnya, tubuh Rini bergetar panas. Tiba-tiba tangannya meraih kemaluanku, menggenggam dengan kedua telapaknya seolah takut lepas. Posisi Rini sekarang berbaring miring, sementara aku berlutut, sehingga kemaluanku tepat ke mulutnya. Perlahan dia mulai menjilati kemaluanku. Gantian badanku sekarang yang bergetar hebat.

Rini memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. Ya ampun, hampir aku tidak sanggup menikmatinya. Luar biasa enaknya, sungguh..! Belum pernah kurasakan seperti ini. Sementara di atas Sofa Agus dan isteriku seperti membentuk angka 69. Resty ada di bawah sambil mengulum kemaluan Agus, sementara Agus menjilati kemaluan Resty. Napas kami berempat saling berkejaran, seolah-olah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan. Bunyi Music yang entah sudah beberapa lagu seolah menambah semangat kami.
Kini tiga jari kumasukkan ke dalam kemaluan Rini, dia melenguh hebat hingga kemaluanku terlepas dari mulutnya. Gantian aku sekarang yang menciumi kemaluannya. Kepalaku seperti terjepit di antara kedua belah pahanya yang mulus. Kujulurkan lidahku sepanjang-panjangnya dan kumasukkan ke dalam kemaluannya sambil kupermainkan di dalamnya. Aroma dan rasanya semakin memuncakkan nafsuku. Sekarang Rini terengah-engah dan kemudian menjerit tertahan meminta supaya aku segera memasukkan kemaluanku ke lubangnya.
Cepat-cepat kurengkuh kedua pahanya dan menariknya ke bibir meja, kutekuk lututnya dan kubuka pahanya lebar-lebar supaya aku dapat memasukkan kemaluanku sambil berjongkok. Perlahan-lahan kuarahkan senjataku menuju lubang milik Rini. Ketika kepala kemaluanku memasuki lubang itu, Rini mendesis, "Ssshh.., aahhk.., aduh enaknya..! Terus Mas, masukkan lagi akhh..!"

Dengan pasti kumasukkan lebih dalam sambil sesekali menarik sedikit dan mendorongnya lagi. Ada kenikmatan luar biasa yang kurasakan ketika aku melakukannya. Mungkin karena selama ini aku hanya melakukannya dengan isteriku, kali ini ada sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Tanganku sekarang sudah meremas payudara Rini dengan lembut sambil mengusapnya. Mulut Rini pun seperti megap-megap kenikmatan, segera kulumat bibir itu hingga Rini nyaris tidak dapat bernapas, kutindih dan kudekap sekuat-kuatnya hingga Rini berontak. Pelukanku semakin kuperketat, seolah-olah tidak akan lepas lagi. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh kami. Agus dan isteriku tidak kuperhatikan lagi. Yang kurasakan sekarang adalah sebuah petualangan yang belum pernah kulalui sebelumnya. Pantatku masih naik turun di antara kedua paha Rini.
Luar biasa kemaluan Rini ini, seperti ada penyedot saja di dalamnya. Kemaluanku seolah tertarik ke dalam. Dinding-dindingnya seperti lingkaran magnet saja. Mata Rini merem melek menikmati permainan ini. Erangannya tidak pernah putus, sementara helaan napasnya memburu terengah-engah.Posisi sekarang berubah, Rini sekarang membungkuk menghadap meja sambil memegang kedua sisi meja yang tadi tempat dia berbaring, sementara saya dari belakangnya dengan berdiri memasukkan kemaluanku. Hal ini cukup sulit, karena selain ukuran kemaluanku lumayan besar, lubang kemaluan Rini juga semakin ketat karena membungkuk.
Kukangkangkan kaki Rini dengan cara melebarkan jarak antara kedua kakinya. Perlahan kucoba memasukkan senjataku. Kali ini berhasil, tapi Rini melenguh nyaring, perlahan-lahan kudorong kemaluanku sambil sesekali menariknya. Lubangnya terasa sempit sekali. Beberapa saat, tiba-tiba ada cairan milik Rini membasahi lubang dan kemaluanku hingga terasa nikmat sekarang. Kembali kudorong senjataku dan kutarik sedikit. Goyanganku semakin lincah, pantatku maju mundur beraturan. Sepertinya Rini pun menikmati gaya ini.

Buah dada Rini bergoyang-goyang juga maju-mundur mengikuti irama yang berasal dari pantatku. Kuremas buah dada itu, kulihat Rini sudah tidak kuasa menahan sesuatu yang tidak kumengerti apa itu. Erangannya semakin panjang. Kecepatan pun kutambah, goyangan pinggul Rini semakin kuat. Tubuhku terasa semakin panas. Ada sesuatu yang terdorong dari dalam yang tidak kuasa aku menahannya. Sepertinya menjalar menuju kemaluanku. Aku masih berusaha menahannya.
Segera aku mencabut kemaluanku dan membopong tubuh Rini ke tempat yang lebih luas dan menyuruh Rini telentang di bentangan karpet. Secepatnya aku menindihnya sambil menekuk kedua kakinya sampai kedua ujung lututnya menempel ke perut, sehingga kini tampak kemaluan Rini menyembul mendongak ke atas menantangku. Segera kumasukkan senjataku kembali ke dalam lubang kemaluan Rini.
Pantatku kembali naik turun berirama, tapi kali ini lebih kencang seperti akan mencapai finis saja. Suara yang terdengar dari mulut Rini semakin tidak karuan, seolah menikmati setiap sesuatu yang kulakukan padanya. Tiba-tiba Rini memelukku sekuat-kuatnya. Goyanganku pun semakin menjadi. Aku pun berteriak sejadinya, terasa ada sesuatu keluar dari kemaluanku. Rini menggigit leherku sekuat-kuatnya, segera kurebut bibirnya dan menggigitnya sekuatnya, Rini menjerit kesakitan sambil bergetar hebat.

Mulutku terasa asin, ternyata bibir Rini berdarah, tapi seolah kami tidak memperdulikannya, kami seolah terikat kuat dan berguling-guling di lantai. Di atas sofa Agus dan isteriku ternyata juga sudah mencapai puncaknya.
Kulihat Resty tersenyum puas. Sementara Rini tidak mau melepaskan kemaluanku dari dalam kemaluannya, kedua ujung tumit kakinya masih menekan kedua pantatku. Tidak kusadari seluruh cairan yang keluar dari kemaluanku masuk ke liang milik Rini. Kulihat Rini tidak memperdulikannya. Perlahan-lahan otot-ototku mengendur, dan akhirnya kemaluanku terlepas dari kemaluan Rini. Rini tersenyum puas, walau kelelahan aku pun merasakan kenikmatan tiada tara. Resty juga tersenyum, hanya nampak malu-malu. Kemudian memunguti pakaiannya dan menuju kamar mandi.
Hingga saat ini peristiwa itu masih jelas dalam ingatanku. Agus dan Rini sekarang sudah pindah dan kembali ke Jakarta. Sesekali kami masih berhubungan lewat telepon. Mungkin aku tidak akan pernah melupakan peristiwa itu. Pernah suatu waktu Rini berkunjung ke rumah kami, kebetulan aku tidak ada di rumah. Dia hanya ketemu dengan isteriku. Seandainya saja..
..TAMAT..

Silahkan Klik langsung Di Bawah Ini : 

Bonus PromoNew Member 10%
 qqdomino

Bonus Referral Hingga 20%
 kiukiudomino

CERITA ASIK DEWASA | NAKALNYA MEMEK TANTEKU

NAKALNYA MEMEK TANTEKU

Nakalnya Memek Tanteku | Sebelumnya aku akan memberikan gambaran sekilas tentang tanteku ini. Tingginya sekitar 167-an, lingkar dadanya sekitar 34-an, pinggulnya 32-an, aku menambahkan “an” karena aku kurang tahu pasti besar masing-masing bagian tubuhnya itu.


Nakalnya Memek Tanteku - Kejadian itu terjadi di Denpasar Bali, tahun 1998, aku waktu itu kelas 3 SMU di salah satu SMU di Denpasar. Tapi sekarang aku kuliah di Jakarta di salah satu kampus yang tidak begitu terkenal di Jakarta. Aku memang sudah lama sekali sangat menginginkan tubuh tanteku itu, tapi butuh penantian yang lama, kira-kira sejak aku SMP. Mulailah kuceritakan isinya. Waktu itu sekitar jam 12.30 WITA, matahari benar-benar panasnya minta ampun, terus motorku endut-endutan. Wahh! benar-benar reseh dah. Tapi akhirnya aku sampai di kost-kostan, langsung saja aku ganti baju, terus sambil minum air Aqua, wuahh, segar tenan rek. Lalu tiba-tiba belum kurebahkan badan untuk istirahat handphone-ku bunyi, ternyata dari tanteku, lalu kujawab,
“Halo Tan, ada apa?”
“Kamu cepet dateng ya!” ucap tanteku.
“Sekarang?” tanyaku lagi.
“La iya-ya, masa besok, cepet yah!” ujar tanteku.

Lalu aku bergegas datang ke rumah tanteku itu.
Sesampainya di sana, kulihat rumahnya kok sepi, tidak seperti biasanya (biasanya ramai sekali), lalu kugedor pintu rumah tanteku. Tiba-tiba tanteku langsung teriak dari dalam. “Masuk aja Wa!” teriak tanteku. Oh ya, namaku Dewa. Lalu aku masuk langsung ke ruang TV. Terus aku tanya,
“Tante dimana sih?” tanyaku dengan nada agak keras.
“Lagi di kamar mandi, bentar ya Wa!” sahut tanteku.
Sambil menunggu tanteku mandi aku langsung menghidupkan VCD yang ada di bawah TV, dan menonton film yang ada di situ. Tidak lama kemudian tanteku selesai mandi lalu menghampiri aku di ruang TV. Oh my god! Tanteku memakai daster tipis tapi tidak transparan sih, tapi cetakan tubuhnya itu loh, wuiihh! Tapi perlu pembaca ketahui di keluargaku terutama tante-tanteku kalau lagi di rumah pakaiannya seksi-seksi.

Aku lanjutkan, lalu dia menegurku.
“Sorry ya Wa, Tante lama.”
“Oh, nggak papa Tante!” ujarku rada menahan birahi yang mulai naik.
“Oom kemana Tante?” tanyaku.
“Loh Oom kamu kan lagi ke Singaraja (salah satu kota di Bali),” jawab tanteku.
“Memangnya kamu nggak di kasih tau kalo di Singaraja ada orang nikah?” tanya tanteku lagi.
“Wah nggak tau Tante, Dewa sibuk sih,” jawabku.
“Eh Wa, kamu nggak usah tidur di kos-an yah, temenin Tante di sini, soalnya Tante takut kalo sendiri, ya Wa?” tanya tanteku sedikit merayu.
Wow, mimpi apa aku semalam kok tanteku mengajak tidur di rumahnya, tidak biasanya, pikirku.
“Tante kok nggak ikut?” tanyaku memancing.
“Males Wa,” jawab tanteku enteng.
“Ooo, ya udah, terus Dewa tidur dimana Tan?” tanyaku lagi.
“Mmm.. di kamar Tante aja, biar kita bisa ngobrol sambil nonton film, di kamar Tante ada film baru tuh!” ujar tanteku.
Oh god! what a miracle it this. Gila aku tidak menyangka aku bisa tidur sekamar, satu tempat tidur lagi, pikirku.
“Oke deh!” sahutku dengan girang.
Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan pukul enam sore.
“Waa..! Dewaa..! udah mandi belum?” teriak tanteku memanggil.
“Bentar Tan!” jawabku.

Memang saat itu aku sedang membersihkan motor, melap motor adalah kebiasaanku, karena aku berprinsip kalau motor bersih terawat harga jualnya pasti tinggi. Pada saat itu pikiran kotorku dalam sekejap hilang. Setelah melap motor, aku bergegas mandi. Di kamar mandi tiba-tiba pikiran kotorku muncul lagi, aku berpikir dan mengkhayalkan kemaluan tanteku, “Gimana rasanya ya?” khayalku. Terus aku berusaha menghilangkan lagi pikiran itu, tapi kok tidak bisa-bisa. Akhirnya aku mengambil keputusan dari pada nafsuku kupendam terus entar aku macam-macam, wah pokoknya bisa gawat. Akhirnya aku onani di kamar mandi. Pas waktu di puncak-puncaknya aku onani, tiba-tiba pintu kamar mandi ada yang mengetuk. Kontan saja aku kaget, ternyata yang masuk itu adalah tanteku. Mana pas bugil, sedang tegang lagi kemaluanku, wah gawat!
“Sibuk ya Wa?” tanya tanteku sambil senyum manja.
“Eh.. mm.. so.. so.. sorry Tan, lupa ngunci,” jawabku gugup.
Tapi sebenarnya aku bangga, bisa menunjukkan batang kemaluanku pada tanteku. Panjang batang kemaluanku pas keadaan puncak bisa mencapai 15 cm, pokoknya “international size” deh.

“Oh nggak papa, cepetan deh mandinya, terus langsung ke kamar ya, ada yang pengen Tante omongin.”
“Oh my god, marah deh Tante, wah gawat nih,” pikirku.
Lalu aku cepat-cepat mandi, terus berpakaian di dalam kamar mandi juga, tidak sempat deh melanjutkan onani, padahal sudah di puncak.
Setibanya di kamar tanteku, aku melihat tante memakai celana pendek, sangat pendek, ketat, pokoknya seksi sekali, terus aku bertanya,
“Ada apa Tan, kayaknya gawat banget sih?” tanyaku takut-takut sambil duduk di atas tempat tidur.
“Enggak, Tante pengen cerita, tentang Oom-mu itu lho,” ujar tanteku.
“Emangnya Oom kenapa Tan?” tanyaku lagi.
Dalam hatiku sebenarnya aku sudah tahu oom itu orangnya agak lemah, jadi aku berharap tante menawarkan kemaluannya padaku. Dengan seksama aku medengarkan cerita tanteku itu.

“Sebenernya Tante nggak begitu bahagia sama Oom-mu itu, tapi dibilang nggak bahagia nggak juga, sebabnya Oom-mu itu orangnya setia, tanggung jawab, dan pengertian, yang bikin Tante ngomong bahwa Tante nggak bahagia itu adalah masalah urusan ranjang,” ujar tanteku panjang lebar.

Ingin Daftar Permainan Games Judi Online Silahkan Saja Klik Dibawah Ini :


“Maksud Tante?” tanyaku lagi.
“Ya ampun, masih nggak ngerti juga, maksud Tante, Oom-mu itu kalo diajak begituan suka cepet nge-down, nah ngertikan?” tanya tanteku meyakinkan aku.
“Ooo..” ucapku pura-pura tidak mengerti.
“Mmm.. Wa, mau nggak nolongin Tante?” tanya tanteku dengan nada memelas.
“Bantu apa Tan?” tanyaku lagi.
“Kan hari ini sepi, terus Oom-mu kan nggak ada, juga sekarang Tante lagi terangsang nih, mau nggak kamu main sama Tante?” tanya tanteku sembari mendekatkan tubuhnya kepadaku.
Gila! Ternyata benar juga yang aku khayalkan, Tanteku minta! Cihui! ups tapi jangan sampai aku terlihat nafsu juga, pikirku dalam-dalam.
“Tapi Dewa takut Tante, nanti ada yang ngeliat gimana?” ucapku polos.
“Loh..! kan kamu ngeliat sendiri, emang di sini ada siapa? kan nggak ada siapa-siapa,” jawab tanteku meyakinkan.
“Ya udah deh,” ujar tanteku sambil memulai dengan menempelkan tangannya ke kemaluanku yang sebenarnya sudah menegang dari tadi.
“Wow.. gede juga ya! Buka dong celanamu Wa!” ujar tanteku mesra.

Lalu kubuka celanaku dengan cepat-cepat, dengan cepat pula tanteku memegang kemaluanku yang sudah over size itu. Sambil mengocok batang kemaluanku dengan tangan kirinya, tangan kanan tanteku memegang payudaranya dan mengeluarkan bunyi-bunyi yang merangsang. “Emf.. ehm.. mm.. gede banget kemaluanmu Wa!” ujar tanteku.
Aku tidak terlalu mendengarkan omongan tanteku, soalnya aku sudah “over” sekali. Lalu tanteku mulai menempelkan kemaluanku ke mulutnya, dan dengan seketika sudah dilumatnya batang kemaluanku itu.
“Oh God! Eh.. eh.. ehm.. e.. nak.. Tante.. terus Tan..!” ujarku merasakan nikmatnya kuluman tanteku itu. Tanteku lalu merebahkan tubuhku di atas ranjangnya, lalu dengan ganas ia menyedot batang kemaluanku itu, lalu ia memutar tubuhnya dan meletakkan liang kemaluannya di atas mukaku tanpa melepaskan kemaluanku dari mulutnya. Dengan sigap aku langsung menjilat liang kemaluan tanteku. Merasakan itu tanteku mengerang keenakan. “Aaah.. Wa.. enak.. terus Wa.. terus jilat..!” erang tanteku keras-keras. Mendengar itu, nafsuku makin bertambah, dengan nafsu yang menggebu jilatan ke kemaluannya kutingkatkan lagi, dan akibatnya tanteku mengalami orgasme yang dahsyat, sampai-sampai mukaku kena semprotan cairan kewanitaannya. “Oh Dewa.. Tante sayang kamu.. uh.. ka.. ka.. mu ponakan Tante paling.. hee.. bat.. aah,” puji tanteku sambil mengerang merasakan nikmat.

Aku merasa bangga karena aku masih bertahan, lalu aku membalikkan tubuh tanteku sehingga ia terlentang. Kuangkat kedua kakinya sehingga terpampanglah liang kemaluannya berwarna pink merekah. Sebelum aku mulai menu utamanya, pertama aku melucuti pakaiannya terlebih dahulu, setelah terbuka, aku mulai memainkan mulutku di puting payudaranya, dan kemaluanku yang telah “over” tadi kuletakkan di atas perutnya sambil menggesek-gesekkannya. Perlahan aku menciumi tubuh tanteku dengan arah menurun, mulai dari puting terus ke perut lalu ke paha sampai akhirnya tiba di bibir kemaluannya. Dengan penuh nafsu aku menjilat, menyedot, sampai menggigit saking gemasnya, dan rupanya tanteku akan mengalami orgasmenya lagi. “Ooohh.. Waa.. Tante mau kee.. luu.. aar! Aaah..!” erang tanteku lagi sambil menjambak rambut kepalaku sehingga wajahku terbenam di kemaluannya. “Wa, udah ah, Tante nggak kuat lagi, Oom-mu mana bisa kayak gini, udah deh Wa, lansung aja tante pengen langsung ngerasain itu-mu.”
Tubuhnya kutopang dengan tangan kiri, sementara tangan kiri membimbing batang kemaluanku mencari sarangnya. Melihatku kesulitan mencari liang kemaluan tanteku, akhirnya tanteku yang membimbing untuk memasukkan batang kemaluaku ke liang kemaluannya. Setelah menempel di lubangnya, perlahan kudorong masuk batang kemaluanku, dorongan itu diiringi dengan desahan tanteku. “Egghmm.. terus Waa.. pelan tapi terus Wa.. egghhmm..!” desahan tanteku begitu merangsang. Aku sebenarnya tidak senang dengan permainan yang perlahan. Akhirnya dengan tiba-tiba dorongan batang kemaluanku, kukeraskan sehingga tanteku teriak kesakitan. “Aaahh.. Waa.. saakitt.. pelan-pelan.. aargghh..” teriak tanteku menahan sakitnya itu. Dan tidak percuma, batang kemaluanku langsung terbenam di dalam liang kehormatannya itu. Setelah itu batang kemaluanku, aku maju-mundurkan perlahan, untuk mencari kenikmatan.

Dengan gerakan perlahan itu akhirnya tanteku menikmati kembali permainan itu. “Ah.. uh.. terus Wa.. enak sekali.. itu-mu gede sekali.. egghh.. lebih enak dari Oom-mu itu.. terus Waa..” erang tanteku keenakan. Lalu lama-lama aku mulai mempercepat gerakan maju-mundur, dan itu mendapat reaksi yang dahsyat dari tanteku, ia juga mulai memainkan pinggulnya, hingga terasa batang kemaluanku mulai berdenyut,
“Tan.. saya mauu.. kelu.. arr.. nih..!”
“Di dalam aja Waa.. Tante.. juugaa.. mauu keeluaarr.. aarrgghh..!”
Akhirnya kami keluar bersama-sama, kira-kira enam kali semprotan aku mengeluarkan sperma. Aaahh.. begitu nikmatnya.

Setelah itu kucabut batang kemaluanku dari liang kemaluan tanteku, terus kuberikan ke mulut tanteku untuk dibersihkan. Dengan ganas tanteku menjilati spermaku yang masih ada di kepala kemaluanku hingga bersih. Setelah itu tanteku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dan aku tetap berada di kamar, tiduran melepas lelah. Setelah tanteku selesai membersihkan diri, ia kembali ke kamar dan segera mencium bibirku, lalu ia bilang bahwa selama oom-ku di Singaraja, aku diharuskan tinggal di rumah tanteku dan aku jelas mengiyakan. Lalu tante juga bertanya apakah keadaan kostku bebas, maka kujawab iya. Lalu tante bilang bahwa kalau misalnya oom-ku ada di rumah, terus tanteku ingin main denganku, tanteku akan mencariku ke kost, aku hanya manggut-manggut senang saja. Demikianlah pengalamanku dengan tante sendiri

Silahkan Klik langsung Di Bawah Ini : 

Bonus PromoNew Member 10%
 qqdomino

Bonus Referral Hingga 20%
 kiukiudomino

CERITA ASIK DEWASA | ABG KOCOKAN TERNIKMAT ANAK SEKOLAH

ABG KOCOKAN TERNIKMAT ANAK SEKOLAH


ABG Kocokan Ternikmat Anak Sekolah - Ini dia Cerita sex terbaru yang bercerita tentang Gadis SMAA bernama Putri yang kocokanya bikin aku klepek-klepek.

Waktu itu adalah hari ulang tahun sekolah tempat gue belajar 2,5 tahun belakangan ini. cerita sex terbaru- hari jadi sekolah merupakan hari yang sangat bahagia bagi para siswa siswi yang sekolah disana kerana kami semua ga dapet belajar tentunya dan udah dari 3 hari sebelumnya melakukan berbagai persiapan untuk acara hari itu!

Pada hari jadinya sekolah kami mengadakan berbagai acara yang sangat heboh dan ga kalah seru pastinya sob! mulai dari pentas musik aneka band, aneka lomba-lomba seperti lomba antar kelas sampai lomba modern dance.

Cerita Asik dewasa terbaru, Namun lomba modern dance ini tidak diadakan antar kelas, tetapi antar angkatan yang bikin acara ini menjadi seru dan meriah adalah suporter dari masing-masing kelas dan angkatan yang saling adu mulut sampai adu jotos untuk team yang mereka jagokan!biasalah anak muda seperti kami egonya lagi tinggi-tingginya

Oke kembali ke acara ultah sekolah gue ini dimulai dari jam 9 pagi.-cerita mesum terbaru- Namun gue datang pukul 11 siang! hehe.. maklum lah anak bandel yang suka nyari sensasi dan sengaja gue datangnya telat hanya untuk nonton band-band ibu kota dan menyaksikan lomba modern dance saja. Dan akhirnya saat yang dinanti datang juga.

Modern dance angkatan kelas 3 yaitu angkatan gue sendiri yang beranggotakan 5 orang. Namun yang gue kenal dekat hanya Putri yang memiliki nama lengkap Putri hermansyah. ohhh ya gue kok sudah mengenalin orang lain padahal gue aja belum kenalan!hhehee..nama gue Boy sob nama panjangnya ga usah deh ya jelek soalnya.

Acarapun dimulai dari penampilan kelas 1 lalu diikuti kelas 2 dan yang menjadi penutup adalah kelas 3. Mereka mulai masuk ke tengah lapangan.-cerita hot- Pakaian yang mereka kenakan cukup sexy. Walaupun di bagian perutnya tidak terbuka. Pakaian yang mereka kenakan cukup ketat pastinya, menonjolkan buah dada mereka yang baru ‘tumbuh’.

Cukup membuat mata siswa laki-laki melotot. Dengan diiringi lagu-lagu techno mereka semua yang muda belia seumuran gue meliuk-liukan badannya dengan sexy. Seiring lompatan-lompatan atau gerakan-gerakan sexy mereka buah dada mereka bergoyang-goyang indah dan bergetar-getar!indahnya serasa dunia saat itu

Mata saya hanya tertuju pada Putri seorang. Selain karena wajahnya yang cantik, ia juga memiliki buah dada yang cukup sexy tentunya. Rambutnya yang tergerai panjang menambah seksi tubuh indahnya. Walaupun ada pula teman 1 tim dancernya yang saya pikir cukup bohai juga.

Mulai dari buah dada yang lebih besar dari Putri, ia juga memiliki paha yang gempal. Namun perhatian gue tetap tertuju pada Putri. Wajar aja gue merhatiin terus, menurut gue dia cewek paling seksi secara fisik maupun non. Setelah mereka bermodern dance ria dan membangkitkan gairah pada laki-laki, dengan keringat bercucuran di kening, leher dan bagian-bagian lainnya, mereka segera berganti baju.

Putri segera menuju kelas untuk kembali mengenakn seragamnya. Seiring langkahnya berjalan, payudaranya yang baru tumbuh bergoyang-goyang. Kemudian setelah ia mengambil pakaian ganti dari tasnya, ia pun menuju ke wc untuk berganti baju.

Lalu gue ikutin dia dari belakang. Terlihat, tali branya nyeplak karena keringat yang basah ke tubuhnya. wowww sedapnyo. Setelah masuk itu, ia masuk ke kamar mandi. Tanpa ia sadari bra dan celana dalemnya yang berwarna hitam jatuh di depan pintu kamar mandi.

Gue pun langsung saja mengambil bra an cdnya yang jatuh tersebut dan langsung gue pegang. Gue pun masuk ke kamar mandi cowo dengan tujuan mau kencing tanpa maksud untuk menyembunyikan ke dua barang tersebut. Di dalam pikiran gue, gue akan berikan setelah gue kencing.

Setelah gue kencing, gue liat Putri mondar-mandir di sekitar kamar mandi. Langsung aja gue tegor,

“Nyari apa Putri?”
“Eh lo Boy, ini nih gue nyari bh sama cd gue, lo lyat gak?”
“Ohhh, ini mksd lo?” Langsung gue tunjukin bra dan cdnya.
“Iya, ni dia yang gue cari. Ni lo nemu dimana?”
“Ni tadi jatoh. Lo ga tau…”
“Oh yaudah, thanks ya Boy.
“Iya sama-sama Putri.”
“Yaudah deh, gue mo ganti baju dulu yah. Gerah banget nih.”
“Ngapain Putri?”

“Ganti baaajuuu… kenapa?? Mo ikuuut??” Tanya Putri nakal.
“Hhhee. Emg boleh Putri??”
“Hmmm…” dia ngeliat ke sekitar. Setelah itu dia langsung nyruh masuk gue untuk 1 kamar mandi dengannya.
“Ywdh yuk masuk.”
“Putri, gue mo kencing dulu yah. Lo jangan ngintip.” Langsung gue buka clana gue sambil ngebelakangin Putri. Terus kencing. dan Tiba-tiba Putri berkata
“Oh my god. Gede banget Boy barang (Penis gue) lo” Gue pun kaget.

“Putri, dibilang jangan ngintip. Ko ngintip sih?”
“Hhehe. Sori Boy, abis gak sengaja… hehee boong ding, gue penasaran aja pengen liat…”
“Ah, dsar lo Putri. Ywdh, ganti baju tadi katanya mo ganti baju?”
“Yaudah”Gue pun memakai clana gue lagi.

Putri pun sibuk membuka baju dancenya. Terus celananya. Terus branya. Lalu cdnya.
Gue pun merhatiin semuanya.

“Eh Boy, jgn ngeliatin ke sini dong.” Sambil ia menutupi toketnya yang sekel dengan tangan kirinya. Terus memiawnya juga ditutupin sama cdnya yang baru dibuka.
“Hehehe. gue penasaran juga Putri…”
“Penasaran??”
“Iya”
“Lo juga tadi penasaran sama barang gue kan?”
“Iya sih” sambil ia senyum-senyum.
“Putri, gue mo remes-remes toket lo dong. Boleh ga?”
“Ha? Tai lo Boy. Emang lo siapa gue!!”
“Bentar aja Putri”

“Tapi gue juga pegang-pegang barang lo ya Boy? Biar adil.”
“Oh yaudah” dan gue pun ngebuka resleting gue. Nyingkap CD gue. Terus ngeluarin Penis gue.

Gue dengan semangat ngeremes-ngremes buah dada Putri yang sekel. Tapi dia agak takut-takut buat megang Penis gue.

“kenapa Putri? Pegang dong… gue aja udah megang toket lo nih. Sekel banget sih Putri toket lo?”
“Ihh, gue baru pertama nih megang barang cowo. Hahaha.”
“Sstt. Jgn kenceng2 ktawanya…”

Ingin Daftar Permainan Games Judi Online Silahkan Saja Klik Dibawah Ini :


dan gue mencoba membawa tangannya buat megang Penis gue secara pelan-pelan dan sedikit paksaan akhirnya, Penis gue pun tersentuh oleh tangan Putri.

“Oowwhhh… kocok-kocok dong Putri…” Pinta gue.

Dia pun agak malu-malu pas mau ngocok Penis gue.
Akhirnya pelan2 dia kocok Penis gue. gue pun sambil ngeremes2 toket dia.

“Owwhhh… enak Putri… agak kenceng dong megangnya…”
“Iya… ohh gede bgt sih Boy?? Lo dah ngaceng ya nih??”
“Iya udah lah. Secara gue ngeremes2 toket lo udah nafsu gini. Pasti dah ngaceng.”
“Putri… gue isep yah toket lo??”
“Ihh, gila lo ah.”
“Bentar…”

“Yaudah… nih…” ia pun menyodorkan toketnya ke mulut gue. Tapi ia ngelepasin kocokannya dari Penis gue.
“Putri, sambil kocokin Penis gue juga dong. Jangan berenti…”
“Uwhh… iya iya… cerewet lo ahh…” Dia pun ngocok Penis gue agak cepet.
“Aahhhh… ohhhh… enak Putrii…” suara gue mendesah. Terus gue kenyot2 toketny.
“Ahhh… yang cepet lagi Putri… oohh… uuhhh… ssshhh…” sambil gue kulum lehernya, terus ke bibirnya.
“Putri, sepongin dong sebentar…”
“Ha?”

“Sepongiiin… masukin Penis gue ke mulut lo… terus kocokin pake mulut lo…”
“Aaahhh!! Gak ahh!! Pake tangan aja yah Boy? Nnti kapan-kapan deh.” Putri nolak.
“Bentar Putrii… pengen nihh…” gue memohon.
“Ah lo Boy. Yaudah, tp bentar aja ya”
“iya, sampe keluar…”
“Ahh, tp peju lo jgn dikeluarin dimulut gue!!”
“Iya, gak… nnti kalo gue dah mau muncrat gue cabut Penis gue dari mulut lo…”
“Yaudah, maen cepet yaa. Takut dicurigain nih gue ntar sama anak-anak yang laen.”
“iya” jwab gue.

Putri pun jongkok di depan gue. Mulutnya pas banget udah berhadepan sama Penis gue.
Gue pun menyodorkan Penis gue ke mulutnya. Putri pun tanpa ragu lagi membuka mulutnya lebar2. gue terus dorong semua Penis gue masuk ke mulutnya Putri. Setelah itu dia rapetin mulutnya dan mulai menggerakan mulutnya maju mundur sambil skali-kali mainin lidah dan bibirnya buat mijet-mijet Penis gue.

Penis gue kerasa agak–agak anget. Terus juga ada rasa-rasa lembek-lembek enak yang berasal dari lidahnya.
Itu semua gue imbangin dengan ikut gerak-gerakin Penis gue maju mundur.

“Ooohh… Putriiii… enaaaaaakkk… mmmhhhhhh… ooohhh… sshhhh…” sambil gue belai-belai rambutny yang ga terlalu panjang.
“mmmmpphhhh… mmmppphhhh… mmpphh…” Putri pun mendesah sambil terus nyepongin Penis gue.
“Ooohhhhhhhhh… teeruusss Putriiii… ooohhh… eeennnaaakkk… terus Putri…”
“mmmpphhhh… mmmppphhhh…”
“Cepetin lagii Putriiii…” pinta gue.
“Mmmhhh… mhhhh… mmmhhhhhhmmhhhh…” Putri pun sedkit agak kewalahan nyepongin Penis gue.
“Aaahhhh… ooouhhhcchhh… enak Putriii… oowwwhhhwwwwwhhh… sshhhhhh”

Putri pun semakin mempercepat kocokan mulutnya di mulut gue. Gue pun mengimbangin dengan memajumundurkan Penis gue di mulutnya.

Saking terasa cepatnya. Akhirnya gue udah ngerasain kalo peju gue mau keluar.

“Aaohhh… Putriii… gue mau keluar nihhhh…”

Dengan cepat dia ngelepasin mulutnya dari Penis gue. Terus dia berdiri dari yang sebelumnya pas nyepongin gue dalam posisi jongkok. Gue pun meraih tangan kanannya. Terus gue tuntun buat megang Penis gue yang udah ngaceng banget krn mau keluar.

“Kocokin yang cepet Putri…”

Putri pun mengocok Penis gue cepet. Pas dia lagi ngocokin Penis gue, gue kissing bibirnya yang imut2, sambil kadang2 gue remes2 toketnya yang sekel gak terlalu gede. Cerita Dewasa Kocokan Hot Anak Sekolah

Akhirnya setelah kira-kira 3 menit dikocokin pake tangannya.

“Aaarrghhhh… cchhaaaaaa… gue mauuu keluarrrrr nihh…”
“Uwwhh, yaudah keluarin aja Boy…” dia pun ngarahin Penis gue ke wc biar peju gue nnti langsung ke buang ke lubang wc tanpa berceceran di lantai.
“Aaarghhh… oooooooooouhhhhhhhh… sssssssshhhhhhhhhhh… aaaaah… gue keluar Putriii…” akhirnya peju gue pun keluar.

Peju gue muncrat 6x. dari mulai banyak sampe keluar setetes setetes.

“Oouhwwww… gila Boy, banyak banget peju lo… duuhh kena tangan gue lagi nih…” Putri pun ngelepasin tangannya dari Penis gue.

Terus dia ngebersihin tangannya yang kena peju gue sedikit pake aer di gayung.

“Uuffhh… iya nih Putri, udah lama sih gue gak colai… tapi akhirnya sekarang gue malah dicoliin sama lo… capek nih Putri… Putri bersihin dong peju gue nih dikit lagi pake mulut lo…” pinta gue kea ca.
“Apa?” Putri kaget.
“Jilatin dikit nih ujung Penis gue, kan masih ad sisa2 pejunya…”
“Ih males. Gak ah. Jijik gue.”

“Yah, tanggung nih Putri… dikit lagi”
“Gak. Nnti aja yah kapan-kpan Boy…” Putri memberi harapan.
“Huh. Dsar lo Putri. Tanggung juga nih. Yaudah deh.”
“Nih gue bersihin peju lo yang di sini aja nih.” Kata Putri sambil nyiramin aer ke dalem wc yang sebelumnya banyak peju gue.

Setelah nyiramin peju gue yang berceceran di wc, Putri pun kembali berganti baju. Begitu juga gue. Gue pun memakai celana dalem gue lagi kemudian resleting celana panjang gue.

Gue perhatiin Putri. Ia keliatan seksi banget. Satu persatu ia kenakan pakaiannya. Mulai dari celana dalemnya yang berwana hitam. Branya yang juga berwarna hitam. Namun ia agak kesulitan saat akan mengaitkan branya. Lalu ia pun meminta tolong gue.

“Boy tolong pakein dong.” Ia pun membelakangi gue meminta mengaitkan pengait branya.
“Tapi ada syaratnya yaa…” ucap gue ngeledek.
“Syarat apaan?”
“Tebak dong”

“Hmmm apa ya. Ga tau ah! Udah cepetan pakein!!” ia pun agak sedikit ngotot.
“Itu tuh.” Gue pun menunjuk ke arah memiawnya.
“Ohh ini… lo mau ngewe sama gue?” Putri pun bertanya dengan nada agak sedikit kaget.
“Iaa, gue pengen ngewe sama lo Putri… blh ga?”
“Anjjrriitttt lo Boy, apa masih kurang yang skrg?”
“Kurang laaaah… gue mau nyicipin tubuh lo pake Penis gue…”
“Aaaaaaaahhh!”

“Sssstt, jgn kenceng-kenceng Putri… Ayoo dong Putriiiii… kapan-kapan yaaahh?? Ga sekarang kok…” ucap gue memohon lagi.
“Gue masih virgin laaahh Boyyy.”
“Ahh yakinnn lo??”
“IYA!”
“Kalo dari toket lo yang gue pegang tadi sih kayanya lo udah ga virgin deh…”
“Hah? Tau dari mana lo???”
“Ya tau laaahh, kalo toket cewe yang udah ga virgin tuh udah agak kendor sedikit, ga terlalu sekel banget…”
“Hahhha gila ya lo, kayanya udah ahli banget nih soal beginian”. Sambil dia sibuk merapikan bajunya.
“Iya dong, makanya kapan-kapan mau nyoba ngewe sama gue ga?”

“Hmmm gimana yaaaaa, yaa liat nanti aja deehhh”. Sambil berkaca di cermin kecil sambil merapikan rambut dan poninya.
“Yawdahhh nnti kapan-kapan kita coba yaa??” Ucap gue memastikan.
“Iya ahh, yaudah, gue mau balik ke anak-anak dulu nih. Natar gue dicurigain lagi ganti baju doang kok lama banget.” Dia pun membuka pintu dan keluar dari kamar mandi.
“Sipp, ati-ati lo. Thankss Putrii atas handjob dan blowjob lo… Hehhhe”
“Haahh, bakalan enak nih kalo seandainya nanti gue ML sama dia” Pikir gue.

dan setelah berapa menit gue keluar dari toilet tersebut perasaan menyesal pun datang menghampiri! biasalah penyesalan selalu datangnya belakangan dan ga pernah duluan! menyesal kenapa Boy? he…menyesal kenapa ya ga gue paksa Putri untuk langsung aja ngajakin ngentot!hahahaha…

sambil ngebayangin seandainya pas didalam toilet cewek tersebut gue ngentot sama Putri, tapi gue punya obsesi untuk ngedapetin perawan si Putri bagaimapun caranya gue harus yang pertama meniduri dia kalau masih perawan! OK deh sob segitu dulu cerita sex terbaru dari gue, makasih,.

Silahkan Klik langsung Di Bawah Ini : 

Bonus PromoNew Member 10%
 qqdomino

Bonus Referral Hingga 20%
 kiukiudomino

CERITA ASIK DEWASA | DELLA GADIS MUNGIL BERNAFSU LIAR

DELLA GADIS MUNGIL BERNAFSU LIAR


Cerita Asik Dewasa : Della Gadis Mungil Bernafsu Liar, Perkenalanku dengan Della terjadi pada sekitar tahun 1998. Della saat itu berusia 29 tahun, telah bersuami dengan 2 orang anak, tinggi 160 cm, 47 kg, bodi sangat sintal dan dada berukuran 34B.

Sebagai seorang wanita keraton berdarah biru, Della adalah wanita yang lugu dalam hubungan sex namun dia adalah seorang wanita tipe penggoda dan berani dalam berpakaian. Tidak jarang dia ke kantor dengan menggunakan rok sangat mini hingga memperlihatkan bentuk kakinya yang indah dan jarang mengenakan BH. Hal ini aku ketahui dari ceritanya sendiri. Pada awalnya kami bersahabat akrab tanpa orientasi berhubungan sex. Dia punya seorang pacar selain suaminya. Sering kami membicarakan teknik-teknik bagaimana dia melakukan hubungan sex dengan sang pacar yang aku nilai masih konvensional.

Beberapa kali kami pergi ke cafe-cafe sepulang kantor (kantor kami berlainan) sekedar melepas penat dan menunggu macet. Setiap kali mengunjungi cafe, mata para lelaki pada umumnya menoleh dan tidak sedikit yang berusaha untuk berkenalan. Beberapa di antaranya akhirnya memang dapat berkenalan. Aku tidak pernah melarang atau marah akan hal itu, malah aku bangga bahwa ternyata aku tidak salah memilih teman wanita untuk diajak jalan bersama.

Kami mulai sering pergi ke diskotek sampai pulang pagi, kadang aku jemput dia ke rumahnya, dengan ijin sang suami tentunya. Pernah kami pergi bertiga pergi ke diskotek dengan suaminya, lalu Della dengan entengnya mencari seorang wanita di diskotek dan menyuruh wanita itu menemani suaminya, sedangkan Della berdua dengan aku di pojok lain diskotek itu.

Pada pertengahan Agustus 99, hari Jumat siang aku telepon dia..

“Del.., ntar malam kita jalan yuk..” ajakku.
“Siapa takut, jemput di rumah ya.. Jam 10..” katanya.
“H.. (suaminya) gimana.. Apa kita ajak saja..?” tanyaku.
“Gak usah.. Biar kita bebas di sana..” katanya.
“Eh.. Boleh order nggak?”
“Apa?”
“Lu pakai celana panjang ketat loreng itu ya, terus atasnya kemeja satin longgar dan hmm.. Jangan pakai BH ya..”
“pakai celana dalam nggak nih.. He he he..” ujarnya
“Terserah.. Kalau berani..”
“Wah banyak orderannya ya.. OK dah.. See you at 10 tonight.. Bye..” langsung telepon ditutupnya.

Malamnya Della telah siap. Dia tampak cantik dan sexy sekali dengan kemeja satin tipis tanpa lengan warna merah dengan bagian bawah diikat di perutnya hingga terlihat putingnya tercetak jelas di dadanya menonjol kencang, siapa pun yang melihat, pasti tahu bahwa dia tidak pakai BH apalagi dengan 2 kancing atasnya dibiarkan terbuka.

Surprise, ternyata dia pakai rok sangat mini potongan pinggul, hanya 10 cm dari selangkangannya dengan bahan sutra berkibar-kibar karena bawahan yang lebar hingga samar-samar terlihat bulatan pantatnya yang polos tanpa garis CD.

“Lu pakai CD nggak?” tanya Della padaku di perjalanan.
“Ya pakai dong, kalo nggak kan nanti keliatan menggantung” ujarku.
“Gak akan nggantung kalo ngaceng keras kan? Itu pun kalo bisa ngaceng lho, ha ha ha..” kata Della sambil mengusap penisku dari luar celana. Serr, terasa ada yang bergejolak di bagian bawah perutku. Untuk pertama kalinya dia meraba penisku selama persahabatan kami hampir 1 tahun.
“Emangnya lu sanggup bikin gua ngaceng terus di sana..?” aku balik bertanya.
“Heh.. Liat aja nanti, kalau aku nggak bisa, ntar aku minta bantuan cewe lain..” katanya enteng.
“OK, kalau perlu gua buka nanti” ujarku perlahan.

Selama ini memang aku belum pernah menunjukkan keinginan atau mengajak dia untuk berhubungan sex walaupun sering aku terangsang bila mendengar cerita-cerita dia atau pada saat saat kami pergi bersama dengan pakaiannya yang sexy dan agak terbuka.

Setiba di tujuan sekitar pukul 22.30, tempat parkir yang biasa aku tempati di depan pintu utama belum penuh. Petugas valet langgananku seperti biasa sudah menunggu, tapi Della minta agar kami parkir sendiri saja sehingga aku terpaksa kembali memutar dan mengambil tempat di samping gedung, lajur parkir ketiga dari pintu masuk samping.

“Lho kok nggak berani?” celetuk Della.
“Apanya nggak berani?” tanyaku heran.
“Berani nggak lepas CD-nya, makanya gua minta lu parkir sendiri” tantangnya.

Akhirnya aku lepas celana panjangku agar bisa melepas CD. Saat CD-ku terlepas, tangan kanan Della dengan cepat menggenggam penisku sebentar. Kembali serr.. terasa ada aliran darah menuju penisku yang membuatnya sedikit membesar. Tapi genggamannya yang tidak lebih dari 1 detik, membuat penisku surut kembali tanpa aku bisa bereaksi apapun.

“Kok nggak sesuai dengan iklannya, katanya besar?” dia tersenyum.
“Pegangnya jangan cuma sedetik dong, agak lama dikit..”, aku protes.
“Ya udah, nanti di dalam kita bikin sensasi ya..”, aku belum bisa membayangkan, apa yang akan diperbuat Della di dalam nanti.

Kami masuk lewat pintu samping menuju tangga dimana banyak para tamu yang sedang duduk di luar tempat karaoke di bawah diskotek yang kami tuju. Mulai dari pintu masuk terasa sekali bahwa semuanya baik lelaki maupun wanita yang kebanyakan pramuria matanya mendelik melihat Della, apalagi saat berada di tangga. Aku yakin bahwa bulatan pantat Della terlihat jelas sekali dari bawah. Keadaan tersebut tidak kami pedulikan bahkan dengan bangganya aku berjalan dan Della menggandeng lenganku sampai terasa buah dadanya tertekan di lengan kananku.

Sesampai di dalam, kami mengambil tempat yang biasa kami tempati yaitu meja bundar tinggi di bagian depan kanan dekat dance floor. Ternyata beberapa teman kami telah berada di sana, 7 lelaki dan 5 wanita sehingga total ada 14 orang dengan mengambil 4 meja yang dibuat agak melingkar sehingga ada ruang di tengah tengah keempat meja tersebut

Pada saat menghampiri mereka, para lelaki yang memang telah kenal dengan Della, berteriak sambil memandang tanpa berkedip..

“Wah wah wah.. Gilee.. Ada angin apa nih si Della sampai mini begini pakaiannya, nanti striptease aja, berani nggak?” ujar Dino sambil bergurau.
“Gilaa lu ya, striptease jangan di tempat umum gini dong, kalau setengah striptease boleh boleh aja nanti, kalau udah tipsy ya, tapi gua nggak tanggung kalo lu pada horny ya..” katanya sambil memperlihatkan mimik yang menggemaskan.
“Del, mau bikin sensasi apa lagi nih..” Vivi dan Ratih terbengong bengong.
“Bukan mau bikin sensasi, abis ada pesanan khusus untuk malam ini, gua nggak boleh pakai BH, jadi sekalian aja dah gua nggak pakai CD..”
“Haahh..” tangan Vivi secara spontan meraba pantat Della, demikian pula tanganku yang berdiri di sampingnya. Ternyata dia pakai G-String tipis sehingga memang bulatan pantatnya sangat terbuka.

Akhirnya kami larut dalam irama musik disco yang menggelegar, 2 botol XO dan 2 botol Chivas kami tenggak, beberapa sloki XO murni telah masuk ke perutku dan Della terlihat semakin berani meliuk-liukkan tubuhnya dengan gaya yang sangat merangsang, kadang berdansa bersamaku, kadang dengan Vivi ataupun dengan Dino dan yang lainnya.

Semakin dia bergoyang, semakin terlihat jelas bentuk buah dadanya pun bergoyang, bahkan kadang sampai putingnya dapat terlihat jelas dari arah samping karena dengan kedua kancing yang terbuka, otomatis kancing ketiga berada di bawah buah dadanya.

Pada saat kami berdansa, terasa bagian perut ataupun pantat Della selalu menekan dan menggesek gesek penisku hingga mengakibatkan ereksi, tapi dengan acuhnya dia tidak berkomentar, kadang sengaja aku tarik tangannya agar memegangnya, tapi dia menepiskan tanganku. Huh, aku semakin penasaran jadinya. Tanpa CD, dengan bahan celana lemas yang aku pakai, jelas terlihat bahwa penisku sudah berdiri tegak hingga dapat tertangkap oleh sudut mataku bahwa Vivi, Ratih dan lainnya kadang kadang melirik ke bawahku.

Jam sudah menunjukkan pukul 23:30. kulihat Della sudah typsy sekali. Aku tarik dia. Sambil duduk aku peluk pinggangnya.

“Del, kamu diam saja ya, gua mau kamu lebih sexy lagi, biar meja-meja sebelah makin melotot melihat kamu” bisikku sambil kujilat belakang daun telinganya. Dia menggelinjang sambil makin mempererat pelukannya ke tubuhku.
“Whatever you want honey” bisiknya juga sambil menggigit ringan leherku.

Aku dorong dia sedikit ke belakang, lalu aku buka seluruh kancing kemejanya dari atas sampai bawah sambil sekilas kuraba buah dadanya dari balik kemejanya dan aku ikat ujungnya di perut Della agak ke atas sampai sedikit di bawah buah dadanya, sehingga sebagian pinggir buah dada Della semakin terlihat jelas dari pinggir, apalagi dengan kemeja yang longgar, kadang kadang dengan goyangan yang meliuk-liuk, putingnya sampai terlihat keluar.

Pada saat aku mengerjakan hal itu, tangan Della meremas-remas penisku dari luar celana hingga penisku semakin ereksi keras dan tegak, lalu dia kembali berbisik..

“Ternyata promosinya nggak salah ya..” lirihnya di telingaku.

Dibukanya ritsletingku dan digenggamnya penisku. Tangannya tidak muat untuk melingkari batang penisku. Diusapnya lubang penisku, aku sampai merinding keenakan, kepalanya ditundukkan dan dijilatnya kepala penisku sebentar, lalu ditutupnya kembali ritsletingku. Mataku menangkap Vivi dan Ratih melihat apa yang Della lakukan.

Della terlihat sexy sekali dengan pakaian tersebut. Berdua dengan Vivi mereka turun ke dance floor hingga terlihat banyak sekali lelaki yang mengerubutinya. Dengan genitnya Della dan Vivi menggoda semua lelaki, tapi setelah 3 lagu Della kembali.

“Vivi tadi bertanya, enak nggak ngewe sama lu” kata-kata vulgarnya mulai keluar, tapi justru manambah gairah bagi kami berdua.
“Lu jawab apa” aku balik bertanya.
“Gua bilang, belum pernah, jadi belum tau rasanya” dia terheran-heran.
“Dia bilang, Jadi ngapain aja kalian selama ini” kata Della.
“Gua cerita bahwa kita sering diskusi tentang ngewe, banyak teknik teknik yang lu ajarkan, tapi gua belum mempraktekannya, lantaran suami dan pacar gua yang konvensional” kata dia di pelukanku sambil kadang-kadang berciuman bibir.

Aku hanya tertawa mendengarnya sambil meremas-remas pantatnya dan sesekali kumasukkan telunjukku ke belahan pantatnya untuk mencari anusnya.

Ingin Daftar Permainan Games Judi Online Silahkan Saja Klik Dibawah Ini :


“Vivi bilang gua musti cepet cepet menguji kamu secara praktek, jangan hanya teori saja, kalau gua nggak mau, Vivi siap buat menguji. Dia tadi sudah liat penis lu, dia bilang punya Dino nggak ada apa apanya, ukuran sih OK, tapi ilmu belum tau” katanya.
“Bilang aja ke Vivi, mendingan jangan berani coba gua, soalnya kalau sampai ketagihan celaka, kasihan si Dino, temen gue juga tuh” dengan PD-nya aku menantang.

Della menarik tangan Vivi sehingga kami bertiga mengobrol dan Della menyampaikan pesanku pada Vivi..

“Vi.. Dia OK, tapi kalau sampai lu yang minta nambah, lu musti mau jadi sex partner dia tiap saat” Wah, Della ngarang nih, pikirku. Tapi aku hanya tersenyum sambil terus bergoyang mengikuti irama lagu.
“Kita liat aja, siapa yang minta nambah” protes Vivi.
“Gue juga belum tau sih ilmu dia, selama ini kan cuma omong doang” sergah Della.

Aku tarik Vivi, punggungnya menyandar di badanku dan pantatnya menekan penisku, kulingkarkan tanganku di perutnya sambil kutepuk bahu Della, mataku mengerling ke arah Dino, Della mengerti maksudku.

“Vi.. Kamu di sini aja ya, gua pengen tau Dino bisa ngaceng nggak” kata Della sambil menghampiri Dino.

Aku dan Vivi menonton aksi Della meliukkan pinggulnya di hadapan Dino semakin lama semakin rapat sampai akhirnya penis Dino terkena goyangan bagian bawah perut Della.

Rupanya Vivi terkena gairah atau karena tidak mau kalah karena cowoknya dirangsang sedemikian rupa oleh Della, atau mungkin juga karena tersengat listrik dari buah dadanya karena tangan kananku sudah naik dari perut dan meremas dada kirinya walau masih terhalang BH tipis. Kalah kenyal dibanding milik Della, tapi lebih besar, kuperkirakan 36C. Tangan Vivi merayap ke belakang lalu meremas-remas penisku dari luar celanaku.

“Haah.. Gila lu ya, nggak pakai CD..”?, tanyanya kebingungan.
“Della yang minta..” jawabku.
“Lu berdua emang pada gila ya..” bisiknya sambil menolehkan mukanya ke belakang.

Kesempatan itu aku gunakan untuk menangkap bibirnya lalu kami berciuman. Kumasukkan lidahku ke mulutnya mencari lidahnya sambil menghisap bibir atasnya. Sementara terasa putingnya bertambah keras pertanda dia telah terangsang. Sementara Della berciuman dengan Dino sambil tangan kanannya meremas-remas penis Dino. Akhirnya Vivi berbalik dan kembali kami berciuman dengan bergairah dan aku balas dengan meremas buah dadanya.

“Vir, kata Della lu jago ya..” bisiknya di telingaku
“Dia cerita apa?” tanyaku.
“Della bilang, lu punya variasi dan teknik sexual yang tinggi, lidah kamu juga maut, mulanya dia tidak berminat, tapi sekali coba dia ketagihan, sekarang cowoknya mau ditinggalin tuh” ujarnya. Wah, aku jadi bingung mana yang benar nih..
“Terus terang gua belum pernah main dengan dia, mungkin dia cuma promosi” kembali aku berbisik sambil berusaha merangsang leher dan telinga dia.
“Ternyata dia benar, gua cuma mancing kok, nanti kalau Della sudah nyoba lu, giliran kedua dengan aku ya”.
“Tanya dia dulu, boleh nggak?” ujarku sambil tertawa.
“Della sudah OK, dia bilang kalau perlu sama sama”

Della kembali bersama kami, terlihat Dino sibuk membetulkan letak penisnya karena berdiri jadi harus tegak ke atas arahnya. Melihat Vivi sedang meremas penisku, Della tidak mau kalah, lalu kedua tangan mereka secara bersama-sama memegang dan meremas penisku. Dengan posisi mereka di kanan kiriku, tidak ada yang melihat apa yang dilakukan tangan mereka. Della membuka resletingku dan mengeluarkan penisku, diambilnya tangan Vivi lalu digenggamkannya ke penisku. Vivi terkejut ketika menggenggam penisku tanpa bisa berkomentar.

“Vi.., katanya mau ngisep?” kata Della.
“Ngak dulu ah, nanti aja kapan-kapan” ujar Vivi.
“Berani nggak lu lawan kita berdua?” tanya Della kepadaku. Aku sampai menggeleng gelengkan kepala. Sejak kapan Della menjadi liar begini. Aku hanya berkata..
“Someday OK, but not now”

Akhirnya aku dan Della pulang sekitar jam 2 pagi. Sesampai di mobil, dengan buas Della membuka celanaku, penisku diremas-remasnya, saat memasuki tol, kepalanya mulai hilang dari pandangan belakang, lidahnya sibuk menjilat, mengulum dan mengocok penisku dengan mulutnya. Terasa terkadang masih kena gigi dan cara kulumannya menyisakan ruang udara di mulutnya yang mengurangi kenikmatan bagi lelaki yang merasakannya.

Aku ambil tangannya, aku hisap jari telunjuk dan jari tengahnya dengan cara tanpa menyisakan udara di mulutku. Ternyata Della langsung mengerti maksudku karena segera saja dia mengubah cara menghisap penisku.

“Ngajarinnya teori melulu sih, nggak pakai praktek jadi masih bego, praktek dong.., hayo sekarang.. Murid kan musti ujian praktek.. Dino juga tadi gila, tangannya masuk ke vagina gue..” rengeknya.

Aku mengarahkan mobil ke apartemenku di kawasan S, aku memang mempunyai sebuah apartemen khusus untuk berkumpul bersama kawan-kawan dan sebagai tempat untuk petualangan sex-ku ini. Sesampai di apartemenku, Della dengan tidak sabar langsung memeluk dan mendorongku ke dinding sambil membuka kancing baju serta celanaku. Seketika aku telanjang bulat. Sedangkan Della yang sejak di mobil sudah melemparkan seluruh pakaiannya hingga tinggal mengenakan G-String, langsung masuk lift dari basement tempat parkir. Untung saja aku dapat tempat parkir persis di sebelah lift.

Setelah kami masing-masing minum setengah gelas red wine, didorongnya tubuhku ke sofa, lalu dia berjongkok sambil menarik kakiku. Lidahnya menjalar di telapak kaki, seluruh jari-jariku dikulum dan dihisapnya hingga rasa gelinya tidak tertahankan, lalu naik ke betis, lutut dan bagian dalam pahaku.

“Dell.. Ooh, enak Del.., ternyata lu jago ya” aku mengerang.
“Baru segitu!!, Nikmati aja jangan kasih komentar dulu, ini belum apa apa..” katanya.

Sesampai di selangkangan, dijilatnya buah pelirku dengan sangat bernafsu sampai aku merintih keenakan, lalu dia naik menuju perut. Dihisapnya putingku kanan kiri, diangkatnya tanganku sambil dijilat dan dihisapnya ketiakku, penisku hanya dipegang saja. Aku berteriak sejadi-jadinya karena memang di situlah titik kelemahanku. Lalu kami berciuman, bersilat lidah, berlomba saling memasukkan dan menghisap lidah kami pada mulut pasangan masing-masing.

Kemudian tubuhku dibalikkan sehingga aku berada dalam posisi tengkurap dan dia naik menindih badanku dari belakang, dijilatnya mulai dari leher, lalu ke seluruh punggung dari ujung ke ujung dengan hawa nafsu birahi yang sudah sampai ubun-ubun, tak ada satu inchi pun yang terlewat dari lidahnya. Sampai di pantatku, lidahnya bermain main di ujung atas belahan pantatku sambil terkadang dihisapnya daerah itu hingga terasa nikmat yang amat sangat di daerah itu.

Lalu lidahnya ditarik ke bawah menyusuri belahan bulatan pantatku dan tiba di selangkanganku. Aku berdebar penasaran menanti Della melanjutkan permainan lidahnya menuju puncaknya yaitu penisku. Tapi dia tidak melakukannya, malah lidahnya kembali menelusuri paha sampai kembali ke ujung telapak kakiku.

Kali ini permainan mulut dan lidahnya di jari-jari kakiku lebih luar biasa dari yang tadi, masing-masing jari terutama jari manis dan jari tengah kakiku dipelintir di dalam mulutnya sambil kepalanya diputar ke kiri dan kanan.

Kulihat jam, 30 menit sudah penisku berdiri tegak sempurna, sangat keras sampai pegal dan tergencet pada sofa, Della menyiksaku sedemikian rupa hingga ingin rasanya aku kocok sendiri penisku, tapi setiap kali aku angkat pantat dan memegang penisku, tanganku selalu ditepis oleh Della, dia mengatakan bahwa penisku akan digilirnya nanti.

Akhirnya dia kembali naik menyusuri betis dan pahaku. Diangkatnya pantatku lalu diambilnya 2 buah bantal sofa dan disisipkannya di bawah pinggulku sehingga aku berada dalam posisi menungging, digigitnya bukit pantatku lalu dibukanya belahan pantatku dengan kedua ibu jarinya.

Terasa ada daging hangat menempel di bibir lubang anusku dan berbeda dengan tadi, kali ini Della dengan perlahannya memutar-mutarkan ujung lidahnya di sekeliling bibir anusku. Rasanya luar biasa, penisku sudah sedemikian kerasnya sampai sampai hampir meledak rasanya.

“Aaggh.. Oohh.. Del.. Enak amat..”

Della semakin bernafsu mendengar teriakanku dan rupanya masih belum selesai juga. Della dengan perlahan pula melesakkan ujung lidahnya yang keras ke dalam lubang anusku hingga mungkin ada kira kira 2 cm masuk ke dalam, lalu lidahnya diputar-putar di dalam anusku. Aku sampai menggeliat-geliatkan pantatku, tapi Della dengan sigapnya menahan pantatku agar lidahnya tidak terlepas dari lubang anusku.

Setelah kira kira 2 menit, lalu dengan tiba-tiba, dia keluarkan lidahnya dan langsung menghisap lubang anusku sekeras kerasnya. Seketika itu pula aku berteriak. Kejang badanku seketika, rasanya aku hampir orgasme saat itu. Cara itu diulanginya lagi beberapa kali sampai aku berkata..

“Udah Del.. Gua nggak tahan nih..”

Tubuhku kembali dibaliknya dan dia langsung menjilat kepala penisku, lidahnya bermain di belahan kepala penisku, disapunya seluruh permukaan kepala penisku lalu perlahan dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya hingga terlihat Della berusaha keras untuk membuka mulutnya yang mungil agar penisku bisa masuk seluruhnya. Mula-mula sedikit, dikeluarkannya, lalu dimasukkan lagi semakin lama semakin dalam sampai terasa di ujung tenggorokannya, kadang dia agak tersedak, tapi belum masuk semuanya. Dengan kocokan mulutnya yang maju mundur dan kepala yang berputar putar semakin cepat, akhirnya..

“Del.. Gua mau keluar nih..” Kocokannya makin dipercepat. Akhirnya spermaku keluar di dalam mulutnya.
“Jangan ditelan semuanya!” kataku.

Kutarik kepalanya lalu kucium bibirnya, kusedot spermaku yang ada di mulutnya, lalu lidah kami bermain-main dengan spermaku cukup lama sampai bibir dan muka kami berdua belepotan sperma.

Jam menunjukkan pukul 3:30 pagi. Nafasku memburu berbaring keenakan sambil Della kembali mengulum penisku yang mulai mengecil.

“Aah, Del.. Ngilu nih..” teriakku.
“Gila nih kontol, kok ada ya yang kaya gini..” katanya sambil terus menjilati kepala penisku.
“Sini dong memek lu, gua mau jilatin..” pintaku.
“Hari ini gua bermaksud untuk ujian doang, nggak ada maksud buat ngewe, jadi gua mau minta hasil ujiannya sekarang, lulus nggak gua..” ujarnya sambil digigitnya penisku ringan.
“Curang lu, emang lu pikir gua bisa cukup puas cuma gua doang yang keluar” aku protes.
“Itu hukuman buat yang punya kontol kaya lu, lagian gua masih ragu, bisa nggak kontol lu masuk ke memek gua, soalnya punya laki sama cowok gua masih di bawah ukuran standar, lagian gua takut minta nambah he he he he.., ntar kalau gua minta nambah, lu nggak sempet sama Vivi lho..” ujarnya.
“Kan mau sama-sama, kata Vivi..”
“Sapa takut, sama gua aja lu udah kelojotan, apa lagi ditambah sama Vivi..”

“Ratih juga mau tuh..” kataku sekenanya.
“Emangnya dia juga tadi liat kontol lu waktu gua isep sebentar..”
“Undang Dino juga nggak..?” tanyaku.
“Kontolnya kecil, makanya Vivi lagi cari yang gede..” ujarnya.
“Ntar gua cariin yang lebih gede dari gua punya deh..”
“Botol bir aja sekalian. Udahan, pulang yuk.., jadi gimana nilai gue..?” tanyanya.
“Summa Cum Laude, buat mulut sama lidah lu kalau kaya tadi, nggak bakalan gampang cari gantinya deh.., tapi belum tau goyangan memek lu ya, belum bisa kasih nilai..” kataku seakan menantang.
“Kapan-kapan ujian lagi ya, soalnya gua juga penasaran sama kontol lu, musti sering praktek supaya bisa masuk ke mulut gua semuanya..” ujarnya.
“Emangnya kontol gua mau dibuat latihan.. Yuk, pulang..” kataku.

“Kalo dengar cerita lu, nggak nyangka lu hebat gitu kaya tadi.. Atau memang permainan lu kaya tadi?” tanyaku heran.
“Itu kan yang lu ajarin sama gua, tadi itu pertama kalinya gue kaya gitu, memang gua pengen naklukin lu.. Jadi usaha keras.. Cowok gua nggak mau gua jilat anusnya, kontolnya kecil, udah masuk semua ke mulut gua, masih belum terlalu penuh”

Lalu kami turun dari apartemen, Della mengenakan kaus oblongku. Rasa kecewa masih menyelimuti perasaanku karena baru kali ini aku tidak ‘bekerja’ sama sekali hingga kepuasan diriku berkurang. Sesampai di mobil baru dia mengenakan pakaiannya. Sepanjang perjalanan ke rumahnya di kawasan BGV, penisku tak pernah lepas dari tangannya sambil sesekali kepalanya menunduk untuk kembali menjilati kepada penisku.

Silahkan Klik langsung Di Bawah Ini : 

Bonus PromoNew Member 10%
 qqdomino

Bonus Referral Hingga 20%
 kiukiudomino

CERITA ASIK DEWASA | ANAK GELANDANGAN CANTIK YANG MASIH PERAWAN

ANAK GELANDANGAN CANTIK YANG MASIH PERAWAN



Cerita Asik Dewasa | Anak Gelandangan Cantik Yang Masih Perawan - Cerita ngentot terhot, Nama saya Yossa, usia 30th dan saya bertempat tinggal dekat kampus di magelang. Aku adalah seorang karyawan di sebuah Perusahaan yg bergerak di bidang beverage. Posisiku sudah lumayan tinggi, yaitu sebagai General Manager sehingga aku mendapatkan fasilitas perumahan dan sebuah mobil sedan. Aku masih lajang sehingga sehabis pulang kerja hobiku jalan-jalan cari pengalaman dan refresing.

Waktu itu aku pulang kerja sekitar jam 11 malam, mobilku menabrak seorang anak yg digandeng ibunya sedang menyeberang jalan. Untung saja aku cepat menginjak rem sehingga anak itu lukanya tidak parah hanya sedikit saja dibagian pahanya. Ketika aku tawarkan untuk ke rumah sakit, Ibu itu menolak dan katanya lukanya tidak parah.

“Ya udah bu, sekarang aku antar Ibu pulang, dimana rumah Ibu?”

“Nggak usah den, si Mbok nggak usah diantar”

“Kenapa Mbok, inikan sudah malam, nggak apa-apa Mbok aku antar ya?”

Si mbok ini tidak menjawab pertanyaanku dan hanya menunduk lesu dan ketika dia mau menjawab, dari arah ujung trotoar mencul anak kecil sambil membawa bekicot.

“Ini Mbok bekicotnya, biar luka Mbak Endah cepat sembuh”

Ibu itu menerima bekicot dari gadis itu, memecahnya dibagian ujung dan mengoleskannya diluka gadis yg ternyata namanya Endah. Tp, Setelah selesai mengoleskan, simbok itu mengandeng Endah dan adiknya mau pergi. Sebelum melangkah jauh, aku hadang dan berusaha untuk mengantarnya pulang.

“Simbok mau pulang.., aku antar ya Mbok, kasihan Endah jalannya pincang”

“Ngaak usah den, simbok..”

“Kenapa Mbok, nggak sungkan-sungkan, ini kan sudah malam, kasihan Endah Mbok..”

“Simbok ini nggak punya rumah den, sombok cuma gelandangan”

Aku sempat benggong mendengar jawaban simbok ini, akhirnya aku putuskan untuk mengajaknya ke rumahku walaupun hanya untuk malam ini saja. Terus terang aku kasihan kepada mereka.

“Ya sudah Mbok, kamu dan kedua anakmu itu malam ini boleh tidur dirumahku”

“Tp ndoroo..”

“Sudahlah Mbok, ini juga kan untuk menebus kesalahanku karena menabrak Endah”

Dari informasi yg aku dapatkan didalam mobil selama perjalanan pulangp, simbok ini ternyata ditinggak suaminya saat mengandung adiknya Endah, yg akhirnya aku ketahui namanya Intan. Simbok ini yg ternyata namanya Inem, usianya sekitar 42 tahun, dan anaknya si Endah usianya 14 tahun sedangkan Intan baru 11 tahun. Endah sempat lulus SD, sedangkan Intan hanya sempat menikmati bangku SD kelas 4.

Setelah sampai dirumah, Mbok Inem dan kedua anaknya langsung aku suruh mandi dan makan malam. Ternyata simbok, Endah dan Intan tidak membawa baju ganti sehingga setelah mandi baju yg dipakainya ya tetap yg tadi. Padahal baju yg dipakai ketigany sudah tidak layak untuk dipakai lagi.

Simbok memakai daster yg lusuh dan sobek disana-sini sedangkan Endah dan Intan sama saja lusuh dan penuh jahitan disana sini. Besok yg kebetulan hari minggu, aku memang mempunyai rencana membelikan baju untuk mereka bertiga. Aku memang tipe orang yg nggak bisa melihat ada orang lain menderita. Kata temen-temen sih, aku termasuk orang yg memiliki jiwa sosial yg tinggi.

“Endah dan juga kamu Intan makan yg banyak ya.. biar cepet gede..”

“Inggih Ndoro.., boleh nggak kalau Intan habiskan semuanya, karena Intan sudah 2 hari nggak makan”

“Boleh nduuk.., Intan dan Endah boleh makan sepuasnya disini”

Mulai dari sinilah awal dari petualangan seksku. Setelah acara makan malam selesai, ketiganya aku suruh tidur di kamar belakang. Sekitar jam 1 malam setelah aku selesai nonton acara TV yg membosankan, aku menuju kekamar belakang untuk meneggok keadaan mereka.

Ketika aku masuk kekamar mereka, jantungku langsung berdeguk cepat dan keras saat aku melihat daster Mbok Inem yg tersingkap sampai ke pinggang. Ternyata dibalik daster itu, Mbok inemku ini memiliki paha yg betul-betul mulus dan dibalik Celana dalamnya yg lusuh dan sobek dibagian depannya terlihat dengan jelas jembutnya yg tebal dan hitam. Pikiranku langsung melayg dan pEnisku yg masih perjaka ini langsung berontak.

Setelah agak tenang, tanganku langsung bergerilnya mengelus paha mulus Mbok inemku ini. Setelah puas mengelus pahanya, aku mulai menjilati ujung paha dan berakhir dipangkal pahanya. Aku sempat mau muntah ketika mulai menjilati klitorisnya. Di depan tadi kan aku sudah bilang kalau Celana dalam Mbok ku ini sobek dibagian depan.., jadi clitnya terlihat dengan jelas.

Sedangkan yg bikin aku mau muntah adalah bau Celana dalamnya. Ya.. mungkin sudah berhari-hari tidak dicuci. Setelah sekitar 13 menit aku jilati clitnya dan ternyata Mbok inemku ini tidak ada reaksi.. ya mungkin terlalu capek shingga tidurnya pulas banget, aku mulai keluarkan pEnisku dan mulai aku gesek-gesekkan di clitnya.

Aku tidak berani melapas Celana dalamnya takut dia bangun. Ya.. aku hanya berani mengocok pEnisku sambil memandangi clit dan juga teteknya. Ternyata Mbok inemku ini tidak memakai BH sehingga puting payudaranya sempat menonjol di balik dasternya. Aku tidak berani untuk memeras teteknya karena takut Mbok Inem akan bangun.

Sedang asyik-asyiknya aku mengocok pEnisku, si Endah bangun dan melihat ke arahku. Endah sempat mau teriak dan untung saja aku cepat menutup mulutnya dan memimta Endah untuk diam. Setelah Endah diam, berhubung aku sudah tanggung, terus saja aku kocok pEnisku. Endah yg masih terduduk lemas karena ngantuk, tetap saja melihat tangan kiriku yg mengocok pEnisku dan tangan kananku mengusap-usap paha mulus ibunya.

Sambil melakukan aktivitasku, aku pandangi si Endah, gadis kecil yg benar-benar polos, dan aku lihat sesekali Endah melihat mataku terus berpindah ke paha ibunya yg sedang aku elus-elus berulangkali. Setelah sekitar 8 menit berlalu, aku tidak tahan lagi, dan akhirnya “.. croot.. crrott.. croot..” ada 6 kali aku menembakkan pejuhku ke arah clit Mbok inemku ini.

Saat aku keluarkan pejuhku, si Endah menutup matanya sambil memeluk kedua kakinya. Pada saat itulah aku tanpa sengaja melihat pangkal pahanya dan ternyata.., Endahku ini tidak memakai celana dalam. Saat aku sedang melihat memeknya Endah, dia bilang.

“Ndoro.. kenapa pipis di memeknya simbok”. aku sendiri sempat kaget mendengarnya

“Nduuk.. itu biar ibumu tidur nyenyak..”

“Ndoroo.. Endah kedingingan.., Endah mau pipis.. tp Endah takut ke kamar mandi..”

“Ya.. sudah Nduk.. ayo aku antar ke kamar mandi”

Endah kemudian aku ajak pipis ke toilet di kamar tidurku. Aku sendiri juga pengen pipis, terus Endah aku suruh jongkok didepanku. Endah kemudian mengangkat roknya dan.. suur.. banyak sekali air seni yg keluar dari memeknya. Aku sendiri hanya sedikit sekali kencingku. Setelah acara pipisnya selesai, Endah aku gendong dan aku dudukkan di pinggir ranjangku. Lalu aku peluk dan aku belai lembut rambut panjangnya yg sampai ke pinggang.

“Ndoro.. Endah belum cebok.. nanti memeknya Endah bau lho.. Ndoro..”

“Nggak apa-apa Nduk.. biar nanti Ndoro yg bersihin memeknya Endah.. Endah bobok disini ya.. sama ndoromu ini..”

Kemudian Endah aku angkat dan mulai aku baringkan di ranjang empukku ini. Tangganku mulai aktif membelai rambutnya, pipinya, bibirnya.. dan juga payudaranya yg lumayan montok. Pada saat tanganku mengelus pahanya.

“Ndoro.. kenapa mengusap-usap kaki Endah yg lecet..”

“Oh iya Nduk.. Ndoro lupa..”

Tahu sendirilah, aku memang benar-benar sudah horny untuk mencicipi Endah, gadis kecilku ini. Baygkan pembaca, disebelahku ada gadis 14 tahun yg begitu polos, dan dia diam saja ketika tanganku mengelus-elus seluruh tubuhnya.

Kemudian aku jongkok diantara kakinya dan mulailah aku singkap rok yg dipakai Endah sampai ke pinggang. Sekarang terpampanglah dihadapanku seorang gadis kecil usia 14 tahun denga bibir kemaluan yg masih belum ditumbuhi bulu.

Setelah pahanya aku kangkangkan, terpangpanglah segaris bibir memek yg dikanan-kirinya agak mengelembung.., eh maksudku tembem. Dengan jari telunjuk dan Ibu jari aku berusaha untuk menguak isi didalamnya. Dan ternyata.. isinya merah muda, basah karena ada sisa pipisnya yg tadi itu lho dan juga agak mengkilap.

Tangankupun mulai mengelus memek keperawanannya, dan sesekali aku pijit, pelintir dan aku tarik-tarik clitorisnya. Ake sendiri heran clitnya Endahku ini ukurannya nggak kalah sama ibunya.

“Aduuh.. Ndoro.. memeknya Endah diapain.. Ndoro..”

“Tenang Nduk.. nggak apa-apa.. Ndoro mau nyembuhin luka kamu kok.. Endah diam saja yaa..”

“Inggiih.. Ndoro..”

Setelah Endah tenang, akupun mulai menjilati memeknya dan memang ada rasa dan bau pipisnya Endah.

Ingin Daftar Permainan Games Judi Online Silahkan Saja Klik Dibawah Ini :


“Ndoro.. jangaan.. Endah malu ndoroo.. memek Endah kan bau..”

Aku bahkan sempat memasukkan jariku ke liang perawannya dan mulai aku kocok-kocok dengan pelan. Endahpun mulai menggelinjang dan mengangkat-angkat pantatnya.

Aku pun mulai menyedot memeknya Endah dengan kuat dan aku lihat Endah menggigit bibir bawahnya sambil kepalanya digoyg kekanan kiri.

“Ndoroo.. geli Ndoro.. memeknya Endah diapain sih ndoroo..”

Akupun tidak peduli dengan keadaan Endah yg kakinya menendang-nendang dan tangannya mencengkeram seprei ranjangku sampai sobek disana sini. Dan akhirnya.

“Ndoroo.. sudah Ndoro.. Endah mau pii.. piis dulu Ndoro..”

Dan tidak lama kemudian “Ssuur.. suur.. suur..”

Banyak sekali cairan hangatnya membanjiri mulutku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menelan semua cairan memeknya yg mungkin baru pertama kali ini dikeluarkannya.

Setelah kujilati dan kuhisap sampai bersih, akupun tiduran disebelahnya dan kurangkul Endahku ini.

“Ndoro.. maafin Endah ya.. Endah tadi pipis di mulutnya Ndoro.. pipis Endah bau ya Ndoro..”

“Nggak apa-apa Nduk.. tp Endah harus dihukum.. karena udah pipis dimulut Ndoro..”

“Endah mau dihukum apa saja Ndoro.. asalkan Ndoro nggak marahin Endah..”

“Hukumannya, Endah gantian minum pipisnya Ndoro.. mau nggak..”

“Iya Ndoro..”

Akhirnya aku keluarkan pEnisku yg sudah tegang. Begitu pEnisku sudah aku keluarkan dari celana dalamku, Endah yg masih terlalu polos itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Aku lihat wajah Endah agak memerah. Setelah aku lepaskan kedua tangannya, aku sodorkan pEnisku kedepan wajahnya dan aku suruh Endah untuk memegangnya.

“Nduk.. ayo dipegang dan dielus-elus..!

“Inggih Ndoro.. tp Endah malu Ndoro.. Endah takut Ndoro..”

“Nggak apa-apa Nduk.. ini nggak nggigit kok.. ini namanya pEnis Nduk..”

Kemudian gadis kecilku ini mulai memegang, mengurut, meremas dan kadang-kadang diurut.

“Nduk.. pEnisnya ndoromu ini diemut ya..”

“Tp Ndoro.. Endah takut Ndoro.. Endah jijik Ndoro..”

“Nggak apa-apa Nduk.. diemut saja seperti saat Endah ngemut es krim.. ayo nanti Endah Ndoro kasih es krim.. mau ya..”

“Benar Ndoro.. nanti Endah dikasih es krim..”

“Iya Nduk..”.

Endah pun jongkok diantara pahaku dan mulai memasukkan pEnisku ke mulutnya yg mungil. Agak susah sih, bahkan kadang-kadang pEnisku mengenai giginya.

“Nah gitu nduuk.. diisep ya.. yaa.. ya gituu.. nduuk..”

Sambil Endah mengoral pEnisku, kaos lusuhnya Endah pun aku angkat dan aku lepaskan dari tubuh mungilnya. Aku elus-elus teteknya dan kadang aku remas dengan keras.

“Aku gemes banget sih sama payudaranya yg bentuknya agak meruncing itu”

Sekitar 12 menit kemudian, aku rasakan pEnisku sudah berdenyut-denyut. Aku tarik kepala Endah dan aku kocok pEnisku dimulut mungilnya.. dan.. aku tekan sampai menyentuh kerongkongannya dan akhirnya,

“.. croot.. croot.. croot.. cruut..!”

Cairan pejuhku sebagian besar tertelan oleh Endah dan hanya sedikit yg menetes keluar dari mulutnya.

“Ndoroo.. pipisnya banyak banget.. Endah sampai mau muntah..”

“He.. eh.. nduuk.. tp enak kan.. pipisnya Ndoro..”

“Inggih Ndoro.. pipis Ndoro kental banget.. Endah sampai nggak bisa telan.. agak amis Ndoro..”

Aku memang termasuk laki-laki yg suka merawat tubuhku. Hampir setiap hari aku fitnes. Menuku setiap hari: susu khusus lelaki, madu, 6 butir telur mentah, dan juga suplemen protein produk Amerika. Jadi ya wajar kalau spermaku kental dan agak amis.

Kemudian aku peluk bidadariku kecilku ini dan sesuai janjiku dia aku kasih es krim rasa vanilla. Setelah habis Endah memakan es krimnya, dia aku telentangkan lagi diranjangku. Terus aku kangkangkan lagi pahanya dan aku mulai lagi menjilati memek tembemnya. terus terang saja aku penasaran sebelum membobol selaput daranya.

“Ndoro.. mau ngapain lagi.. nanti Endah pipis lagi lho Ndoro..”

“Nggak apa-apa Nduk.. pipis lagi aja Nduk.. Endah mau lagi khan es krim..”

“Mau Ndoro..”

Setelah aku siap, pahanya aku kangkangkan lagi lebih lebar, dan aku mulai memasukkan kepala pEnisku ke lubang surgawinya. Baru masuk sedikit, Endahku meringgis.

“Ndoro.. memek Endah diapain.. kok sakit..”

Aku sempat tarik ulur pEnisku di liang memeknya. Dan setelah kurasa mantap, aku tekan dengan keras. Aku rasakan ujung pEnisku merobek selaput tipis, yg aku yakin itu adalah selaput daranya.

“Ndoorroo.. sakiit..” Langsung aku peluk Endah, kuciumi wajah dan bibir mungilnya.

“Nggak apa-apa Nduk.. nanti enak kok.. Endah tenang saja ya..”

Setelah kudiamkan beberapa saat, aku mulai lagi memompa memeknya dan aku lihat masih meringis sambil menggigit bibir bawahnya.

“Oohh.. ahh.. auuhh.. geli Ndoro.. ahh..” itulah yg keluar dari mulutnya Endah.

“Auuhh.. oohh.., Ndoro.., periih.., aahh.. gelii Ndoro.. aahh..,”

SAmbil aku terus meusuk-nusuk memeknya, aku selalu perhatikan wajah imutnya Endah. Sungguh pemandangan yg luar biasa. Wajahnya memerah, bibirnyapun kadang-kadang menggigit bibir bawahnya dan kalau aku lihatnya matanya terkadang hanya terlihat putihnya saja. Kedua kaki Endah pun sudah tidak beraturan menendang kesana-kesini dan juga kedua tangannya menarik-narik seprei kasurku hingga terlepas dari kaitannya.

“Auuhh.. oohh.., ndoroo.., aahh.. ooh.. aahh, ndoroo..”.

Aku mulai rasakan ada denyutan-denyutan vaginanya di pEnisku, pertanda Endahku sebentar lagi orgasme. Kepala Endah pun mulai menengadah ke atas dan kadang-kadang badannya melengkung. Sungguh pemandangan yg sensasional, gadis 14 tahun yg masih begitu polos, tubuhnya mengelinjang dengan desahan-desahan yg betul-betul erotis. Aku yakin para pembaca setuju dengan pendapatku, tp tangannya pembaca kok megang-megang “itu” nya sendiri, hayo udah terangsang ya. Aku tahu kok, nggak usah malu-malu, terusin aja sambil membaca ceritaku ini.

“Oohh.. ahh.. auuhh.. geli ndoroo.. ahh..”

“Ndoroo.. Endah mau pipiiss.. ndoroo..”

“Seerr.. suurr.. suurr.., pEnisku seperti disiram air hangat..”

Aku peluk sebentar Endahku untuk memberikan kesempatan gadis kecilku menuntaskan orgamesme. Setelah agak reda, aku lumat-lumat bibir mungilnya.

“Maapin Endah ya Ndoro.. Endah pipis dikasurnya Ndoro..”

“Endah malu Ndoro.. udah gede masih ngompol di kasur..”

“Nggak apa-apa Nduk.. (lugu sekali gadisku ini).. Ndoro juga mau pipis di kasur kok..”

Aku sendiri sudah nggak tahan. Kakinya aku angkat, lalu kuletakkan di pundakku. Dengan posisi ini kurasakan pEnisku menyentuh dinding rahimnya. Memeknya jadi becek banget, dan aku mulai mempercepat sodokan pEnisku.

“Ndooro.. Endah capek.. Endah mau bobok.. ndooroo..”

“Iya nduuk.. Endah bobok saja yaa..”

“Memeek Endah periih.. ndooroo..”

Kutekan keras-keras pEnisku ke liang kenikmatannya dan kutarik pantatnya dan “croot.. cruut.. croot.. croot.. cruut.. croot..!”. Aku muntahkan pejuhku kedalam rahimnya.

Aku cabut pEnisku dari memek tembemnya, terlihat lendir putih bercampur dengan darah segar mengalir keluar dari liang kemaluannya.

“Ndoro.., kenapa Ndoro pipis diperutnya Endah.., perut Endah jadi hangat Ndoro..”

“Iya nduuk.., biar kamu nggak kedinginan.., ayo sekarang Endah bobok ya.., sini Ndoro kelonin..”

“Inggih Ndoro.., sekarang Endah capek.., Endah pengen bobok..”

Aku perhatikan memeknya sudah mulai melebar dan agak membelah dibandingkan sebelum aku perawanin. Aku peluk dia dan aku cium dengan mesra Endah, si gadis kecilku. Aku dan Endahpun akhirnya tertidur dengan pulas. Nikmaat.

Silahkan Klik langsung Di Bawah Ini : 

Bonus PromoNew Member 10%
 qqdomino

Bonus Referral Hingga 20%
 kiukiudomino

Facebook

Advertising

Histats