CERITA ASIK DEWASA | ANAK GELANDANGAN CANTIK YANG MASIH PERAWAN

ANAK GELANDANGAN CANTIK YANG MASIH PERAWAN



Cerita Asik Dewasa | Anak Gelandangan Cantik Yang Masih Perawan - Cerita ngentot terhot, Nama saya Yossa, usia 30th dan saya bertempat tinggal dekat kampus di magelang. Aku adalah seorang karyawan di sebuah Perusahaan yg bergerak di bidang beverage. Posisiku sudah lumayan tinggi, yaitu sebagai General Manager sehingga aku mendapatkan fasilitas perumahan dan sebuah mobil sedan. Aku masih lajang sehingga sehabis pulang kerja hobiku jalan-jalan cari pengalaman dan refresing.

Waktu itu aku pulang kerja sekitar jam 11 malam, mobilku menabrak seorang anak yg digandeng ibunya sedang menyeberang jalan. Untung saja aku cepat menginjak rem sehingga anak itu lukanya tidak parah hanya sedikit saja dibagian pahanya. Ketika aku tawarkan untuk ke rumah sakit, Ibu itu menolak dan katanya lukanya tidak parah.

“Ya udah bu, sekarang aku antar Ibu pulang, dimana rumah Ibu?”

“Nggak usah den, si Mbok nggak usah diantar”

“Kenapa Mbok, inikan sudah malam, nggak apa-apa Mbok aku antar ya?”

Si mbok ini tidak menjawab pertanyaanku dan hanya menunduk lesu dan ketika dia mau menjawab, dari arah ujung trotoar mencul anak kecil sambil membawa bekicot.

“Ini Mbok bekicotnya, biar luka Mbak Endah cepat sembuh”

Ibu itu menerima bekicot dari gadis itu, memecahnya dibagian ujung dan mengoleskannya diluka gadis yg ternyata namanya Endah. Tp, Setelah selesai mengoleskan, simbok itu mengandeng Endah dan adiknya mau pergi. Sebelum melangkah jauh, aku hadang dan berusaha untuk mengantarnya pulang.

“Simbok mau pulang.., aku antar ya Mbok, kasihan Endah jalannya pincang”

“Ngaak usah den, simbok..”

“Kenapa Mbok, nggak sungkan-sungkan, ini kan sudah malam, kasihan Endah Mbok..”

“Simbok ini nggak punya rumah den, sombok cuma gelandangan”

Aku sempat benggong mendengar jawaban simbok ini, akhirnya aku putuskan untuk mengajaknya ke rumahku walaupun hanya untuk malam ini saja. Terus terang aku kasihan kepada mereka.

“Ya sudah Mbok, kamu dan kedua anakmu itu malam ini boleh tidur dirumahku”

“Tp ndoroo..”

“Sudahlah Mbok, ini juga kan untuk menebus kesalahanku karena menabrak Endah”

Dari informasi yg aku dapatkan didalam mobil selama perjalanan pulangp, simbok ini ternyata ditinggak suaminya saat mengandung adiknya Endah, yg akhirnya aku ketahui namanya Intan. Simbok ini yg ternyata namanya Inem, usianya sekitar 42 tahun, dan anaknya si Endah usianya 14 tahun sedangkan Intan baru 11 tahun. Endah sempat lulus SD, sedangkan Intan hanya sempat menikmati bangku SD kelas 4.

Setelah sampai dirumah, Mbok Inem dan kedua anaknya langsung aku suruh mandi dan makan malam. Ternyata simbok, Endah dan Intan tidak membawa baju ganti sehingga setelah mandi baju yg dipakainya ya tetap yg tadi. Padahal baju yg dipakai ketigany sudah tidak layak untuk dipakai lagi.

Simbok memakai daster yg lusuh dan sobek disana-sini sedangkan Endah dan Intan sama saja lusuh dan penuh jahitan disana sini. Besok yg kebetulan hari minggu, aku memang mempunyai rencana membelikan baju untuk mereka bertiga. Aku memang tipe orang yg nggak bisa melihat ada orang lain menderita. Kata temen-temen sih, aku termasuk orang yg memiliki jiwa sosial yg tinggi.

“Endah dan juga kamu Intan makan yg banyak ya.. biar cepet gede..”

“Inggih Ndoro.., boleh nggak kalau Intan habiskan semuanya, karena Intan sudah 2 hari nggak makan”

“Boleh nduuk.., Intan dan Endah boleh makan sepuasnya disini”

Mulai dari sinilah awal dari petualangan seksku. Setelah acara makan malam selesai, ketiganya aku suruh tidur di kamar belakang. Sekitar jam 1 malam setelah aku selesai nonton acara TV yg membosankan, aku menuju kekamar belakang untuk meneggok keadaan mereka.

Ketika aku masuk kekamar mereka, jantungku langsung berdeguk cepat dan keras saat aku melihat daster Mbok Inem yg tersingkap sampai ke pinggang. Ternyata dibalik daster itu, Mbok inemku ini memiliki paha yg betul-betul mulus dan dibalik Celana dalamnya yg lusuh dan sobek dibagian depannya terlihat dengan jelas jembutnya yg tebal dan hitam. Pikiranku langsung melayg dan pEnisku yg masih perjaka ini langsung berontak.

Setelah agak tenang, tanganku langsung bergerilnya mengelus paha mulus Mbok inemku ini. Setelah puas mengelus pahanya, aku mulai menjilati ujung paha dan berakhir dipangkal pahanya. Aku sempat mau muntah ketika mulai menjilati klitorisnya. Di depan tadi kan aku sudah bilang kalau Celana dalam Mbok ku ini sobek dibagian depan.., jadi clitnya terlihat dengan jelas.

Sedangkan yg bikin aku mau muntah adalah bau Celana dalamnya. Ya.. mungkin sudah berhari-hari tidak dicuci. Setelah sekitar 13 menit aku jilati clitnya dan ternyata Mbok inemku ini tidak ada reaksi.. ya mungkin terlalu capek shingga tidurnya pulas banget, aku mulai keluarkan pEnisku dan mulai aku gesek-gesekkan di clitnya.

Aku tidak berani melapas Celana dalamnya takut dia bangun. Ya.. aku hanya berani mengocok pEnisku sambil memandangi clit dan juga teteknya. Ternyata Mbok inemku ini tidak memakai BH sehingga puting payudaranya sempat menonjol di balik dasternya. Aku tidak berani untuk memeras teteknya karena takut Mbok Inem akan bangun.

Sedang asyik-asyiknya aku mengocok pEnisku, si Endah bangun dan melihat ke arahku. Endah sempat mau teriak dan untung saja aku cepat menutup mulutnya dan memimta Endah untuk diam. Setelah Endah diam, berhubung aku sudah tanggung, terus saja aku kocok pEnisku. Endah yg masih terduduk lemas karena ngantuk, tetap saja melihat tangan kiriku yg mengocok pEnisku dan tangan kananku mengusap-usap paha mulus ibunya.

Sambil melakukan aktivitasku, aku pandangi si Endah, gadis kecil yg benar-benar polos, dan aku lihat sesekali Endah melihat mataku terus berpindah ke paha ibunya yg sedang aku elus-elus berulangkali. Setelah sekitar 8 menit berlalu, aku tidak tahan lagi, dan akhirnya “.. croot.. crrott.. croot..” ada 6 kali aku menembakkan pejuhku ke arah clit Mbok inemku ini.

Saat aku keluarkan pejuhku, si Endah menutup matanya sambil memeluk kedua kakinya. Pada saat itulah aku tanpa sengaja melihat pangkal pahanya dan ternyata.., Endahku ini tidak memakai celana dalam. Saat aku sedang melihat memeknya Endah, dia bilang.

“Ndoro.. kenapa pipis di memeknya simbok”. aku sendiri sempat kaget mendengarnya

“Nduuk.. itu biar ibumu tidur nyenyak..”

“Ndoroo.. Endah kedingingan.., Endah mau pipis.. tp Endah takut ke kamar mandi..”

“Ya.. sudah Nduk.. ayo aku antar ke kamar mandi”

Endah kemudian aku ajak pipis ke toilet di kamar tidurku. Aku sendiri juga pengen pipis, terus Endah aku suruh jongkok didepanku. Endah kemudian mengangkat roknya dan.. suur.. banyak sekali air seni yg keluar dari memeknya. Aku sendiri hanya sedikit sekali kencingku. Setelah acara pipisnya selesai, Endah aku gendong dan aku dudukkan di pinggir ranjangku. Lalu aku peluk dan aku belai lembut rambut panjangnya yg sampai ke pinggang.

“Ndoro.. Endah belum cebok.. nanti memeknya Endah bau lho.. Ndoro..”

“Nggak apa-apa Nduk.. biar nanti Ndoro yg bersihin memeknya Endah.. Endah bobok disini ya.. sama ndoromu ini..”

Kemudian Endah aku angkat dan mulai aku baringkan di ranjang empukku ini. Tangganku mulai aktif membelai rambutnya, pipinya, bibirnya.. dan juga payudaranya yg lumayan montok. Pada saat tanganku mengelus pahanya.

“Ndoro.. kenapa mengusap-usap kaki Endah yg lecet..”

“Oh iya Nduk.. Ndoro lupa..”

Tahu sendirilah, aku memang benar-benar sudah horny untuk mencicipi Endah, gadis kecilku ini. Baygkan pembaca, disebelahku ada gadis 14 tahun yg begitu polos, dan dia diam saja ketika tanganku mengelus-elus seluruh tubuhnya.

Kemudian aku jongkok diantara kakinya dan mulailah aku singkap rok yg dipakai Endah sampai ke pinggang. Sekarang terpampanglah dihadapanku seorang gadis kecil usia 14 tahun denga bibir kemaluan yg masih belum ditumbuhi bulu.

Setelah pahanya aku kangkangkan, terpangpanglah segaris bibir memek yg dikanan-kirinya agak mengelembung.., eh maksudku tembem. Dengan jari telunjuk dan Ibu jari aku berusaha untuk menguak isi didalamnya. Dan ternyata.. isinya merah muda, basah karena ada sisa pipisnya yg tadi itu lho dan juga agak mengkilap.

Tangankupun mulai mengelus memek keperawanannya, dan sesekali aku pijit, pelintir dan aku tarik-tarik clitorisnya. Ake sendiri heran clitnya Endahku ini ukurannya nggak kalah sama ibunya.

“Aduuh.. Ndoro.. memeknya Endah diapain.. Ndoro..”

“Tenang Nduk.. nggak apa-apa.. Ndoro mau nyembuhin luka kamu kok.. Endah diam saja yaa..”

“Inggiih.. Ndoro..”

Setelah Endah tenang, akupun mulai menjilati memeknya dan memang ada rasa dan bau pipisnya Endah.

Ingin Daftar Permainan Games Judi Online Silahkan Saja Klik Dibawah Ini :


“Ndoro.. jangaan.. Endah malu ndoroo.. memek Endah kan bau..”

Aku bahkan sempat memasukkan jariku ke liang perawannya dan mulai aku kocok-kocok dengan pelan. Endahpun mulai menggelinjang dan mengangkat-angkat pantatnya.

Aku pun mulai menyedot memeknya Endah dengan kuat dan aku lihat Endah menggigit bibir bawahnya sambil kepalanya digoyg kekanan kiri.

“Ndoroo.. geli Ndoro.. memeknya Endah diapain sih ndoroo..”

Akupun tidak peduli dengan keadaan Endah yg kakinya menendang-nendang dan tangannya mencengkeram seprei ranjangku sampai sobek disana sini. Dan akhirnya.

“Ndoroo.. sudah Ndoro.. Endah mau pii.. piis dulu Ndoro..”

Dan tidak lama kemudian “Ssuur.. suur.. suur..”

Banyak sekali cairan hangatnya membanjiri mulutku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menelan semua cairan memeknya yg mungkin baru pertama kali ini dikeluarkannya.

Setelah kujilati dan kuhisap sampai bersih, akupun tiduran disebelahnya dan kurangkul Endahku ini.

“Ndoro.. maafin Endah ya.. Endah tadi pipis di mulutnya Ndoro.. pipis Endah bau ya Ndoro..”

“Nggak apa-apa Nduk.. tp Endah harus dihukum.. karena udah pipis dimulut Ndoro..”

“Endah mau dihukum apa saja Ndoro.. asalkan Ndoro nggak marahin Endah..”

“Hukumannya, Endah gantian minum pipisnya Ndoro.. mau nggak..”

“Iya Ndoro..”

Akhirnya aku keluarkan pEnisku yg sudah tegang. Begitu pEnisku sudah aku keluarkan dari celana dalamku, Endah yg masih terlalu polos itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Aku lihat wajah Endah agak memerah. Setelah aku lepaskan kedua tangannya, aku sodorkan pEnisku kedepan wajahnya dan aku suruh Endah untuk memegangnya.

“Nduk.. ayo dipegang dan dielus-elus..!

“Inggih Ndoro.. tp Endah malu Ndoro.. Endah takut Ndoro..”

“Nggak apa-apa Nduk.. ini nggak nggigit kok.. ini namanya pEnis Nduk..”

Kemudian gadis kecilku ini mulai memegang, mengurut, meremas dan kadang-kadang diurut.

“Nduk.. pEnisnya ndoromu ini diemut ya..”

“Tp Ndoro.. Endah takut Ndoro.. Endah jijik Ndoro..”

“Nggak apa-apa Nduk.. diemut saja seperti saat Endah ngemut es krim.. ayo nanti Endah Ndoro kasih es krim.. mau ya..”

“Benar Ndoro.. nanti Endah dikasih es krim..”

“Iya Nduk..”.

Endah pun jongkok diantara pahaku dan mulai memasukkan pEnisku ke mulutnya yg mungil. Agak susah sih, bahkan kadang-kadang pEnisku mengenai giginya.

“Nah gitu nduuk.. diisep ya.. yaa.. ya gituu.. nduuk..”

Sambil Endah mengoral pEnisku, kaos lusuhnya Endah pun aku angkat dan aku lepaskan dari tubuh mungilnya. Aku elus-elus teteknya dan kadang aku remas dengan keras.

“Aku gemes banget sih sama payudaranya yg bentuknya agak meruncing itu”

Sekitar 12 menit kemudian, aku rasakan pEnisku sudah berdenyut-denyut. Aku tarik kepala Endah dan aku kocok pEnisku dimulut mungilnya.. dan.. aku tekan sampai menyentuh kerongkongannya dan akhirnya,

“.. croot.. croot.. croot.. cruut..!”

Cairan pejuhku sebagian besar tertelan oleh Endah dan hanya sedikit yg menetes keluar dari mulutnya.

“Ndoroo.. pipisnya banyak banget.. Endah sampai mau muntah..”

“He.. eh.. nduuk.. tp enak kan.. pipisnya Ndoro..”

“Inggih Ndoro.. pipis Ndoro kental banget.. Endah sampai nggak bisa telan.. agak amis Ndoro..”

Aku memang termasuk laki-laki yg suka merawat tubuhku. Hampir setiap hari aku fitnes. Menuku setiap hari: susu khusus lelaki, madu, 6 butir telur mentah, dan juga suplemen protein produk Amerika. Jadi ya wajar kalau spermaku kental dan agak amis.

Kemudian aku peluk bidadariku kecilku ini dan sesuai janjiku dia aku kasih es krim rasa vanilla. Setelah habis Endah memakan es krimnya, dia aku telentangkan lagi diranjangku. Terus aku kangkangkan lagi pahanya dan aku mulai lagi menjilati memek tembemnya. terus terang saja aku penasaran sebelum membobol selaput daranya.

“Ndoro.. mau ngapain lagi.. nanti Endah pipis lagi lho Ndoro..”

“Nggak apa-apa Nduk.. pipis lagi aja Nduk.. Endah mau lagi khan es krim..”

“Mau Ndoro..”

Setelah aku siap, pahanya aku kangkangkan lagi lebih lebar, dan aku mulai memasukkan kepala pEnisku ke lubang surgawinya. Baru masuk sedikit, Endahku meringgis.

“Ndoro.. memek Endah diapain.. kok sakit..”

Aku sempat tarik ulur pEnisku di liang memeknya. Dan setelah kurasa mantap, aku tekan dengan keras. Aku rasakan ujung pEnisku merobek selaput tipis, yg aku yakin itu adalah selaput daranya.

“Ndoorroo.. sakiit..” Langsung aku peluk Endah, kuciumi wajah dan bibir mungilnya.

“Nggak apa-apa Nduk.. nanti enak kok.. Endah tenang saja ya..”

Setelah kudiamkan beberapa saat, aku mulai lagi memompa memeknya dan aku lihat masih meringis sambil menggigit bibir bawahnya.

“Oohh.. ahh.. auuhh.. geli Ndoro.. ahh..” itulah yg keluar dari mulutnya Endah.

“Auuhh.. oohh.., Ndoro.., periih.., aahh.. gelii Ndoro.. aahh..,”

SAmbil aku terus meusuk-nusuk memeknya, aku selalu perhatikan wajah imutnya Endah. Sungguh pemandangan yg luar biasa. Wajahnya memerah, bibirnyapun kadang-kadang menggigit bibir bawahnya dan kalau aku lihatnya matanya terkadang hanya terlihat putihnya saja. Kedua kaki Endah pun sudah tidak beraturan menendang kesana-kesini dan juga kedua tangannya menarik-narik seprei kasurku hingga terlepas dari kaitannya.

“Auuhh.. oohh.., ndoroo.., aahh.. ooh.. aahh, ndoroo..”.

Aku mulai rasakan ada denyutan-denyutan vaginanya di pEnisku, pertanda Endahku sebentar lagi orgasme. Kepala Endah pun mulai menengadah ke atas dan kadang-kadang badannya melengkung. Sungguh pemandangan yg sensasional, gadis 14 tahun yg masih begitu polos, tubuhnya mengelinjang dengan desahan-desahan yg betul-betul erotis. Aku yakin para pembaca setuju dengan pendapatku, tp tangannya pembaca kok megang-megang “itu” nya sendiri, hayo udah terangsang ya. Aku tahu kok, nggak usah malu-malu, terusin aja sambil membaca ceritaku ini.

“Oohh.. ahh.. auuhh.. geli ndoroo.. ahh..”

“Ndoroo.. Endah mau pipiiss.. ndoroo..”

“Seerr.. suurr.. suurr.., pEnisku seperti disiram air hangat..”

Aku peluk sebentar Endahku untuk memberikan kesempatan gadis kecilku menuntaskan orgamesme. Setelah agak reda, aku lumat-lumat bibir mungilnya.

“Maapin Endah ya Ndoro.. Endah pipis dikasurnya Ndoro..”

“Endah malu Ndoro.. udah gede masih ngompol di kasur..”

“Nggak apa-apa Nduk.. (lugu sekali gadisku ini).. Ndoro juga mau pipis di kasur kok..”

Aku sendiri sudah nggak tahan. Kakinya aku angkat, lalu kuletakkan di pundakku. Dengan posisi ini kurasakan pEnisku menyentuh dinding rahimnya. Memeknya jadi becek banget, dan aku mulai mempercepat sodokan pEnisku.

“Ndooro.. Endah capek.. Endah mau bobok.. ndooroo..”

“Iya nduuk.. Endah bobok saja yaa..”

“Memeek Endah periih.. ndooroo..”

Kutekan keras-keras pEnisku ke liang kenikmatannya dan kutarik pantatnya dan “croot.. cruut.. croot.. croot.. cruut.. croot..!”. Aku muntahkan pejuhku kedalam rahimnya.

Aku cabut pEnisku dari memek tembemnya, terlihat lendir putih bercampur dengan darah segar mengalir keluar dari liang kemaluannya.

“Ndoro.., kenapa Ndoro pipis diperutnya Endah.., perut Endah jadi hangat Ndoro..”

“Iya nduuk.., biar kamu nggak kedinginan.., ayo sekarang Endah bobok ya.., sini Ndoro kelonin..”

“Inggih Ndoro.., sekarang Endah capek.., Endah pengen bobok..”

Aku perhatikan memeknya sudah mulai melebar dan agak membelah dibandingkan sebelum aku perawanin. Aku peluk dia dan aku cium dengan mesra Endah, si gadis kecilku. Aku dan Endahpun akhirnya tertidur dengan pulas. Nikmaat.

Silahkan Klik langsung Di Bawah Ini : 

Bonus PromoNew Member 10%
 qqdomino

Bonus Referral Hingga 20%
 kiukiudomino

PokerVoVo Agent Judi Poker Online Terpercaya


Pokervovo adalah Agent Judi Poker Online yang terpercaya di bandingkan dengan web yang lain pada saat ini, mudah dan cepat transaksi di proses oleh kami. Pokervovo Prioritas kan kenyamanan dan aman untuk para member bermain di kami sehingga tidak terjadi hal hal yang tidak di ingin kan, apalagi merugikan para member.

Pokervovo menggunakan uang indonesia (Rp.) sebagai nilai taruhan. Minimal Deposit yang di tawarkan cukup ekonomis dan terjangkau oleh siapa pun.., minimal deposit dan withdraw Pokervovo untuk dapat bermain di pokervovo yaitu : Rp.25.000. 

Pokervovo.net di dalam nya terdapat banyak permainan, di antara nya yang saat ini terdapat permainan : 
1. POKER 
2. DOMINO99
3. CAPSA SUSUN
4. ADU Q
5. BANDAR Q
6. BANDAR POKER


Dengan hanya 1 akun anda register ke pokervovo.net, bisa bermain di banyak pilihan permainan dan menu-menu transaksi yang mudah di mengerti..
Bisa bermain di HP dengan mudah dan santai di mana pun anda berada.. :)
Segera di daftar kan dan bergabung di situs kami : http://goo.gl/DgNhqq
Kami AGENT yang aman, terpercaya dan berkuaLitas yang sudah teruji..

* Bonus ReferraL 20% Seumur Hidup
* Bonus Turnover (RakeBack 0.3%  )
* MinimaL Deposit & Withdraw : Rp. 25.000 
* Support 6 Bank Lokal : BCA -Mandiri - BRI - BNI - Danamon - Panin

Untuk info lebih Lanjut , SiLahkan hubungi kami :
- Live Chat di website kami
- Pin BBM : 5C479439 
- Line ID : pokervv 
- WhatsApp : +6281367015053
- YM : pokervovo@yahoo.com

Note : 
Link alternatif kami : pokervovo.net , pokervovo.me dan pokervovo.info )
Link Perhitungan Bonus Referral dan RakeBack kami : http://goo.gl/6boUdf
Bermain di HP : Android dan Iphone harus dengan download aplikasi game nya


Permainan Games Seru Dan Menguntungkan Silahkan Klik langsung Di Bawah Ini : 

Bonus PromoNew Member 10%
 qqdomino

Bonus Referral Hingga 20%
 kiukiudomino

CERITA ASIK DEWASA | TERBARU MERANGSANG TUBUH APOTEKER

TERBARU MERANGSANG TUBUH APOTEKER



Cerita Asik Dewasa Terbaru Merangsang Tubuh Apoteker - Cerita Ngentot Terhot, Aku pulang dari Balikpapan setelah berada di sana selama tiga minggu untuk urusan kantor. Aku tidak dapat pesawat yang langsung ke Jakarta, jadi terpaksa naik pesawat terakhir yang transit di Surabaya. Karena badan terasa lelah sekali, begitu pesawat take off aku langsung tertidur lelap dengan melepas seat belt agar lebih nyaman. Aku sudah tidak peduli dengan penumpang di sampingku. Seorang wanita berumur tiga puluhan. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara halus. “Pak, sandarannya ditegakkan dan sabuknya dipasang. Sudah mau landing”

Ternyata suara pramugari mengingatkanku. Aku setengah terkejut dan kesadaranku masih belum pulih ketika roda pesawat sudah menyentuh landasan. Setelah pesawat berhenti baru aku sadar sepenuhnya. Kemudian awak kabin mengumumkan pesawat akan transit selama 45 menit dan penumpang dipersilakan untuk turun menunggu di ruang tunggu bandara Juanda.

Karena aku duduk di dekat jendela, maka aku menunggu wanita tadi keluar dari bangkunya. Aku mengikuti barisan penumpang yang turun dan tak lama aku sudah berada di ruang tunggu. Wanita tadi duduk di depanku agak ke menyamping ke kanan.

Aku berdiri sebentar dan merentangkan tanganku agar otot-ototku relaks, lalu duduk lagi. Wanita tadi memperhatikanku sekilas. Kulempar senyum dan iapun membalas sekedarnya. Kacamata tipis, mungkin minus satu atau paling banter minus dua bertengger di hidungnya yang bagus.

Kubaca Matra Edisi Khusus yang kubeli di book store. Liputannya tentang kehidupan malam sepanjang Bopunjur. Tahu Bopunjur? Bogor, Puncak, Cianjur. Kubuka-buka sebentar dan sekilas isinya aku sudah tahu. Bahkan bukan sombong, tempat-tempat yang disebutkan di dalam liputan itupun bukanlah sesuatu yang asing bagiku. Akhirnya kuletakkan Matra tadi di atas meja di sampingku. Wanita tadi sekilas memperhatikan covernya.

“Mas, boleh pinjam majalahnya?” ia bertanya sambil mendekat mengambil Matra tadi.

Sayang, rupanya tempat duduknya kemudian diambil orang yang berdiri dan mengobrol dengan teman yang duduk di sebelah wanita tadi. Kuturunkan tasku dari bangku di sampingku dan tanpa disuruh wanita tadi sudah duduk di situ dan mulai membuka lembaran majalah yang dipegangnya.

Terdengar pengumuman bahwa pesawat yang kunaiki mengalami gangguan teknis sehingga pemberangkatan ditunda satu jam. Kudengar gerutuan sebagian penumpang. Wanita tadi cuma memiringkan kepalanya memperhatikan pengumuman tadi dan setelah itu ia kembali asyik membaca.

Setelah tiga puluh menit membaca, ia menyerahkan majalah itu kembali padaku sambil mengucapkan terima kasih. Aku memulai percakapan.

“Ke Jakarta?” tanyaku.

“Iya, untuk tugas dari kantor,” jawabnya.

“Di Jakarta tinggal di mana?” tanyaku lagi.

“Belum tahu, sebenarnya saya harus ke Ciawi untuk ikut kursus, tapi nampaknya kita akan kemalaman tiba di Cengkareng. Aku sendiri belum hafal Kota Jakarta. Apalagi malam hari. Tadi kalau berangkat siang sih sebenarnya ada panitia yang jemput. Mau langsung ke Ciawi agak ngeri, apalagi setelah membaca liputan tadi”.

Dari logatnya aku menduga ia berasal dari Banjar. Setelah kutanyakan kepadanya ternyata benar dan ia sudah bekerja di Balikpapan selama lima tahun. Aku tidak menanyakan statusnya. Buat apa pikirku. Toh aku tidak berniat memacarinya.

“Kerja di mana sih?” Pertanyaanku mulai menjurus hal-hal yang personal.

“Saya apoteker”.

“Pantas bajunya bau obat,” aku kelepasan bicara. Aku baru sadar setelahnya. Ia melengos mukanya memerah, mungkin tersinggung dengan ucapanku tadi.

Satu jam berlalu dan kulihat ia menjadi gelisah sambil terus-menerus memandang keluar, ke arah landasan. Akhirnya setelah seperempat jam kemudian pesawat kami sudah siap melanjutkan penerbangan dan para penumpangpun naik ke pesawat.

Lima puluh menit kemudian pesawat sudah tiba di Cengkareng. Karena tidak bawa bagasi, aku bergegas keluar. Wanita tadi masih menunggu tas satunya di bagasi. Aku masih berdiri di luar sambil cari-cari taksi ketika wanita tadi mendekatiku.

“Mas pulangnya kemana?”

“Saya tinggal di Jakarta Timur”.

Dia kelihatan ragu hendak mengatakan sesuatu. Aku menduga-duga ini ada kaitannya dengan tujuan kepergiannya.

“Kalau mau begini saja. Mbak nginap saja di hotel, besok pagi baru berangkat ke Ciawi. Lebih aman,” kataku menyarankan. Kulihat dia ragu-ragu dan kelihatan seperti sosok yang lemah. Dia menatapku lagi seakan-akan minta perlindungan.

“OK, jadi begini, Mbak nginap di hotel. Saya akan temani. Eh.. Maksudnya saya ambil kamar satu juga di sana. Besok pagi saya antar ke Ciawi. Kebetulan saya masih ada kelebihan hari perjalanan dinas,” kataku memutuskan.

Akhirnya dia setuju dan mukanya menjadi cerah.

“Oh ya maaf, dari tadi kita belum kenalan. Saya Monna,” katanya sambil mengulurkan tangan.

“Kevin,” kataku sambil kujabat tangannya.

Aku berpikir, kalau saja dia tidak memerlukan pertolonganku, mungkin dia tidak akan mengajak berkenalan. Tapi wajar saja karena dia perempuan.

Beberapa menit kemudian kami sudah sampai di sebuah hotel di kawasan Matraman. Kami dapat kamar bersebelahan. Kami masing-masing masuk ke kamar dan berjanji untuk makan di bawah setelah mandi dan merapikan diri. Setengah jam kemudian kuketuk pintu kamarnya. Tok tok tok.

“Monna.. Monna. Ini Kevin”.

“Tunggu sebentar Mas”.

Tak lama kemudian ia membuka pintu kamarnya. Kulihat sekilas barangnya masih berantakan di atas ranjang. Kamipun segera turun ke bawah untuk mencari makanan. Dengan pertimbangan biaya kuajak dia untuk makan di warung tenda saja. Di Jakarta tidak ada tempat untuk gengsi.

“Saya dari Balikpapan kepingin makan gudeg setelah sampai di Jawa,” katanya.

“Ada, nanti kita cari,” jawabku sambil menyusuri trotoar.

Jalan sudah mulai lancar, kupegang tangan kanannya. Ia terkejut dan dengan halus menarik tangannya. Sekilas kulihat jarum pendek sudah melewati angka sembilan.

“Sorry.. Saya hanya mau lihat jam saja kok”. Ia hanya menunduk dan kamipun terus berjalan.

Setelah makan gudeg, kami kembali ke hotel dan duduk di lobby. Rasa penat masih terasa di badanku. Aku sebenarnya mau massage, tapi nggak enak sama Monna. Kami masih bicara ke sana ke mari, sampai akhirnya kami merasa mengantuk. Kulihat jam dinding menunjukkan jam setengah sebelas.

Kami naik dan kuantar dia di depan kamarnya. Kuharap dia mempersilakanku masuk, namun Monna hanya mengucapkan terima kasih kemudian selamat malam dan menutup pintunya. Sekilas kulihat sorot matanya yang berbinar memandangku.

Aku masuk ke kamar dan langsung membaringkan diri ke atas ranjang tanpa membuka pakaianku. Kucoba untuk memejamkan mata, tetapi tidak bisa. Kubayangkan Monna yang tidur sendirian di kamar sebelah. Lebih satu jam aku hanya bergolek ke kanan kekiri tanpa bisa memejamkan mata.

Akhirnya kuputuskan kuhubungi saja gadis di kamar sebelah ini. Kuraih gagang telepon dan kutekan nomor kamarnya, 237. Setelah beberapa kali berdering kemudian dari seberang terdengar suara agak serak,

Ingin Daftar Permainan Games Judi Online Silahkan Saja Klik Dibawah Ini :


“Hallo”.

“Monna, belum tidur kan?”

“Eh.. Mas Kevin. Belum Mas, mataku tidak bisa terpejam. Padahal di lobby tadi sudah menguap terus. Mikirin besok pagi”.

“Atau lagi mikirin yang lainnya kali,” kataku menggodanya.

“Ahh Mas Kevin ini ada-ada saja”.

“Kita ngobrol lagi aja yuk,” ajakku.

“Sudah malam, nggak enak dilihatin orang nanti”.

“Ini Jakarta Non, saya ke kamarmu ya?” kataku dengan nada setengah memaksa.

“Iya deh,” katanya lemah.

Kuketok pintu kamarnya tiga kali dan kemudian pintu dibuka dari dalam. Aku masuk, kini barangnya gantian berantakan di atas kursi.

“Maaf Mas, berantakan. Belum sempat beresin. Rencananya besok aja sekalian berkemas. Duduk, Mas!”.

Aku mengedarkan pandanganku. Karena sudah tidak ada tempat duduk lagi maka aku duduk diatas ranjangnya. Kami akhirnya ngobrol tentang pengalaman kami masing-masing saat masih kuliah. Semakin lama semakin seru topik obrolan kami. Ia mengeluarkan dua kaleng minuman ringan dari mini bar. Dan meletakkannya di antara kami.

“Diminum Mas”.

Aku mengambil satu kaleng tapi tidak kubuka, hanya kupegang-pegang saja. Entah bagaimana awalnya, tangannya tiba-tiba sudah kupegang dan kutarik dia ke pangkuanku. Kucium bibirnya dengan ganas. Monna menghindari ciumanku, tapi aku tidak menyerah. Kucoba lagi, kali ini bibirku mendarat pas pada bibirnya. Ia meronta sebentar tapi kemudian ia membalas ciumanku dengan tidak kalah ganasnya.

“Mas.. Ah.. Ehh .. Ouhh,” Ia gelagapan membalas seranganku.

Kulepaskan seranganku sebentar karena aku merasa jalan tol sudah terbuka di depanku, sekarang tinggal tunggu saat yang tepat saja untuk memacu mobilku. Kutatap dia dengan tajam. Ia kelihatan jengah dan menghindari tatapanku. Ketika mata kami saling bertemu, aku memberi isyarat dengan menganggukkan kepalaku. Iapun mengangguk malu dan menundukkan mukanya.

Aku sedikit terkejut ketika sadar bahwa ia tidak mengenakan bra di bawah kausnya. Aku tahu karena putingnya menonjol, membentuk bayangan satu titik di kausnya. Aku tersenyum sambil melirik pada payudara Monna.

Monna hanya tersenyum melihatku, kakinya ditaruh di atas pahaku dan dia menyodorkan dadanya ke depan mukaku. Tanpa diberi komando aku langsung meremas payudaranya dengan penuh nafsu. Tanganku kemudian membuka kausnya. Aku menciumi payudaranya dan menghisap putingnya yang mulai mengeras. Tangan Monna membelai rambutku sambil sesekali mendorongnya ke payudaranya.

Aku menggunakan jariku untuk membelai daerah selangkangannya, dan jariku juga mulai menekan terutama di lipatan memeknya. Tangan Monna digesek-gesekan di k0nt0lku yang juga sudah mengeras.

“Aah.. Mas ss.. Enak.. Teruss.. Kevin.. Ahh”

Mendengar erangan Monna nafsuku sudah tidak dapat ditahan lagi. Aku merebahkan diri sambil menciumi leher Monna dan naik ke bibirnya. Kubuka celana panjangku. Aku terus menciumnya dengan penuh nafsu, kutindih tubuhnya diatas spring bed yang empuk. Kulirik bayangan di kaca lemari. Badanku yang besar seolah-olah menenggelamkan badannya yang mungil. Sambil mendesah Monna tertawa kegelian,

“Ahh.. Nafsu amat sih..”

Kubuka celana pendeknya dan kutarik sekaligus dengan celana dalamnya.

“Akhh..”

Kami saling mengulum bibir dengan penuh nafsu, nafas kami mulai tidak teratur. Kaki Monna menjepit pinggangku Aku menciumi leher kemudian turun ke payudaranya, lalu aku hisap putingnya. Terus turun dan menghisap pusarnya, Monna tidak tahan diperlakukan demikian,

“Kevin.. Akh.. Geli akh..,”

Aku terus menciuminya lalu aku turun dan saat sampai di depan selangkangannya aku menurunkan kepalaku, menjilati paha dan sesekali menggigitnya. Dia mengganjal kepalanya dengan bantal dan memperhatikanku. Ketika mulutku akan menyapu memeknya ia menarik kepalaku ke atas dan menciumiku kembali.

“Jangan.. Aku tidak biasa..”.

K0nt0lku kuarahkan ke memeknya yang basah, kutekan perlahan dan saat sudah masuk setengahnya aku menekan dengan keras.

“Sshh.. Akhh.. Terus To.. Akh..,” Monna merintih

Bibir kami saling bertautan dengan kuat. Ketika kulepaskan bibirnya yang justru mencari-cari bibirku. Mulutnya setengah terbuka sambil mendesis-desis. Aku menggerakkan k0nt0lku dengan perlahan dan kadang aku percepat temponya. Rasanya k0nt0lku dijepit dan diremas-remas dengan kuat oleh otot memeknya. Dan hal ini membuat aku semakin tidak tahan, k0nt0lku rasanya sudah hampir meledak.

Aku terus memompa k0nt0lku di memeknya dengan tempo yang bertambah cepat. Nafasku mulai memburu. Payudaranya kuremas dan kupencet sehingga putingnya bertambah menonjol. Kujilati putingnya dan kugigit-gigit dengan bibirku. Aku menghnetak-hentakkan tubuh Monna ke ranjang dengan kasar saat aku sudah tidak dapat menahan ledakan k0nt0lku,

“Monnl Monna.. Akh.. Ouch.. Akh..”.

Kurasakan tubuh Monna juga mulai bergetar dan bergerak-gerak dengan irama yang liar. Matanya merem melek, bola matanya memutih. Kakinya menjepit pinggangku. Tubuhku mengejang dan aku menekan tubuh Monna hingga semakin tubuh kami semakin merapat.

“Akh.. Kevin.. Nikmat sekali.. Sss”

“Yeah Monna.. Akh. Kalau saja dari tadi.. Pasti aku..”

“Akh.. Tekan yang cepat dan kuat.. Akh..”

Mata Monna merem melek menikmati sodokan k0nt0lku. Aku kemudian mengangkat kedua kakinya dan memegangnya dengan tanganku. Aku dalam posisi setengah jongkok dengan tumpuan kedua lututku. Tanganku memegang pinggangnya dan k0nt0lku menekan dengan irama yang semakin cepat. Memeknya terasa basah dan becek, namun k0nt0lku bagaikan dijepit kuat dengan tang.

“Akgh Kevin.. Aku hampir.. A a kku.. Hampir keluarhh.. Ouchhggakhh,”

Kurebahkan tubuhku diatas tubuhnya dan kupeluk dengan rapat. Aku menikmati ekspresinya saat Monna menunggu mencapai orgasmenya. Kudiamkan sejenak gerakan k0nt0lku. Monna memprotes dan tangannya memegang pinggangku serta menggerakkannya naik turun. Kurasa tensinya sedikit turun. Aku masih ingin menikmati permainan dan kuharapkan dapat kucapai puncak bersama-sama.

Aku mengehentakkan pantatku naik turun dengan sedikit kasar. Keringat kami sudah mulai bercucuran. Tangan Monna meremas-remas pantatku dan kadang menariknya seolah-oleh k0nt0lku kurang dalam masuk dalam memeknya. Saat aku merasakan hampir meledak aku melambatkan gerakanku dan mengatur nafasku sambil menghisap putingnya, ketika perasaan itu sedikit hilang aku mulai bergerak lagi.

Tangannya meremas pundakku dan dengan liar bibirnya mencari bibirku. Dia mendesah dan gerakannya sangat liar. Aku tahu kini saatnya kami dapat mencapai puncak kenikmatan tertinggi bersama-sama.

“Yeah.. Kevin.. Akhh. Kamu belum mau keluar juga.. Akhh ouchh..”

Monna mengejang dia mengangkat pantat menekan k0nt0lku sehingga rasanya sampai di dasar rahimnya dan k0nt0lku serasa disedot dengan kuat, tubuh Monna melengkung dan tangannya mengusap pipiku dengan kuat. Kutekan pantatku perlahan namun penuh tenaga.

“Yeacchchh..”.

Tubuh kami menggelinjang dengan hebat, kami berteriak dan tidak perduli jika ada orang lain yang mendengarnya.

“Akhh.. To.. Kevin.. Aakkhh..”.

“Monna kamu hebataunhh.. Akh.. Ouchhakhh.. Akh.. Ouch..”

Kami mengelepar menikmati kenikmatan yang kami rasakan bersama. Aku beranjak bangun dari tubuhnya saat k0nt0lku sudah mengecil, Tubuhnya bergetar saat aku mencabut k0nt0lku.

“Kau luar biasa Monn.. Hmm.. Tabat Barito ya!” pujiku.

Ia tersenyum saja dan menggayut di lenganku, “Kok tahu aja sih..”. Katanya manja.

“Apoteker yang punya obat-obatan lengkappun masih mengandalkan Tabat Barito. Luar biasa memang,” kataku lagi.

Kami tidur berpelukan sampai pagi dan paginya kuantarkan dia ke Ciawi. Dia berjanji akan menginap lagi semalam di Jakarta dan memberikan lebih lagi nanti pada saat dia mau pulang ke Balikpapan.

Silahkan Klik langsung Di Bawah Ini : 

Bonus PromoNew Member 10%
 qqdomino

Bonus Referral Hingga 20%
 kiukiudomino

Facebook

Advertising

Histats