Tampilkan postingan dengan label Cerita ABG Sex. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita ABG Sex. Tampilkan semua postingan

CERITA ASIK DEWASA | DELLA GADIS MUNGIL BERNAFSU LIAR

DELLA GADIS MUNGIL BERNAFSU LIAR


Cerita Asik Dewasa : Della Gadis Mungil Bernafsu Liar, Perkenalanku dengan Della terjadi pada sekitar tahun 1998. Della saat itu berusia 29 tahun, telah bersuami dengan 2 orang anak, tinggi 160 cm, 47 kg, bodi sangat sintal dan dada berukuran 34B.

Sebagai seorang wanita keraton berdarah biru, Della adalah wanita yang lugu dalam hubungan sex namun dia adalah seorang wanita tipe penggoda dan berani dalam berpakaian. Tidak jarang dia ke kantor dengan menggunakan rok sangat mini hingga memperlihatkan bentuk kakinya yang indah dan jarang mengenakan BH. Hal ini aku ketahui dari ceritanya sendiri. Pada awalnya kami bersahabat akrab tanpa orientasi berhubungan sex. Dia punya seorang pacar selain suaminya. Sering kami membicarakan teknik-teknik bagaimana dia melakukan hubungan sex dengan sang pacar yang aku nilai masih konvensional.

Beberapa kali kami pergi ke cafe-cafe sepulang kantor (kantor kami berlainan) sekedar melepas penat dan menunggu macet. Setiap kali mengunjungi cafe, mata para lelaki pada umumnya menoleh dan tidak sedikit yang berusaha untuk berkenalan. Beberapa di antaranya akhirnya memang dapat berkenalan. Aku tidak pernah melarang atau marah akan hal itu, malah aku bangga bahwa ternyata aku tidak salah memilih teman wanita untuk diajak jalan bersama.

Kami mulai sering pergi ke diskotek sampai pulang pagi, kadang aku jemput dia ke rumahnya, dengan ijin sang suami tentunya. Pernah kami pergi bertiga pergi ke diskotek dengan suaminya, lalu Della dengan entengnya mencari seorang wanita di diskotek dan menyuruh wanita itu menemani suaminya, sedangkan Della berdua dengan aku di pojok lain diskotek itu.

Pada pertengahan Agustus 99, hari Jumat siang aku telepon dia..

“Del.., ntar malam kita jalan yuk..” ajakku.
“Siapa takut, jemput di rumah ya.. Jam 10..” katanya.
“H.. (suaminya) gimana.. Apa kita ajak saja..?” tanyaku.
“Gak usah.. Biar kita bebas di sana..” katanya.
“Eh.. Boleh order nggak?”
“Apa?”
“Lu pakai celana panjang ketat loreng itu ya, terus atasnya kemeja satin longgar dan hmm.. Jangan pakai BH ya..”
“pakai celana dalam nggak nih.. He he he..” ujarnya
“Terserah.. Kalau berani..”
“Wah banyak orderannya ya.. OK dah.. See you at 10 tonight.. Bye..” langsung telepon ditutupnya.

Malamnya Della telah siap. Dia tampak cantik dan sexy sekali dengan kemeja satin tipis tanpa lengan warna merah dengan bagian bawah diikat di perutnya hingga terlihat putingnya tercetak jelas di dadanya menonjol kencang, siapa pun yang melihat, pasti tahu bahwa dia tidak pakai BH apalagi dengan 2 kancing atasnya dibiarkan terbuka.

Surprise, ternyata dia pakai rok sangat mini potongan pinggul, hanya 10 cm dari selangkangannya dengan bahan sutra berkibar-kibar karena bawahan yang lebar hingga samar-samar terlihat bulatan pantatnya yang polos tanpa garis CD.

“Lu pakai CD nggak?” tanya Della padaku di perjalanan.
“Ya pakai dong, kalo nggak kan nanti keliatan menggantung” ujarku.
“Gak akan nggantung kalo ngaceng keras kan? Itu pun kalo bisa ngaceng lho, ha ha ha..” kata Della sambil mengusap penisku dari luar celana. Serr, terasa ada yang bergejolak di bagian bawah perutku. Untuk pertama kalinya dia meraba penisku selama persahabatan kami hampir 1 tahun.
“Emangnya lu sanggup bikin gua ngaceng terus di sana..?” aku balik bertanya.
“Heh.. Liat aja nanti, kalau aku nggak bisa, ntar aku minta bantuan cewe lain..” katanya enteng.
“OK, kalau perlu gua buka nanti” ujarku perlahan.

Selama ini memang aku belum pernah menunjukkan keinginan atau mengajak dia untuk berhubungan sex walaupun sering aku terangsang bila mendengar cerita-cerita dia atau pada saat saat kami pergi bersama dengan pakaiannya yang sexy dan agak terbuka.

Setiba di tujuan sekitar pukul 22.30, tempat parkir yang biasa aku tempati di depan pintu utama belum penuh. Petugas valet langgananku seperti biasa sudah menunggu, tapi Della minta agar kami parkir sendiri saja sehingga aku terpaksa kembali memutar dan mengambil tempat di samping gedung, lajur parkir ketiga dari pintu masuk samping.

“Lho kok nggak berani?” celetuk Della.
“Apanya nggak berani?” tanyaku heran.
“Berani nggak lepas CD-nya, makanya gua minta lu parkir sendiri” tantangnya.

Akhirnya aku lepas celana panjangku agar bisa melepas CD. Saat CD-ku terlepas, tangan kanan Della dengan cepat menggenggam penisku sebentar. Kembali serr.. terasa ada aliran darah menuju penisku yang membuatnya sedikit membesar. Tapi genggamannya yang tidak lebih dari 1 detik, membuat penisku surut kembali tanpa aku bisa bereaksi apapun.

“Kok nggak sesuai dengan iklannya, katanya besar?” dia tersenyum.
“Pegangnya jangan cuma sedetik dong, agak lama dikit..”, aku protes.
“Ya udah, nanti di dalam kita bikin sensasi ya..”, aku belum bisa membayangkan, apa yang akan diperbuat Della di dalam nanti.

Kami masuk lewat pintu samping menuju tangga dimana banyak para tamu yang sedang duduk di luar tempat karaoke di bawah diskotek yang kami tuju. Mulai dari pintu masuk terasa sekali bahwa semuanya baik lelaki maupun wanita yang kebanyakan pramuria matanya mendelik melihat Della, apalagi saat berada di tangga. Aku yakin bahwa bulatan pantat Della terlihat jelas sekali dari bawah. Keadaan tersebut tidak kami pedulikan bahkan dengan bangganya aku berjalan dan Della menggandeng lenganku sampai terasa buah dadanya tertekan di lengan kananku.

Sesampai di dalam, kami mengambil tempat yang biasa kami tempati yaitu meja bundar tinggi di bagian depan kanan dekat dance floor. Ternyata beberapa teman kami telah berada di sana, 7 lelaki dan 5 wanita sehingga total ada 14 orang dengan mengambil 4 meja yang dibuat agak melingkar sehingga ada ruang di tengah tengah keempat meja tersebut

Pada saat menghampiri mereka, para lelaki yang memang telah kenal dengan Della, berteriak sambil memandang tanpa berkedip..

“Wah wah wah.. Gilee.. Ada angin apa nih si Della sampai mini begini pakaiannya, nanti striptease aja, berani nggak?” ujar Dino sambil bergurau.
“Gilaa lu ya, striptease jangan di tempat umum gini dong, kalau setengah striptease boleh boleh aja nanti, kalau udah tipsy ya, tapi gua nggak tanggung kalo lu pada horny ya..” katanya sambil memperlihatkan mimik yang menggemaskan.
“Del, mau bikin sensasi apa lagi nih..” Vivi dan Ratih terbengong bengong.
“Bukan mau bikin sensasi, abis ada pesanan khusus untuk malam ini, gua nggak boleh pakai BH, jadi sekalian aja dah gua nggak pakai CD..”
“Haahh..” tangan Vivi secara spontan meraba pantat Della, demikian pula tanganku yang berdiri di sampingnya. Ternyata dia pakai G-String tipis sehingga memang bulatan pantatnya sangat terbuka.

Akhirnya kami larut dalam irama musik disco yang menggelegar, 2 botol XO dan 2 botol Chivas kami tenggak, beberapa sloki XO murni telah masuk ke perutku dan Della terlihat semakin berani meliuk-liukkan tubuhnya dengan gaya yang sangat merangsang, kadang berdansa bersamaku, kadang dengan Vivi ataupun dengan Dino dan yang lainnya.

Semakin dia bergoyang, semakin terlihat jelas bentuk buah dadanya pun bergoyang, bahkan kadang sampai putingnya dapat terlihat jelas dari arah samping karena dengan kedua kancing yang terbuka, otomatis kancing ketiga berada di bawah buah dadanya.

Pada saat kami berdansa, terasa bagian perut ataupun pantat Della selalu menekan dan menggesek gesek penisku hingga mengakibatkan ereksi, tapi dengan acuhnya dia tidak berkomentar, kadang sengaja aku tarik tangannya agar memegangnya, tapi dia menepiskan tanganku. Huh, aku semakin penasaran jadinya. Tanpa CD, dengan bahan celana lemas yang aku pakai, jelas terlihat bahwa penisku sudah berdiri tegak hingga dapat tertangkap oleh sudut mataku bahwa Vivi, Ratih dan lainnya kadang kadang melirik ke bawahku.

Jam sudah menunjukkan pukul 23:30. kulihat Della sudah typsy sekali. Aku tarik dia. Sambil duduk aku peluk pinggangnya.

“Del, kamu diam saja ya, gua mau kamu lebih sexy lagi, biar meja-meja sebelah makin melotot melihat kamu” bisikku sambil kujilat belakang daun telinganya. Dia menggelinjang sambil makin mempererat pelukannya ke tubuhku.
“Whatever you want honey” bisiknya juga sambil menggigit ringan leherku.

Aku dorong dia sedikit ke belakang, lalu aku buka seluruh kancing kemejanya dari atas sampai bawah sambil sekilas kuraba buah dadanya dari balik kemejanya dan aku ikat ujungnya di perut Della agak ke atas sampai sedikit di bawah buah dadanya, sehingga sebagian pinggir buah dada Della semakin terlihat jelas dari pinggir, apalagi dengan kemeja yang longgar, kadang kadang dengan goyangan yang meliuk-liuk, putingnya sampai terlihat keluar.

Pada saat aku mengerjakan hal itu, tangan Della meremas-remas penisku dari luar celana hingga penisku semakin ereksi keras dan tegak, lalu dia kembali berbisik..

“Ternyata promosinya nggak salah ya..” lirihnya di telingaku.

Dibukanya ritsletingku dan digenggamnya penisku. Tangannya tidak muat untuk melingkari batang penisku. Diusapnya lubang penisku, aku sampai merinding keenakan, kepalanya ditundukkan dan dijilatnya kepala penisku sebentar, lalu ditutupnya kembali ritsletingku. Mataku menangkap Vivi dan Ratih melihat apa yang Della lakukan.

Della terlihat sexy sekali dengan pakaian tersebut. Berdua dengan Vivi mereka turun ke dance floor hingga terlihat banyak sekali lelaki yang mengerubutinya. Dengan genitnya Della dan Vivi menggoda semua lelaki, tapi setelah 3 lagu Della kembali.

“Vivi tadi bertanya, enak nggak ngewe sama lu” kata-kata vulgarnya mulai keluar, tapi justru manambah gairah bagi kami berdua.
“Lu jawab apa” aku balik bertanya.
“Gua bilang, belum pernah, jadi belum tau rasanya” dia terheran-heran.
“Dia bilang, Jadi ngapain aja kalian selama ini” kata Della.
“Gua cerita bahwa kita sering diskusi tentang ngewe, banyak teknik teknik yang lu ajarkan, tapi gua belum mempraktekannya, lantaran suami dan pacar gua yang konvensional” kata dia di pelukanku sambil kadang-kadang berciuman bibir.

Aku hanya tertawa mendengarnya sambil meremas-remas pantatnya dan sesekali kumasukkan telunjukku ke belahan pantatnya untuk mencari anusnya.

Ingin Daftar Permainan Games Judi Online Silahkan Saja Klik Dibawah Ini :


“Vivi bilang gua musti cepet cepet menguji kamu secara praktek, jangan hanya teori saja, kalau gua nggak mau, Vivi siap buat menguji. Dia tadi sudah liat penis lu, dia bilang punya Dino nggak ada apa apanya, ukuran sih OK, tapi ilmu belum tau” katanya.
“Bilang aja ke Vivi, mendingan jangan berani coba gua, soalnya kalau sampai ketagihan celaka, kasihan si Dino, temen gue juga tuh” dengan PD-nya aku menantang.

Della menarik tangan Vivi sehingga kami bertiga mengobrol dan Della menyampaikan pesanku pada Vivi..

“Vi.. Dia OK, tapi kalau sampai lu yang minta nambah, lu musti mau jadi sex partner dia tiap saat” Wah, Della ngarang nih, pikirku. Tapi aku hanya tersenyum sambil terus bergoyang mengikuti irama lagu.
“Kita liat aja, siapa yang minta nambah” protes Vivi.
“Gue juga belum tau sih ilmu dia, selama ini kan cuma omong doang” sergah Della.

Aku tarik Vivi, punggungnya menyandar di badanku dan pantatnya menekan penisku, kulingkarkan tanganku di perutnya sambil kutepuk bahu Della, mataku mengerling ke arah Dino, Della mengerti maksudku.

“Vi.. Kamu di sini aja ya, gua pengen tau Dino bisa ngaceng nggak” kata Della sambil menghampiri Dino.

Aku dan Vivi menonton aksi Della meliukkan pinggulnya di hadapan Dino semakin lama semakin rapat sampai akhirnya penis Dino terkena goyangan bagian bawah perut Della.

Rupanya Vivi terkena gairah atau karena tidak mau kalah karena cowoknya dirangsang sedemikian rupa oleh Della, atau mungkin juga karena tersengat listrik dari buah dadanya karena tangan kananku sudah naik dari perut dan meremas dada kirinya walau masih terhalang BH tipis. Kalah kenyal dibanding milik Della, tapi lebih besar, kuperkirakan 36C. Tangan Vivi merayap ke belakang lalu meremas-remas penisku dari luar celanaku.

“Haah.. Gila lu ya, nggak pakai CD..”?, tanyanya kebingungan.
“Della yang minta..” jawabku.
“Lu berdua emang pada gila ya..” bisiknya sambil menolehkan mukanya ke belakang.

Kesempatan itu aku gunakan untuk menangkap bibirnya lalu kami berciuman. Kumasukkan lidahku ke mulutnya mencari lidahnya sambil menghisap bibir atasnya. Sementara terasa putingnya bertambah keras pertanda dia telah terangsang. Sementara Della berciuman dengan Dino sambil tangan kanannya meremas-remas penis Dino. Akhirnya Vivi berbalik dan kembali kami berciuman dengan bergairah dan aku balas dengan meremas buah dadanya.

“Vir, kata Della lu jago ya..” bisiknya di telingaku
“Dia cerita apa?” tanyaku.
“Della bilang, lu punya variasi dan teknik sexual yang tinggi, lidah kamu juga maut, mulanya dia tidak berminat, tapi sekali coba dia ketagihan, sekarang cowoknya mau ditinggalin tuh” ujarnya. Wah, aku jadi bingung mana yang benar nih..
“Terus terang gua belum pernah main dengan dia, mungkin dia cuma promosi” kembali aku berbisik sambil berusaha merangsang leher dan telinga dia.
“Ternyata dia benar, gua cuma mancing kok, nanti kalau Della sudah nyoba lu, giliran kedua dengan aku ya”.
“Tanya dia dulu, boleh nggak?” ujarku sambil tertawa.
“Della sudah OK, dia bilang kalau perlu sama sama”

Della kembali bersama kami, terlihat Dino sibuk membetulkan letak penisnya karena berdiri jadi harus tegak ke atas arahnya. Melihat Vivi sedang meremas penisku, Della tidak mau kalah, lalu kedua tangan mereka secara bersama-sama memegang dan meremas penisku. Dengan posisi mereka di kanan kiriku, tidak ada yang melihat apa yang dilakukan tangan mereka. Della membuka resletingku dan mengeluarkan penisku, diambilnya tangan Vivi lalu digenggamkannya ke penisku. Vivi terkejut ketika menggenggam penisku tanpa bisa berkomentar.

“Vi.., katanya mau ngisep?” kata Della.
“Ngak dulu ah, nanti aja kapan-kapan” ujar Vivi.
“Berani nggak lu lawan kita berdua?” tanya Della kepadaku. Aku sampai menggeleng gelengkan kepala. Sejak kapan Della menjadi liar begini. Aku hanya berkata..
“Someday OK, but not now”

Akhirnya aku dan Della pulang sekitar jam 2 pagi. Sesampai di mobil, dengan buas Della membuka celanaku, penisku diremas-remasnya, saat memasuki tol, kepalanya mulai hilang dari pandangan belakang, lidahnya sibuk menjilat, mengulum dan mengocok penisku dengan mulutnya. Terasa terkadang masih kena gigi dan cara kulumannya menyisakan ruang udara di mulutnya yang mengurangi kenikmatan bagi lelaki yang merasakannya.

Aku ambil tangannya, aku hisap jari telunjuk dan jari tengahnya dengan cara tanpa menyisakan udara di mulutku. Ternyata Della langsung mengerti maksudku karena segera saja dia mengubah cara menghisap penisku.

“Ngajarinnya teori melulu sih, nggak pakai praktek jadi masih bego, praktek dong.., hayo sekarang.. Murid kan musti ujian praktek.. Dino juga tadi gila, tangannya masuk ke vagina gue..” rengeknya.

Aku mengarahkan mobil ke apartemenku di kawasan S, aku memang mempunyai sebuah apartemen khusus untuk berkumpul bersama kawan-kawan dan sebagai tempat untuk petualangan sex-ku ini. Sesampai di apartemenku, Della dengan tidak sabar langsung memeluk dan mendorongku ke dinding sambil membuka kancing baju serta celanaku. Seketika aku telanjang bulat. Sedangkan Della yang sejak di mobil sudah melemparkan seluruh pakaiannya hingga tinggal mengenakan G-String, langsung masuk lift dari basement tempat parkir. Untung saja aku dapat tempat parkir persis di sebelah lift.

Setelah kami masing-masing minum setengah gelas red wine, didorongnya tubuhku ke sofa, lalu dia berjongkok sambil menarik kakiku. Lidahnya menjalar di telapak kaki, seluruh jari-jariku dikulum dan dihisapnya hingga rasa gelinya tidak tertahankan, lalu naik ke betis, lutut dan bagian dalam pahaku.

“Dell.. Ooh, enak Del.., ternyata lu jago ya” aku mengerang.
“Baru segitu!!, Nikmati aja jangan kasih komentar dulu, ini belum apa apa..” katanya.

Sesampai di selangkangan, dijilatnya buah pelirku dengan sangat bernafsu sampai aku merintih keenakan, lalu dia naik menuju perut. Dihisapnya putingku kanan kiri, diangkatnya tanganku sambil dijilat dan dihisapnya ketiakku, penisku hanya dipegang saja. Aku berteriak sejadi-jadinya karena memang di situlah titik kelemahanku. Lalu kami berciuman, bersilat lidah, berlomba saling memasukkan dan menghisap lidah kami pada mulut pasangan masing-masing.

Kemudian tubuhku dibalikkan sehingga aku berada dalam posisi tengkurap dan dia naik menindih badanku dari belakang, dijilatnya mulai dari leher, lalu ke seluruh punggung dari ujung ke ujung dengan hawa nafsu birahi yang sudah sampai ubun-ubun, tak ada satu inchi pun yang terlewat dari lidahnya. Sampai di pantatku, lidahnya bermain main di ujung atas belahan pantatku sambil terkadang dihisapnya daerah itu hingga terasa nikmat yang amat sangat di daerah itu.

Lalu lidahnya ditarik ke bawah menyusuri belahan bulatan pantatku dan tiba di selangkanganku. Aku berdebar penasaran menanti Della melanjutkan permainan lidahnya menuju puncaknya yaitu penisku. Tapi dia tidak melakukannya, malah lidahnya kembali menelusuri paha sampai kembali ke ujung telapak kakiku.

Kali ini permainan mulut dan lidahnya di jari-jari kakiku lebih luar biasa dari yang tadi, masing-masing jari terutama jari manis dan jari tengah kakiku dipelintir di dalam mulutnya sambil kepalanya diputar ke kiri dan kanan.

Kulihat jam, 30 menit sudah penisku berdiri tegak sempurna, sangat keras sampai pegal dan tergencet pada sofa, Della menyiksaku sedemikian rupa hingga ingin rasanya aku kocok sendiri penisku, tapi setiap kali aku angkat pantat dan memegang penisku, tanganku selalu ditepis oleh Della, dia mengatakan bahwa penisku akan digilirnya nanti.

Akhirnya dia kembali naik menyusuri betis dan pahaku. Diangkatnya pantatku lalu diambilnya 2 buah bantal sofa dan disisipkannya di bawah pinggulku sehingga aku berada dalam posisi menungging, digigitnya bukit pantatku lalu dibukanya belahan pantatku dengan kedua ibu jarinya.

Terasa ada daging hangat menempel di bibir lubang anusku dan berbeda dengan tadi, kali ini Della dengan perlahannya memutar-mutarkan ujung lidahnya di sekeliling bibir anusku. Rasanya luar biasa, penisku sudah sedemikian kerasnya sampai sampai hampir meledak rasanya.

“Aaggh.. Oohh.. Del.. Enak amat..”

Della semakin bernafsu mendengar teriakanku dan rupanya masih belum selesai juga. Della dengan perlahan pula melesakkan ujung lidahnya yang keras ke dalam lubang anusku hingga mungkin ada kira kira 2 cm masuk ke dalam, lalu lidahnya diputar-putar di dalam anusku. Aku sampai menggeliat-geliatkan pantatku, tapi Della dengan sigapnya menahan pantatku agar lidahnya tidak terlepas dari lubang anusku.

Setelah kira kira 2 menit, lalu dengan tiba-tiba, dia keluarkan lidahnya dan langsung menghisap lubang anusku sekeras kerasnya. Seketika itu pula aku berteriak. Kejang badanku seketika, rasanya aku hampir orgasme saat itu. Cara itu diulanginya lagi beberapa kali sampai aku berkata..

“Udah Del.. Gua nggak tahan nih..”

Tubuhku kembali dibaliknya dan dia langsung menjilat kepala penisku, lidahnya bermain di belahan kepala penisku, disapunya seluruh permukaan kepala penisku lalu perlahan dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya hingga terlihat Della berusaha keras untuk membuka mulutnya yang mungil agar penisku bisa masuk seluruhnya. Mula-mula sedikit, dikeluarkannya, lalu dimasukkan lagi semakin lama semakin dalam sampai terasa di ujung tenggorokannya, kadang dia agak tersedak, tapi belum masuk semuanya. Dengan kocokan mulutnya yang maju mundur dan kepala yang berputar putar semakin cepat, akhirnya..

“Del.. Gua mau keluar nih..” Kocokannya makin dipercepat. Akhirnya spermaku keluar di dalam mulutnya.
“Jangan ditelan semuanya!” kataku.

Kutarik kepalanya lalu kucium bibirnya, kusedot spermaku yang ada di mulutnya, lalu lidah kami bermain-main dengan spermaku cukup lama sampai bibir dan muka kami berdua belepotan sperma.

Jam menunjukkan pukul 3:30 pagi. Nafasku memburu berbaring keenakan sambil Della kembali mengulum penisku yang mulai mengecil.

“Aah, Del.. Ngilu nih..” teriakku.
“Gila nih kontol, kok ada ya yang kaya gini..” katanya sambil terus menjilati kepala penisku.
“Sini dong memek lu, gua mau jilatin..” pintaku.
“Hari ini gua bermaksud untuk ujian doang, nggak ada maksud buat ngewe, jadi gua mau minta hasil ujiannya sekarang, lulus nggak gua..” ujarnya sambil digigitnya penisku ringan.
“Curang lu, emang lu pikir gua bisa cukup puas cuma gua doang yang keluar” aku protes.
“Itu hukuman buat yang punya kontol kaya lu, lagian gua masih ragu, bisa nggak kontol lu masuk ke memek gua, soalnya punya laki sama cowok gua masih di bawah ukuran standar, lagian gua takut minta nambah he he he he.., ntar kalau gua minta nambah, lu nggak sempet sama Vivi lho..” ujarnya.
“Kan mau sama-sama, kata Vivi..”
“Sapa takut, sama gua aja lu udah kelojotan, apa lagi ditambah sama Vivi..”

“Ratih juga mau tuh..” kataku sekenanya.
“Emangnya dia juga tadi liat kontol lu waktu gua isep sebentar..”
“Undang Dino juga nggak..?” tanyaku.
“Kontolnya kecil, makanya Vivi lagi cari yang gede..” ujarnya.
“Ntar gua cariin yang lebih gede dari gua punya deh..”
“Botol bir aja sekalian. Udahan, pulang yuk.., jadi gimana nilai gue..?” tanyanya.
“Summa Cum Laude, buat mulut sama lidah lu kalau kaya tadi, nggak bakalan gampang cari gantinya deh.., tapi belum tau goyangan memek lu ya, belum bisa kasih nilai..” kataku seakan menantang.
“Kapan-kapan ujian lagi ya, soalnya gua juga penasaran sama kontol lu, musti sering praktek supaya bisa masuk ke mulut gua semuanya..” ujarnya.
“Emangnya kontol gua mau dibuat latihan.. Yuk, pulang..” kataku.

“Kalo dengar cerita lu, nggak nyangka lu hebat gitu kaya tadi.. Atau memang permainan lu kaya tadi?” tanyaku heran.
“Itu kan yang lu ajarin sama gua, tadi itu pertama kalinya gue kaya gitu, memang gua pengen naklukin lu.. Jadi usaha keras.. Cowok gua nggak mau gua jilat anusnya, kontolnya kecil, udah masuk semua ke mulut gua, masih belum terlalu penuh”

Lalu kami turun dari apartemen, Della mengenakan kaus oblongku. Rasa kecewa masih menyelimuti perasaanku karena baru kali ini aku tidak ‘bekerja’ sama sekali hingga kepuasan diriku berkurang. Sesampai di mobil baru dia mengenakan pakaiannya. Sepanjang perjalanan ke rumahnya di kawasan BGV, penisku tak pernah lepas dari tangannya sambil sesekali kepalanya menunduk untuk kembali menjilati kepada penisku.

Silahkan Klik langsung Di Bawah Ini : 

Bonus PromoNew Member 10%
 qqdomino

Bonus Referral Hingga 20%
 kiukiudomino

CERITA ASIK DEWASA | ANAK GELANDANGAN CANTIK YANG MASIH PERAWAN

ANAK GELANDANGAN CANTIK YANG MASIH PERAWAN



Cerita Asik Dewasa | Anak Gelandangan Cantik Yang Masih Perawan - Cerita ngentot terhot, Nama saya Yossa, usia 30th dan saya bertempat tinggal dekat kampus di magelang. Aku adalah seorang karyawan di sebuah Perusahaan yg bergerak di bidang beverage. Posisiku sudah lumayan tinggi, yaitu sebagai General Manager sehingga aku mendapatkan fasilitas perumahan dan sebuah mobil sedan. Aku masih lajang sehingga sehabis pulang kerja hobiku jalan-jalan cari pengalaman dan refresing.

Waktu itu aku pulang kerja sekitar jam 11 malam, mobilku menabrak seorang anak yg digandeng ibunya sedang menyeberang jalan. Untung saja aku cepat menginjak rem sehingga anak itu lukanya tidak parah hanya sedikit saja dibagian pahanya. Ketika aku tawarkan untuk ke rumah sakit, Ibu itu menolak dan katanya lukanya tidak parah.

“Ya udah bu, sekarang aku antar Ibu pulang, dimana rumah Ibu?”

“Nggak usah den, si Mbok nggak usah diantar”

“Kenapa Mbok, inikan sudah malam, nggak apa-apa Mbok aku antar ya?”

Si mbok ini tidak menjawab pertanyaanku dan hanya menunduk lesu dan ketika dia mau menjawab, dari arah ujung trotoar mencul anak kecil sambil membawa bekicot.

“Ini Mbok bekicotnya, biar luka Mbak Endah cepat sembuh”

Ibu itu menerima bekicot dari gadis itu, memecahnya dibagian ujung dan mengoleskannya diluka gadis yg ternyata namanya Endah. Tp, Setelah selesai mengoleskan, simbok itu mengandeng Endah dan adiknya mau pergi. Sebelum melangkah jauh, aku hadang dan berusaha untuk mengantarnya pulang.

“Simbok mau pulang.., aku antar ya Mbok, kasihan Endah jalannya pincang”

“Ngaak usah den, simbok..”

“Kenapa Mbok, nggak sungkan-sungkan, ini kan sudah malam, kasihan Endah Mbok..”

“Simbok ini nggak punya rumah den, sombok cuma gelandangan”

Aku sempat benggong mendengar jawaban simbok ini, akhirnya aku putuskan untuk mengajaknya ke rumahku walaupun hanya untuk malam ini saja. Terus terang aku kasihan kepada mereka.

“Ya sudah Mbok, kamu dan kedua anakmu itu malam ini boleh tidur dirumahku”

“Tp ndoroo..”

“Sudahlah Mbok, ini juga kan untuk menebus kesalahanku karena menabrak Endah”

Dari informasi yg aku dapatkan didalam mobil selama perjalanan pulangp, simbok ini ternyata ditinggak suaminya saat mengandung adiknya Endah, yg akhirnya aku ketahui namanya Intan. Simbok ini yg ternyata namanya Inem, usianya sekitar 42 tahun, dan anaknya si Endah usianya 14 tahun sedangkan Intan baru 11 tahun. Endah sempat lulus SD, sedangkan Intan hanya sempat menikmati bangku SD kelas 4.

Setelah sampai dirumah, Mbok Inem dan kedua anaknya langsung aku suruh mandi dan makan malam. Ternyata simbok, Endah dan Intan tidak membawa baju ganti sehingga setelah mandi baju yg dipakainya ya tetap yg tadi. Padahal baju yg dipakai ketigany sudah tidak layak untuk dipakai lagi.

Simbok memakai daster yg lusuh dan sobek disana-sini sedangkan Endah dan Intan sama saja lusuh dan penuh jahitan disana sini. Besok yg kebetulan hari minggu, aku memang mempunyai rencana membelikan baju untuk mereka bertiga. Aku memang tipe orang yg nggak bisa melihat ada orang lain menderita. Kata temen-temen sih, aku termasuk orang yg memiliki jiwa sosial yg tinggi.

“Endah dan juga kamu Intan makan yg banyak ya.. biar cepet gede..”

“Inggih Ndoro.., boleh nggak kalau Intan habiskan semuanya, karena Intan sudah 2 hari nggak makan”

“Boleh nduuk.., Intan dan Endah boleh makan sepuasnya disini”

Mulai dari sinilah awal dari petualangan seksku. Setelah acara makan malam selesai, ketiganya aku suruh tidur di kamar belakang. Sekitar jam 1 malam setelah aku selesai nonton acara TV yg membosankan, aku menuju kekamar belakang untuk meneggok keadaan mereka.

Ketika aku masuk kekamar mereka, jantungku langsung berdeguk cepat dan keras saat aku melihat daster Mbok Inem yg tersingkap sampai ke pinggang. Ternyata dibalik daster itu, Mbok inemku ini memiliki paha yg betul-betul mulus dan dibalik Celana dalamnya yg lusuh dan sobek dibagian depannya terlihat dengan jelas jembutnya yg tebal dan hitam. Pikiranku langsung melayg dan pEnisku yg masih perjaka ini langsung berontak.

Setelah agak tenang, tanganku langsung bergerilnya mengelus paha mulus Mbok inemku ini. Setelah puas mengelus pahanya, aku mulai menjilati ujung paha dan berakhir dipangkal pahanya. Aku sempat mau muntah ketika mulai menjilati klitorisnya. Di depan tadi kan aku sudah bilang kalau Celana dalam Mbok ku ini sobek dibagian depan.., jadi clitnya terlihat dengan jelas.

Sedangkan yg bikin aku mau muntah adalah bau Celana dalamnya. Ya.. mungkin sudah berhari-hari tidak dicuci. Setelah sekitar 13 menit aku jilati clitnya dan ternyata Mbok inemku ini tidak ada reaksi.. ya mungkin terlalu capek shingga tidurnya pulas banget, aku mulai keluarkan pEnisku dan mulai aku gesek-gesekkan di clitnya.

Aku tidak berani melapas Celana dalamnya takut dia bangun. Ya.. aku hanya berani mengocok pEnisku sambil memandangi clit dan juga teteknya. Ternyata Mbok inemku ini tidak memakai BH sehingga puting payudaranya sempat menonjol di balik dasternya. Aku tidak berani untuk memeras teteknya karena takut Mbok Inem akan bangun.

Sedang asyik-asyiknya aku mengocok pEnisku, si Endah bangun dan melihat ke arahku. Endah sempat mau teriak dan untung saja aku cepat menutup mulutnya dan memimta Endah untuk diam. Setelah Endah diam, berhubung aku sudah tanggung, terus saja aku kocok pEnisku. Endah yg masih terduduk lemas karena ngantuk, tetap saja melihat tangan kiriku yg mengocok pEnisku dan tangan kananku mengusap-usap paha mulus ibunya.

Sambil melakukan aktivitasku, aku pandangi si Endah, gadis kecil yg benar-benar polos, dan aku lihat sesekali Endah melihat mataku terus berpindah ke paha ibunya yg sedang aku elus-elus berulangkali. Setelah sekitar 8 menit berlalu, aku tidak tahan lagi, dan akhirnya “.. croot.. crrott.. croot..” ada 6 kali aku menembakkan pejuhku ke arah clit Mbok inemku ini.

Saat aku keluarkan pejuhku, si Endah menutup matanya sambil memeluk kedua kakinya. Pada saat itulah aku tanpa sengaja melihat pangkal pahanya dan ternyata.., Endahku ini tidak memakai celana dalam. Saat aku sedang melihat memeknya Endah, dia bilang.

“Ndoro.. kenapa pipis di memeknya simbok”. aku sendiri sempat kaget mendengarnya

“Nduuk.. itu biar ibumu tidur nyenyak..”

“Ndoroo.. Endah kedingingan.., Endah mau pipis.. tp Endah takut ke kamar mandi..”

“Ya.. sudah Nduk.. ayo aku antar ke kamar mandi”

Endah kemudian aku ajak pipis ke toilet di kamar tidurku. Aku sendiri juga pengen pipis, terus Endah aku suruh jongkok didepanku. Endah kemudian mengangkat roknya dan.. suur.. banyak sekali air seni yg keluar dari memeknya. Aku sendiri hanya sedikit sekali kencingku. Setelah acara pipisnya selesai, Endah aku gendong dan aku dudukkan di pinggir ranjangku. Lalu aku peluk dan aku belai lembut rambut panjangnya yg sampai ke pinggang.

“Ndoro.. Endah belum cebok.. nanti memeknya Endah bau lho.. Ndoro..”

“Nggak apa-apa Nduk.. biar nanti Ndoro yg bersihin memeknya Endah.. Endah bobok disini ya.. sama ndoromu ini..”

Kemudian Endah aku angkat dan mulai aku baringkan di ranjang empukku ini. Tangganku mulai aktif membelai rambutnya, pipinya, bibirnya.. dan juga payudaranya yg lumayan montok. Pada saat tanganku mengelus pahanya.

“Ndoro.. kenapa mengusap-usap kaki Endah yg lecet..”

“Oh iya Nduk.. Ndoro lupa..”

Tahu sendirilah, aku memang benar-benar sudah horny untuk mencicipi Endah, gadis kecilku ini. Baygkan pembaca, disebelahku ada gadis 14 tahun yg begitu polos, dan dia diam saja ketika tanganku mengelus-elus seluruh tubuhnya.

Kemudian aku jongkok diantara kakinya dan mulailah aku singkap rok yg dipakai Endah sampai ke pinggang. Sekarang terpampanglah dihadapanku seorang gadis kecil usia 14 tahun denga bibir kemaluan yg masih belum ditumbuhi bulu.

Setelah pahanya aku kangkangkan, terpangpanglah segaris bibir memek yg dikanan-kirinya agak mengelembung.., eh maksudku tembem. Dengan jari telunjuk dan Ibu jari aku berusaha untuk menguak isi didalamnya. Dan ternyata.. isinya merah muda, basah karena ada sisa pipisnya yg tadi itu lho dan juga agak mengkilap.

Tangankupun mulai mengelus memek keperawanannya, dan sesekali aku pijit, pelintir dan aku tarik-tarik clitorisnya. Ake sendiri heran clitnya Endahku ini ukurannya nggak kalah sama ibunya.

“Aduuh.. Ndoro.. memeknya Endah diapain.. Ndoro..”

“Tenang Nduk.. nggak apa-apa.. Ndoro mau nyembuhin luka kamu kok.. Endah diam saja yaa..”

“Inggiih.. Ndoro..”

Setelah Endah tenang, akupun mulai menjilati memeknya dan memang ada rasa dan bau pipisnya Endah.

Ingin Daftar Permainan Games Judi Online Silahkan Saja Klik Dibawah Ini :


“Ndoro.. jangaan.. Endah malu ndoroo.. memek Endah kan bau..”

Aku bahkan sempat memasukkan jariku ke liang perawannya dan mulai aku kocok-kocok dengan pelan. Endahpun mulai menggelinjang dan mengangkat-angkat pantatnya.

Aku pun mulai menyedot memeknya Endah dengan kuat dan aku lihat Endah menggigit bibir bawahnya sambil kepalanya digoyg kekanan kiri.

“Ndoroo.. geli Ndoro.. memeknya Endah diapain sih ndoroo..”

Akupun tidak peduli dengan keadaan Endah yg kakinya menendang-nendang dan tangannya mencengkeram seprei ranjangku sampai sobek disana sini. Dan akhirnya.

“Ndoroo.. sudah Ndoro.. Endah mau pii.. piis dulu Ndoro..”

Dan tidak lama kemudian “Ssuur.. suur.. suur..”

Banyak sekali cairan hangatnya membanjiri mulutku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menelan semua cairan memeknya yg mungkin baru pertama kali ini dikeluarkannya.

Setelah kujilati dan kuhisap sampai bersih, akupun tiduran disebelahnya dan kurangkul Endahku ini.

“Ndoro.. maafin Endah ya.. Endah tadi pipis di mulutnya Ndoro.. pipis Endah bau ya Ndoro..”

“Nggak apa-apa Nduk.. tp Endah harus dihukum.. karena udah pipis dimulut Ndoro..”

“Endah mau dihukum apa saja Ndoro.. asalkan Ndoro nggak marahin Endah..”

“Hukumannya, Endah gantian minum pipisnya Ndoro.. mau nggak..”

“Iya Ndoro..”

Akhirnya aku keluarkan pEnisku yg sudah tegang. Begitu pEnisku sudah aku keluarkan dari celana dalamku, Endah yg masih terlalu polos itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Aku lihat wajah Endah agak memerah. Setelah aku lepaskan kedua tangannya, aku sodorkan pEnisku kedepan wajahnya dan aku suruh Endah untuk memegangnya.

“Nduk.. ayo dipegang dan dielus-elus..!

“Inggih Ndoro.. tp Endah malu Ndoro.. Endah takut Ndoro..”

“Nggak apa-apa Nduk.. ini nggak nggigit kok.. ini namanya pEnis Nduk..”

Kemudian gadis kecilku ini mulai memegang, mengurut, meremas dan kadang-kadang diurut.

“Nduk.. pEnisnya ndoromu ini diemut ya..”

“Tp Ndoro.. Endah takut Ndoro.. Endah jijik Ndoro..”

“Nggak apa-apa Nduk.. diemut saja seperti saat Endah ngemut es krim.. ayo nanti Endah Ndoro kasih es krim.. mau ya..”

“Benar Ndoro.. nanti Endah dikasih es krim..”

“Iya Nduk..”.

Endah pun jongkok diantara pahaku dan mulai memasukkan pEnisku ke mulutnya yg mungil. Agak susah sih, bahkan kadang-kadang pEnisku mengenai giginya.

“Nah gitu nduuk.. diisep ya.. yaa.. ya gituu.. nduuk..”

Sambil Endah mengoral pEnisku, kaos lusuhnya Endah pun aku angkat dan aku lepaskan dari tubuh mungilnya. Aku elus-elus teteknya dan kadang aku remas dengan keras.

“Aku gemes banget sih sama payudaranya yg bentuknya agak meruncing itu”

Sekitar 12 menit kemudian, aku rasakan pEnisku sudah berdenyut-denyut. Aku tarik kepala Endah dan aku kocok pEnisku dimulut mungilnya.. dan.. aku tekan sampai menyentuh kerongkongannya dan akhirnya,

“.. croot.. croot.. croot.. cruut..!”

Cairan pejuhku sebagian besar tertelan oleh Endah dan hanya sedikit yg menetes keluar dari mulutnya.

“Ndoroo.. pipisnya banyak banget.. Endah sampai mau muntah..”

“He.. eh.. nduuk.. tp enak kan.. pipisnya Ndoro..”

“Inggih Ndoro.. pipis Ndoro kental banget.. Endah sampai nggak bisa telan.. agak amis Ndoro..”

Aku memang termasuk laki-laki yg suka merawat tubuhku. Hampir setiap hari aku fitnes. Menuku setiap hari: susu khusus lelaki, madu, 6 butir telur mentah, dan juga suplemen protein produk Amerika. Jadi ya wajar kalau spermaku kental dan agak amis.

Kemudian aku peluk bidadariku kecilku ini dan sesuai janjiku dia aku kasih es krim rasa vanilla. Setelah habis Endah memakan es krimnya, dia aku telentangkan lagi diranjangku. Terus aku kangkangkan lagi pahanya dan aku mulai lagi menjilati memek tembemnya. terus terang saja aku penasaran sebelum membobol selaput daranya.

“Ndoro.. mau ngapain lagi.. nanti Endah pipis lagi lho Ndoro..”

“Nggak apa-apa Nduk.. pipis lagi aja Nduk.. Endah mau lagi khan es krim..”

“Mau Ndoro..”

Setelah aku siap, pahanya aku kangkangkan lagi lebih lebar, dan aku mulai memasukkan kepala pEnisku ke lubang surgawinya. Baru masuk sedikit, Endahku meringgis.

“Ndoro.. memek Endah diapain.. kok sakit..”

Aku sempat tarik ulur pEnisku di liang memeknya. Dan setelah kurasa mantap, aku tekan dengan keras. Aku rasakan ujung pEnisku merobek selaput tipis, yg aku yakin itu adalah selaput daranya.

“Ndoorroo.. sakiit..” Langsung aku peluk Endah, kuciumi wajah dan bibir mungilnya.

“Nggak apa-apa Nduk.. nanti enak kok.. Endah tenang saja ya..”

Setelah kudiamkan beberapa saat, aku mulai lagi memompa memeknya dan aku lihat masih meringis sambil menggigit bibir bawahnya.

“Oohh.. ahh.. auuhh.. geli Ndoro.. ahh..” itulah yg keluar dari mulutnya Endah.

“Auuhh.. oohh.., Ndoro.., periih.., aahh.. gelii Ndoro.. aahh..,”

SAmbil aku terus meusuk-nusuk memeknya, aku selalu perhatikan wajah imutnya Endah. Sungguh pemandangan yg luar biasa. Wajahnya memerah, bibirnyapun kadang-kadang menggigit bibir bawahnya dan kalau aku lihatnya matanya terkadang hanya terlihat putihnya saja. Kedua kaki Endah pun sudah tidak beraturan menendang kesana-kesini dan juga kedua tangannya menarik-narik seprei kasurku hingga terlepas dari kaitannya.

“Auuhh.. oohh.., ndoroo.., aahh.. ooh.. aahh, ndoroo..”.

Aku mulai rasakan ada denyutan-denyutan vaginanya di pEnisku, pertanda Endahku sebentar lagi orgasme. Kepala Endah pun mulai menengadah ke atas dan kadang-kadang badannya melengkung. Sungguh pemandangan yg sensasional, gadis 14 tahun yg masih begitu polos, tubuhnya mengelinjang dengan desahan-desahan yg betul-betul erotis. Aku yakin para pembaca setuju dengan pendapatku, tp tangannya pembaca kok megang-megang “itu” nya sendiri, hayo udah terangsang ya. Aku tahu kok, nggak usah malu-malu, terusin aja sambil membaca ceritaku ini.

“Oohh.. ahh.. auuhh.. geli ndoroo.. ahh..”

“Ndoroo.. Endah mau pipiiss.. ndoroo..”

“Seerr.. suurr.. suurr.., pEnisku seperti disiram air hangat..”

Aku peluk sebentar Endahku untuk memberikan kesempatan gadis kecilku menuntaskan orgamesme. Setelah agak reda, aku lumat-lumat bibir mungilnya.

“Maapin Endah ya Ndoro.. Endah pipis dikasurnya Ndoro..”

“Endah malu Ndoro.. udah gede masih ngompol di kasur..”

“Nggak apa-apa Nduk.. (lugu sekali gadisku ini).. Ndoro juga mau pipis di kasur kok..”

Aku sendiri sudah nggak tahan. Kakinya aku angkat, lalu kuletakkan di pundakku. Dengan posisi ini kurasakan pEnisku menyentuh dinding rahimnya. Memeknya jadi becek banget, dan aku mulai mempercepat sodokan pEnisku.

“Ndooro.. Endah capek.. Endah mau bobok.. ndooroo..”

“Iya nduuk.. Endah bobok saja yaa..”

“Memeek Endah periih.. ndooroo..”

Kutekan keras-keras pEnisku ke liang kenikmatannya dan kutarik pantatnya dan “croot.. cruut.. croot.. croot.. cruut.. croot..!”. Aku muntahkan pejuhku kedalam rahimnya.

Aku cabut pEnisku dari memek tembemnya, terlihat lendir putih bercampur dengan darah segar mengalir keluar dari liang kemaluannya.

“Ndoro.., kenapa Ndoro pipis diperutnya Endah.., perut Endah jadi hangat Ndoro..”

“Iya nduuk.., biar kamu nggak kedinginan.., ayo sekarang Endah bobok ya.., sini Ndoro kelonin..”

“Inggih Ndoro.., sekarang Endah capek.., Endah pengen bobok..”

Aku perhatikan memeknya sudah mulai melebar dan agak membelah dibandingkan sebelum aku perawanin. Aku peluk dia dan aku cium dengan mesra Endah, si gadis kecilku. Aku dan Endahpun akhirnya tertidur dengan pulas. Nikmaat.

Silahkan Klik langsung Di Bawah Ini : 

Bonus PromoNew Member 10%
 qqdomino

Bonus Referral Hingga 20%
 kiukiudomino

CERITA ASIK DEWASA | TERBARU MERANGSANG TUBUH APOTEKER

TERBARU MERANGSANG TUBUH APOTEKER



Cerita Asik Dewasa Terbaru Merangsang Tubuh Apoteker - Cerita Ngentot Terhot, Aku pulang dari Balikpapan setelah berada di sana selama tiga minggu untuk urusan kantor. Aku tidak dapat pesawat yang langsung ke Jakarta, jadi terpaksa naik pesawat terakhir yang transit di Surabaya. Karena badan terasa lelah sekali, begitu pesawat take off aku langsung tertidur lelap dengan melepas seat belt agar lebih nyaman. Aku sudah tidak peduli dengan penumpang di sampingku. Seorang wanita berumur tiga puluhan. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara halus. “Pak, sandarannya ditegakkan dan sabuknya dipasang. Sudah mau landing”

Ternyata suara pramugari mengingatkanku. Aku setengah terkejut dan kesadaranku masih belum pulih ketika roda pesawat sudah menyentuh landasan. Setelah pesawat berhenti baru aku sadar sepenuhnya. Kemudian awak kabin mengumumkan pesawat akan transit selama 45 menit dan penumpang dipersilakan untuk turun menunggu di ruang tunggu bandara Juanda.

Karena aku duduk di dekat jendela, maka aku menunggu wanita tadi keluar dari bangkunya. Aku mengikuti barisan penumpang yang turun dan tak lama aku sudah berada di ruang tunggu. Wanita tadi duduk di depanku agak ke menyamping ke kanan.

Aku berdiri sebentar dan merentangkan tanganku agar otot-ototku relaks, lalu duduk lagi. Wanita tadi memperhatikanku sekilas. Kulempar senyum dan iapun membalas sekedarnya. Kacamata tipis, mungkin minus satu atau paling banter minus dua bertengger di hidungnya yang bagus.

Kubaca Matra Edisi Khusus yang kubeli di book store. Liputannya tentang kehidupan malam sepanjang Bopunjur. Tahu Bopunjur? Bogor, Puncak, Cianjur. Kubuka-buka sebentar dan sekilas isinya aku sudah tahu. Bahkan bukan sombong, tempat-tempat yang disebutkan di dalam liputan itupun bukanlah sesuatu yang asing bagiku. Akhirnya kuletakkan Matra tadi di atas meja di sampingku. Wanita tadi sekilas memperhatikan covernya.

“Mas, boleh pinjam majalahnya?” ia bertanya sambil mendekat mengambil Matra tadi.

Sayang, rupanya tempat duduknya kemudian diambil orang yang berdiri dan mengobrol dengan teman yang duduk di sebelah wanita tadi. Kuturunkan tasku dari bangku di sampingku dan tanpa disuruh wanita tadi sudah duduk di situ dan mulai membuka lembaran majalah yang dipegangnya.

Terdengar pengumuman bahwa pesawat yang kunaiki mengalami gangguan teknis sehingga pemberangkatan ditunda satu jam. Kudengar gerutuan sebagian penumpang. Wanita tadi cuma memiringkan kepalanya memperhatikan pengumuman tadi dan setelah itu ia kembali asyik membaca.

Setelah tiga puluh menit membaca, ia menyerahkan majalah itu kembali padaku sambil mengucapkan terima kasih. Aku memulai percakapan.

“Ke Jakarta?” tanyaku.

“Iya, untuk tugas dari kantor,” jawabnya.

“Di Jakarta tinggal di mana?” tanyaku lagi.

“Belum tahu, sebenarnya saya harus ke Ciawi untuk ikut kursus, tapi nampaknya kita akan kemalaman tiba di Cengkareng. Aku sendiri belum hafal Kota Jakarta. Apalagi malam hari. Tadi kalau berangkat siang sih sebenarnya ada panitia yang jemput. Mau langsung ke Ciawi agak ngeri, apalagi setelah membaca liputan tadi”.

Dari logatnya aku menduga ia berasal dari Banjar. Setelah kutanyakan kepadanya ternyata benar dan ia sudah bekerja di Balikpapan selama lima tahun. Aku tidak menanyakan statusnya. Buat apa pikirku. Toh aku tidak berniat memacarinya.

“Kerja di mana sih?” Pertanyaanku mulai menjurus hal-hal yang personal.

“Saya apoteker”.

“Pantas bajunya bau obat,” aku kelepasan bicara. Aku baru sadar setelahnya. Ia melengos mukanya memerah, mungkin tersinggung dengan ucapanku tadi.

Satu jam berlalu dan kulihat ia menjadi gelisah sambil terus-menerus memandang keluar, ke arah landasan. Akhirnya setelah seperempat jam kemudian pesawat kami sudah siap melanjutkan penerbangan dan para penumpangpun naik ke pesawat.

Lima puluh menit kemudian pesawat sudah tiba di Cengkareng. Karena tidak bawa bagasi, aku bergegas keluar. Wanita tadi masih menunggu tas satunya di bagasi. Aku masih berdiri di luar sambil cari-cari taksi ketika wanita tadi mendekatiku.

“Mas pulangnya kemana?”

“Saya tinggal di Jakarta Timur”.

Dia kelihatan ragu hendak mengatakan sesuatu. Aku menduga-duga ini ada kaitannya dengan tujuan kepergiannya.

“Kalau mau begini saja. Mbak nginap saja di hotel, besok pagi baru berangkat ke Ciawi. Lebih aman,” kataku menyarankan. Kulihat dia ragu-ragu dan kelihatan seperti sosok yang lemah. Dia menatapku lagi seakan-akan minta perlindungan.

“OK, jadi begini, Mbak nginap di hotel. Saya akan temani. Eh.. Maksudnya saya ambil kamar satu juga di sana. Besok pagi saya antar ke Ciawi. Kebetulan saya masih ada kelebihan hari perjalanan dinas,” kataku memutuskan.

Akhirnya dia setuju dan mukanya menjadi cerah.

“Oh ya maaf, dari tadi kita belum kenalan. Saya Monna,” katanya sambil mengulurkan tangan.

“Kevin,” kataku sambil kujabat tangannya.

Aku berpikir, kalau saja dia tidak memerlukan pertolonganku, mungkin dia tidak akan mengajak berkenalan. Tapi wajar saja karena dia perempuan.

Beberapa menit kemudian kami sudah sampai di sebuah hotel di kawasan Matraman. Kami dapat kamar bersebelahan. Kami masing-masing masuk ke kamar dan berjanji untuk makan di bawah setelah mandi dan merapikan diri. Setengah jam kemudian kuketuk pintu kamarnya. Tok tok tok.

“Monna.. Monna. Ini Kevin”.

“Tunggu sebentar Mas”.

Tak lama kemudian ia membuka pintu kamarnya. Kulihat sekilas barangnya masih berantakan di atas ranjang. Kamipun segera turun ke bawah untuk mencari makanan. Dengan pertimbangan biaya kuajak dia untuk makan di warung tenda saja. Di Jakarta tidak ada tempat untuk gengsi.

“Saya dari Balikpapan kepingin makan gudeg setelah sampai di Jawa,” katanya.

“Ada, nanti kita cari,” jawabku sambil menyusuri trotoar.

Jalan sudah mulai lancar, kupegang tangan kanannya. Ia terkejut dan dengan halus menarik tangannya. Sekilas kulihat jarum pendek sudah melewati angka sembilan.

“Sorry.. Saya hanya mau lihat jam saja kok”. Ia hanya menunduk dan kamipun terus berjalan.

Setelah makan gudeg, kami kembali ke hotel dan duduk di lobby. Rasa penat masih terasa di badanku. Aku sebenarnya mau massage, tapi nggak enak sama Monna. Kami masih bicara ke sana ke mari, sampai akhirnya kami merasa mengantuk. Kulihat jam dinding menunjukkan jam setengah sebelas.

Kami naik dan kuantar dia di depan kamarnya. Kuharap dia mempersilakanku masuk, namun Monna hanya mengucapkan terima kasih kemudian selamat malam dan menutup pintunya. Sekilas kulihat sorot matanya yang berbinar memandangku.

Aku masuk ke kamar dan langsung membaringkan diri ke atas ranjang tanpa membuka pakaianku. Kucoba untuk memejamkan mata, tetapi tidak bisa. Kubayangkan Monna yang tidur sendirian di kamar sebelah. Lebih satu jam aku hanya bergolek ke kanan kekiri tanpa bisa memejamkan mata.

Akhirnya kuputuskan kuhubungi saja gadis di kamar sebelah ini. Kuraih gagang telepon dan kutekan nomor kamarnya, 237. Setelah beberapa kali berdering kemudian dari seberang terdengar suara agak serak,

Ingin Daftar Permainan Games Judi Online Silahkan Saja Klik Dibawah Ini :


“Hallo”.

“Monna, belum tidur kan?”

“Eh.. Mas Kevin. Belum Mas, mataku tidak bisa terpejam. Padahal di lobby tadi sudah menguap terus. Mikirin besok pagi”.

“Atau lagi mikirin yang lainnya kali,” kataku menggodanya.

“Ahh Mas Kevin ini ada-ada saja”.

“Kita ngobrol lagi aja yuk,” ajakku.

“Sudah malam, nggak enak dilihatin orang nanti”.

“Ini Jakarta Non, saya ke kamarmu ya?” kataku dengan nada setengah memaksa.

“Iya deh,” katanya lemah.

Kuketok pintu kamarnya tiga kali dan kemudian pintu dibuka dari dalam. Aku masuk, kini barangnya gantian berantakan di atas kursi.

“Maaf Mas, berantakan. Belum sempat beresin. Rencananya besok aja sekalian berkemas. Duduk, Mas!”.

Aku mengedarkan pandanganku. Karena sudah tidak ada tempat duduk lagi maka aku duduk diatas ranjangnya. Kami akhirnya ngobrol tentang pengalaman kami masing-masing saat masih kuliah. Semakin lama semakin seru topik obrolan kami. Ia mengeluarkan dua kaleng minuman ringan dari mini bar. Dan meletakkannya di antara kami.

“Diminum Mas”.

Aku mengambil satu kaleng tapi tidak kubuka, hanya kupegang-pegang saja. Entah bagaimana awalnya, tangannya tiba-tiba sudah kupegang dan kutarik dia ke pangkuanku. Kucium bibirnya dengan ganas. Monna menghindari ciumanku, tapi aku tidak menyerah. Kucoba lagi, kali ini bibirku mendarat pas pada bibirnya. Ia meronta sebentar tapi kemudian ia membalas ciumanku dengan tidak kalah ganasnya.

“Mas.. Ah.. Ehh .. Ouhh,” Ia gelagapan membalas seranganku.

Kulepaskan seranganku sebentar karena aku merasa jalan tol sudah terbuka di depanku, sekarang tinggal tunggu saat yang tepat saja untuk memacu mobilku. Kutatap dia dengan tajam. Ia kelihatan jengah dan menghindari tatapanku. Ketika mata kami saling bertemu, aku memberi isyarat dengan menganggukkan kepalaku. Iapun mengangguk malu dan menundukkan mukanya.

Aku sedikit terkejut ketika sadar bahwa ia tidak mengenakan bra di bawah kausnya. Aku tahu karena putingnya menonjol, membentuk bayangan satu titik di kausnya. Aku tersenyum sambil melirik pada payudara Monna.

Monna hanya tersenyum melihatku, kakinya ditaruh di atas pahaku dan dia menyodorkan dadanya ke depan mukaku. Tanpa diberi komando aku langsung meremas payudaranya dengan penuh nafsu. Tanganku kemudian membuka kausnya. Aku menciumi payudaranya dan menghisap putingnya yang mulai mengeras. Tangan Monna membelai rambutku sambil sesekali mendorongnya ke payudaranya.

Aku menggunakan jariku untuk membelai daerah selangkangannya, dan jariku juga mulai menekan terutama di lipatan memeknya. Tangan Monna digesek-gesekan di k0nt0lku yang juga sudah mengeras.

“Aah.. Mas ss.. Enak.. Teruss.. Kevin.. Ahh”

Mendengar erangan Monna nafsuku sudah tidak dapat ditahan lagi. Aku merebahkan diri sambil menciumi leher Monna dan naik ke bibirnya. Kubuka celana panjangku. Aku terus menciumnya dengan penuh nafsu, kutindih tubuhnya diatas spring bed yang empuk. Kulirik bayangan di kaca lemari. Badanku yang besar seolah-olah menenggelamkan badannya yang mungil. Sambil mendesah Monna tertawa kegelian,

“Ahh.. Nafsu amat sih..”

Kubuka celana pendeknya dan kutarik sekaligus dengan celana dalamnya.

“Akhh..”

Kami saling mengulum bibir dengan penuh nafsu, nafas kami mulai tidak teratur. Kaki Monna menjepit pinggangku Aku menciumi leher kemudian turun ke payudaranya, lalu aku hisap putingnya. Terus turun dan menghisap pusarnya, Monna tidak tahan diperlakukan demikian,

“Kevin.. Akh.. Geli akh..,”

Aku terus menciuminya lalu aku turun dan saat sampai di depan selangkangannya aku menurunkan kepalaku, menjilati paha dan sesekali menggigitnya. Dia mengganjal kepalanya dengan bantal dan memperhatikanku. Ketika mulutku akan menyapu memeknya ia menarik kepalaku ke atas dan menciumiku kembali.

“Jangan.. Aku tidak biasa..”.

K0nt0lku kuarahkan ke memeknya yang basah, kutekan perlahan dan saat sudah masuk setengahnya aku menekan dengan keras.

“Sshh.. Akhh.. Terus To.. Akh..,” Monna merintih

Bibir kami saling bertautan dengan kuat. Ketika kulepaskan bibirnya yang justru mencari-cari bibirku. Mulutnya setengah terbuka sambil mendesis-desis. Aku menggerakkan k0nt0lku dengan perlahan dan kadang aku percepat temponya. Rasanya k0nt0lku dijepit dan diremas-remas dengan kuat oleh otot memeknya. Dan hal ini membuat aku semakin tidak tahan, k0nt0lku rasanya sudah hampir meledak.

Aku terus memompa k0nt0lku di memeknya dengan tempo yang bertambah cepat. Nafasku mulai memburu. Payudaranya kuremas dan kupencet sehingga putingnya bertambah menonjol. Kujilati putingnya dan kugigit-gigit dengan bibirku. Aku menghnetak-hentakkan tubuh Monna ke ranjang dengan kasar saat aku sudah tidak dapat menahan ledakan k0nt0lku,

“Monnl Monna.. Akh.. Ouch.. Akh..”.

Kurasakan tubuh Monna juga mulai bergetar dan bergerak-gerak dengan irama yang liar. Matanya merem melek, bola matanya memutih. Kakinya menjepit pinggangku. Tubuhku mengejang dan aku menekan tubuh Monna hingga semakin tubuh kami semakin merapat.

“Akh.. Kevin.. Nikmat sekali.. Sss”

“Yeah Monna.. Akh. Kalau saja dari tadi.. Pasti aku..”

“Akh.. Tekan yang cepat dan kuat.. Akh..”

Mata Monna merem melek menikmati sodokan k0nt0lku. Aku kemudian mengangkat kedua kakinya dan memegangnya dengan tanganku. Aku dalam posisi setengah jongkok dengan tumpuan kedua lututku. Tanganku memegang pinggangnya dan k0nt0lku menekan dengan irama yang semakin cepat. Memeknya terasa basah dan becek, namun k0nt0lku bagaikan dijepit kuat dengan tang.

“Akgh Kevin.. Aku hampir.. A a kku.. Hampir keluarhh.. Ouchhggakhh,”

Kurebahkan tubuhku diatas tubuhnya dan kupeluk dengan rapat. Aku menikmati ekspresinya saat Monna menunggu mencapai orgasmenya. Kudiamkan sejenak gerakan k0nt0lku. Monna memprotes dan tangannya memegang pinggangku serta menggerakkannya naik turun. Kurasa tensinya sedikit turun. Aku masih ingin menikmati permainan dan kuharapkan dapat kucapai puncak bersama-sama.

Aku mengehentakkan pantatku naik turun dengan sedikit kasar. Keringat kami sudah mulai bercucuran. Tangan Monna meremas-remas pantatku dan kadang menariknya seolah-oleh k0nt0lku kurang dalam masuk dalam memeknya. Saat aku merasakan hampir meledak aku melambatkan gerakanku dan mengatur nafasku sambil menghisap putingnya, ketika perasaan itu sedikit hilang aku mulai bergerak lagi.

Tangannya meremas pundakku dan dengan liar bibirnya mencari bibirku. Dia mendesah dan gerakannya sangat liar. Aku tahu kini saatnya kami dapat mencapai puncak kenikmatan tertinggi bersama-sama.

“Yeah.. Kevin.. Akhh. Kamu belum mau keluar juga.. Akhh ouchh..”

Monna mengejang dia mengangkat pantat menekan k0nt0lku sehingga rasanya sampai di dasar rahimnya dan k0nt0lku serasa disedot dengan kuat, tubuh Monna melengkung dan tangannya mengusap pipiku dengan kuat. Kutekan pantatku perlahan namun penuh tenaga.

“Yeacchchh..”.

Tubuh kami menggelinjang dengan hebat, kami berteriak dan tidak perduli jika ada orang lain yang mendengarnya.

“Akhh.. To.. Kevin.. Aakkhh..”.

“Monna kamu hebataunhh.. Akh.. Ouchhakhh.. Akh.. Ouch..”

Kami mengelepar menikmati kenikmatan yang kami rasakan bersama. Aku beranjak bangun dari tubuhnya saat k0nt0lku sudah mengecil, Tubuhnya bergetar saat aku mencabut k0nt0lku.

“Kau luar biasa Monn.. Hmm.. Tabat Barito ya!” pujiku.

Ia tersenyum saja dan menggayut di lenganku, “Kok tahu aja sih..”. Katanya manja.

“Apoteker yang punya obat-obatan lengkappun masih mengandalkan Tabat Barito. Luar biasa memang,” kataku lagi.

Kami tidur berpelukan sampai pagi dan paginya kuantarkan dia ke Ciawi. Dia berjanji akan menginap lagi semalam di Jakarta dan memberikan lebih lagi nanti pada saat dia mau pulang ke Balikpapan.

Silahkan Klik langsung Di Bawah Ini : 

Bonus PromoNew Member 10%
 qqdomino

Bonus Referral Hingga 20%
 kiukiudomino

CERITA ASIK DEWASA - BUJUK RAYU SEORANG OFFICER MUDA

BUJUK RAYU SEORANG OFFICER MUDA


Cerita Asik Dewasa - Bujuk Rayu Seorang Officer Muda - Cerita ngentot terhot | Perkenalkan namaku Reni, umurku saat ini 26 tahun, dan aku masih jomblo. Padahal sebagai wanita aku juga tidak jelek dengan wajaku yang manis, tinggiku 165cm, dan juga kalau aku sedang mengaca aku melihat aku juga mempunyai tubuh yang seksi. Namun sampai sekarang aku belum menemukan seorang lakilaki yang cocok dengan kriteriaku, karena ku mempunyai Kriteria yang sangat tinggi, karena kalau setelah menikah aku mau hidup mewah.

Aku bekerja disebuah perusahaan asing yang sedang berkembang diindonesia. Au sudah bekerja kurang lebih 2 tahun diperusahaan itu, dan yang aku ceritakan ini adalah kejadian pertama kali aku merasakan kenikmatan yang aku dapatkan dari bosku yang sangat tampan sekali. Dan sampai sekarang masih aku lakukan karena aku sangat menikmatinya, dan bosku juga mengagumi tubuh molekku dan memekku yang sangat sempit karena aku selalu melakukan perawatan. 

Suatu hari aku disuruh bosku untuk lembur mengerjakan proposal karena keesokan harinya akan digunakan untuk dibahas dirapat. Aku pun menurut dengan perintah bosku karena bosku sendiri juga ikut lembur, jadi sambil bekrja aku bisa memandangi wajah bosku yang tampan. Di sela-sela kesibukan mengetik proposal boss saya untuk besok hari, sesekali saya layangkan pandangan ke ruang tengah yang masih benderang. Di sana terdapat Mr. Maurice (boss saya), Mrs. Elisabeth dari Philipinnes, Bapak Farhan dan Mr. Gregory dari England. Rupanya mereka masih membicarakan rapat untuk besok hari.  

Bapak Farhan katanya baru bercerai dengan istrinya. Heran saya, bagaimana istri tolol itu dapat meninggalkan sang officer muda yang sedemikian tampan dan cerdas. Saya sih mau mau saja menjadi istri pria Sunda itu. Dia terkadang tersenyum pada saya, tapi saya menganggap senyuman ramah dari seorang atasan untuk bawahannya.  

Hhmm.., tampan sekali Mr. Maurice malam itu, Bapak Farhan juga sangat tampan. Kalau Mr. Gregory sudah tua, apalagi dia berjenggot, bikin muak saja. Ha ha ha.. Kadang saya suka membayangkan bercinta dengan Mr. Maurice sampai suka basah sendiri celana dalam saya. Beruntung sekali istrinya yang mendapat suami tampan seperti itu.  

Satu jam berlalu, terlihat Mrs. Elisabeth meninggalkan ruangan untuk pulang. Begitu pula Mr. Gregory. Tinggal Mr. Maurice dan Bapak Farhan yang masih terlihat serius berdiskusi. Proposal yang saya buat pun sudah selesai, sekarang tinggal menge-print-nya. Sambil menunggu selesainya hasil print, saya membuka kancing kemeja. Saya elus-elus sendiri buah dada saya di balik kemeja biru yang saya pakai hari itu. Entah kenapa hari itu libido saya meninggi. Saya pejamkan mata sambil menaikkan kaki saya ke atas meja dan menyelipkan tangan kanan saya ke dalam celana dalam. Ah.., enak sekali…. 

Saya bayangkan Mr. Maurice lah yang sedang mengusap-usap puting payudara dan klitoris saya. Ohh.., nikmat sekali. Sesekali saya masukkan kedua jari ke dalam lubang vagina, dan saya rasakan kontraksi nikmat dari kedua paha. Saya pencet-pencet sendiri ujung puting saya yang menimbulkan saraf-saraf otak saya semakin meninggi. Saya goyangkan pinggul saya di atas kursi untuk mengimbangi kenikmatan masturbasi yang sedang merajai tubuh ini. 

Tiba-tiba saya tersadar bahwa printer telah selesai bekerja, dan saya buka mata untuk melihatnya. Hati saya terperanjat sekali ketika mendapati Mr. Maurice dan Bapak Farhan sedang terpana melihat diri saya. Entah kapan mereka masuk ke dalam ruangan saya. Ah..! Malu sekali rasanya. Wajah saya merah membara dan segera saya rapikan kemeja dan rok pendek saya sambil mengambil proposal yang baru selesai diprint. 

Tiba-tiba Mr. Maurice memeluk dari belakang, dengan tangannya yang kekar dia berusaha menolehkan wajah saya. Bibir saya dilumatnya dengan kasar. Saya tersentak dan berusaha melawan. Pada saat itu juga Bapak Farhan memegangi kedua tangan saya, membuat saya semakin memberontak ketakutan. Saya menjerit minta tolong, tapi saya sadar bahwa hanya kami sendiri yang ada di lantai 8 ini. Security ada di hall bawah tidak akan dapat mendengar jeritan saya.

Mr. Maurice menutupi mulut saya dengan tangannya, dan dengan bantuan Bapak Farhan, mereka menyeret saya ke sofa di ruangan Mr. Maurice. Rontahan saya sia-sia saja. Tangan Bapak Farhan sedemikian keras memegangi pergelangan saya, sampai sakit rasanya. Mr. Maurice kemudian membuka paksa kemeja saya sampai beberapa kancingnya copot, kemudian dia menurunkan BH saya, dan tanpa ragu-ragu melumat puting payudara saya. 

Ingin Daftar Permainan Games Judi Online Silahkan Saja Klik Dibawah Ini :


Oohh.., saya tidak tahu apa yang saya rasakan. Antara rasa marah, kesal, benci, juga rasa nikmat bercampur aduk. Puting saya dipermainkan oleh lidah bulenya yang lebar dan panas. Ah.., membuat saya terpejam-pejam menahan nikmat. Sementara itu mulut saya dicium secara ganas oleh Pak Farhan. 

Pak Farhan kemudian menggunakan kemeja satin saya untuk mengikat kedua pergelangan tangan saya di sofa. Jilatan mulut Mr. Maurice sudah turun sampai ke vagina. Saya meronta-rontakan kaki saya dengan sepenuh tenaga, namun saya tidak berdaya melawan desakan tangannya membuka kedua paha.

Sekarang kedua dengkulnya menindihi kaki saya. Saya lihat dia mulai membuka celana panjangnya. Tidak lama kemudian terbukalah batang kemaluan besar miliknya yang sudah sedemikian tegang dan memerah. Pak Farhan juga sudah mengeluarkan penisnya yang panjang dan besar, dia paksakan senjatanya memasuki mulut saya.

“Pak Farhan..! Jangan Pak..!” saya merintih penuh iba.

Namun Pak Farhan tidak mendengarkan ocehan saya. Batang kemaluannya yang besar segera memenuhi mulut hingga tenggorokan. Agak susah bernapas jadinya. Pantatnya dimaju-mundurkan, membuat mulut saya tersedak-sedak oleh penis panjangnya. Di bagian bawah saya rasakan sebuah benda tumpul yang besar dan panas memasuki vagina dengan paksa. Ouughh..! Besar sekali, agak susah masuknya. Saya sudah tidak dapat menjerit karena mulut saya sibuk dengan batang kemaluan Pak Farhan.

Walaupun saya mencoba terus meronta, namun sebenarnya saya sangat menikmati perbuatan kasar kedua atasan saya itu. Tangan Mr. Maurice memegangi paha saya lebar-lebar dan menancapkan batang besarnya secara cepat dan berulang-ulang. Saya merintih sakit bercampur nikmat setiap kali ujung kemaluannya menyentuh liang peranakan saya.

“Ohh.., oh.. ah..! Ampun Mister.., please stop it..! You hurt me..!” saya berusaha menjerit di antara batang kemaluan Pak Farhan yang keluar masuk mulut saya dengan cepat.
Mereka menikmati posisi itu selama 5 menitan, kemudian Mr. Maurice mengambil inisiatif untuk menunggingkan posisi saya. Tangan saya yang masih terikat di pinggir sofa. Saya agak terpelintir ketika dengan paksa dia menarik pantat saya dalam posisi dogie style. Sekali lagi dia memperkosa dari belakang. Batang kejantanannya terasa lebih besar dengan posisi ini.

Tidak terasa vagina saya menjadi basah karena sebenarnya saya pun menikmati permainan ini. Mulut saya mulai merintih-rintih nikmat.
“Oh God..! Ssshh..! Ahh..! Ooh..! Sshh..!” desah saya tidak ragu lagi.
Saya merasakan kenikmatan yang sangat dengan posisi itu, apalagi Pak Farhan sekarang mengulum puting payudara saya yang tergantung ke bawah sambil meremas-remasnya.

Giginya yang rapi sesekali menggigit halus puting saya, membuat saya serasa di awang-awang.
“Oh Yeaahh.., sshh.. oh..!”
Saya goyang-goyangkan pinggul untuk mengimbangi hempasan pinggul Mr. Maurice. Sesekali dia menampar pantat saya yang menungging ke arahnya dengan keras. Ah..! Nikmat sekali tamparan itu.

Pak Farhan rupanya tidak sabar ingin merasakan lubang kenikmatan saya. Dengan kasar dia membuka ikatan di pergelangan tangan, dan kemudian Mr. Maurice duduk di sofa. Pak Farhan mendorong tubuh saya untuk naik ke pangkuan Mr. Maurice sambil menghadap ke sofa. Sambil mencekram tengkuk saya, Pak Farhan meraih vagina saya dari pantat yang membuat saya dalam posisi menungging. Mr. Maurice di depan dan Pak Farhan di belakang. Saya hanya tersanggah oleh kedua dengkul yang terlipat di atas sofa.

Mereka kemudian memasukkan batang kemaluannya di vagina dan lubang pantat saya.

“Oohh..!” saya menjerit panjang ketika batang kemaluan Pak Farhan memasuki lubang pantat saya dari belakang.

Sakit, tapi saraf-saraf pinggul sangat terangsang oleh tusukannya. Sementara itu penis Mr. Maurice sudah kembali memasuki lubang kemaluan saya. Nikmat sekali rasanya digauli oleh kedua pria ini, baru sekarang inilah saya rasakan dua batang kemaluan memasuki tubuh ini sekaligus dari depan dan belakang.

Mulut Mr. Maurice menghisap-hisap puting payudara saya dengan kasar sambil terus menusukkan penis raksasanya. Pak Farhan menjambak rambut saya dari belakang sambil terus menghela batang kejantanannya keluar masuk lubang pantat. Saya meremas rambut pirang Mr. Maurice karena tidak tahan oleh kenikmatan yang saya rasakan. Dari mulut saya keluar desisan-desisan nikmat. Begitu pula saya dengar deruhan napas pendek dan tidak beraturan dari Pak Farhan yang membuat saya juga semakin bernafsu.

Keduanya menggauli saya dengan semakin cepat dan semakin panas, seperti sedang mengejar sesuatu. Akhirnya pertahanan kemaluan Mr. Maurice pecah, dan kedua tangannya menekan bahu saya ke bawah untuk memaksakan batang penisnya tetap di dalam liang kewanitaan saya ketika air maninya keluar. Oooh.., saya merasakan semprotan air maninya di dalam liang peranakan saya. Mr. Maurice mengerang kuat dengan mata terpejam dan merenggut rambut saya ke kanan dan ke kiri.

Sementara itu Pak Farhan sudah hampir mencapai puncak kenikmatannya! Helaan pantatnya semakin cepat, dan akhirnya ditumpahkan air maninya di dalam pantat saya sambil mengerang dan mencakari punggung ini. Baru kali ini saya merasakan semburan sperma di lubang pantat saya, sungguh nikmat.

Bagian bawah pinggul saya basah kuyup oleh keringat dan air mani kedua pria tampan itu. Pak Farhan menghempaskan dirinya di sofa, di sisi Mr. Maurice yang masih merasakan dirinya berada di langit ketujuh menikmati orgasmenya. Mereka kemudian memeluk dan menciumi saya dengan sangat lembut dan mesra, sambil meminta maaf atas perbuatan mereka itu. Saya pun mengakui kepada mereka bahwa saya sebenarnya sangat menikmati ‘perkosaan’ itu.

Kejadian malam itu tidak berhenti sampai disitu, karena sejak malam itu kami melakukan perbuatan ‘two in one’ itu secara berulang-ulang. Dan saya mulai dijadikan sebagai pemuas dan sarana pelampiasan nafsu mereka. Herannya saya menikmatinya hingga sekarang. Liburan musim panas kemarin, kami menghabiskan satu minggu di Ubud Bali hanya untuk memuaskan nafsu birahi kami bertiga. Itulah pengalaman saya bersama atasan saya di kantor yang berakhir dengan kegiatan yang berjalan dengan rutin.

Silahkan Klik langsung Di Bawah Ini : 

Bonus PromoNew Member 10%
 qqdomino

Bonus Referral Hingga 20%
 kiukiudomino

Facebook

Advertising

Histats